Ikrar (Sumpah) untuk Jujur dalam Ujian Nasional?

Ada usaha bagus dalam mengeliminasi kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) pada tahun 2012 ini berupa sebuah gerakan nasional. Mengapa menjadi gerakan nasional? Karena jelas instruksinya dari pusat melalui kementerian pendidikan, dan beberapa daerah diajukan atau mengajukan diri sebagai daerah percontohannya. Bentuk usaha ini berupa kegiatan ikrar (sumpah) untuk jujur yang ditujukan pada siswa dan guru. Harapannya siswa dan guru jujur, soal tidak bocor (dan jelas jawabannya juga tidak bocor), tidak ada instruksi terselubung dari dinas terkait berupa tim-tim suksesi kelulusan untuk meningkatkan persentase kelulusan mulai tingkat kecamatan hingga propinsi (terjemahan : hal yang negatip), dan… asal tidak terulang kasus Surabaya (anak jujur UN diasingkan).

Bentuk kalimat ikrar (sumpah) untuk jujur dalam ujian nasional belum direlease , apakah seperti bentuk ikrar (sumpah) yang diucapkan oleh pegawai pemerintah (PNS, pegawai negeri sipil), atau anggota dewan, atau pejabat-pejabat pemerintah, hanya dalam bentuk yang berbeda. Efek dari ikrar (sumpah), jangan ditanya, dapat terlihat dari aktivitas atau dalam pelaksanaan tugas-tugas mereka hingga saat ini (maaf).

Sebelum lebih jauh membahas ikrar jujur ujian nasional, alangkah baiknya kita sedikit mengulas makna ikrar (sumpah). Dalam Islam, ikrar (sumpah) memiliki kesatuan makna  yang sering disebut syahadat (syahadatun). Syahadat memiliki tiga makna yaitu ikrar (al i’lan – bahasa Indonesia : Iklan), janji (al wa’du) dan sumpah (al qhasam). Ikrar atau al i’lan adalah bentuk penginformasian kepada orang lain berkenaan dengan aktivitas yang dilakukan oleh orang yang berikrar dalam istilah lain woro-woro atau mengumumkan. Penyampaiannya hanya berupa lisan, konsekuensinya adalah orang hanya melihat zhahirnya saja atau apa adanya yang nampak dan jarang peduli dengan bathinnya. Bila tidak sesuai dengan zhahirnya atau yang nampak, minimal orang akan menyatakan ‘ah bohong’ atau ‘ah cuma bisa ngomong saja’ atau ‘ah, tidak ada bedanya dengan …., hanya omong doang’.

Janji atau al wa’du adalah bentuk pemberian harapan pada orang lain yang mendengar ucapannya untuk pemenuhan sesuatu sesuai dengan apa yang diucapkannya. Contoh: ‘saya janji akan mengembalikan buku dua hari lagi’ , memiliki maksud bahwa agar orang yang memberikan pinjaman buku padanya yakin akan apa yang dijanjikannya untuk mengembalikan buku pinjaman tersebut sesuai dengan ucapannya yaitu dikembalikan dua hari lagi. Bila ternyata lebih dari dua hari maka yang berjanji tadi disebut ingkar janji. Dalam Islam, orang yang ingkar janji dicirikan sebagai seorang yang munafik, karena sudah berdusta apa yang ia janjikan.

Sumpah atau al qhasam yaitu sesuatu yang diucapkan berkenaan dengan dirinya dan apa yang akan dilakukan untuk melaksanakan sesuatu tersebut dengan segala resiko yang harus dihadapi, bahkan resiko terburuk bila ia membatalkan atau tidak dapat memenuhinya. Kalimat sumpah ini lebih berat lagi konsekuensinya daripada ikrar atau janji. Kalimat sumpah ini, biasanya melibatkan sesuatu sebagai gantungannya, seperti Demi Tuhan, atau Demi Allah, atau Wallahi. Dalam Islam tidak boleh bersumpah dengan menggunakan nama selain Allah, seperti demi langit, demi jagat yang menaungi, dan sebagainya. Di Indonesia ada lagi sumpah yang aneh, yaitu sumpah pocong yang dalam ritualnya menggunakan ritual seperti ajaran Islam, padahal dalam Islam tidak ada sumpah pocong. Kalau seseorang melanggar sumpah, dianggap keluar dari lingkungan tempat tujuan bersumpahnya. Contoh PNS melanggar sumpah jabatannya maka terkena sanksi jabatan hingga dikeluarkan dari lingkungan PNS, seorang muslim melanggar sumpahnya sebagai seorang muslim sering disebut dengan murtad alias keluar dari agamanya (lebih serem…lagi). Dalam masyarakat umum, seorang yang melanggar sumpah yang diucapkan berkenaan sesuatu  maka ia akan dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang akan menimpa dirinya, yang sering disebut termakan sumpah (bahasa Jawa : kualat).

Kembali ke dalam ikrar (sumpah) bagi pelajar (dan atau guru) untuk jujur dalam ujian nasional, merupakan bentuk yang baru dan terbilang janggal. Seolah siswalah sebagai subjek pelaku ketidak jujuran dalam pelaksanaan ujian nasional, tanpa melihat akar permasalahannya yang sesungguhnya, dan tanpa melihat hal-hal yang melatar belakangi permasalahan kecurangan dalam ujian nasional. Siswa terlalu banyak dibebani target-target secara tidak langsung dari Kepala Daerah, Kepala Dinas yang terkait, Kepala Sekolah dengan tim suksesnya, belum lagi harapan-harapan dari orangtua mereka. Di lapangan sering didengungkan adanya kebocoran soal, kebocoran jawaban, (isu) pengubahan jawaban oleh tim sukses, transaksi jawaban via alat komunikasi, dan sebagainya. Sekali lagi yang menjadi korban secara umum adalah siswa dan siswa lagi. Banyak siswa yang jujur ikut terkena getah permasalahan ruwet ini. Mereka tanpa perlu ikut ikrarpun tetap jujur, justru kepala daerah, dinas pendidikan, sekolah lah yang harus jujur. Apa susahnya jujur, tanpa melakukan sebuah ikrar (sumpah) untuk jujur. Jujur bahwa yang terjadi karena untuk popularitas politis kepala daerah, jujur bahwa yang terjadi karena takut tingkat keberhasilan pembinaan sekolah-sekolah dikatakan gagal, jujur bahwa yang terjadi karena takut popularitas dan kredibilitas sekolah turun sehingga dianggap gagal dalam mengelola sekolah, jujur bahwa yang terjadi guru takut nilai kredit kinerjanya anjlok, jujur bahwa tingkat keberhasilan ujian nasional ini berhubungan dengan nilai rupiah yang akan digelontor, jujur bahwa kecurangan ini dilakukan secara sistematis dan berjamaah….

Dan selain ikrar (sumpah) jujur ujian nasional, diinginkan bangsa ini adalah bahwa ujian nasional bukan satu-satunya instrumen sebuah kelulusan siswa dari lembaga pendidikan, masih banyak lagi yang harus dibenahi, artinya sebuah perubahan. Sebagai contohnya bagaimana nilai perilaku juga dapat masuk dalam salah satu faktor kelulusan sebuah pendidikan formal karena ia akan mewarnai aktivitas selanjutnya termasuk masalah kejujuran. Bagaimana juga nilai kompetensi ketrampilan mata pelajaran masuk dalam penilaian, sehingga mereka yang lulus tidak hanya pintar saja tapi terampil dalam mata pelajaran. Negeri ini sekarang membutuhkan generasi-generasi yang pintar, jujur, dan terampil serta berorientasi pada ketuhanan. Jujur adalah sebuah keniscayaan, tetapi ikrar jujur ujian nasional justru dipertanyakan.

(Goespri,29-3-12)