Menangislah…

Setiap yang ada mata pasti bisa menangis. Menangis tidak identik dengan kesedihan, tetapi bisa juga berhubungan dengan sebuah kegembiraan, atau bahkan sebuah kelucuan. Bayangkan saja seseorang tiba-tiba mendapat hadiah uang dengan jumlah yang di luar perkiraannya, atau seorang mahasiswa abadi pada akhir perjalanannya lulus dengan sempurna, atau seorang gadis mendengarkan kata-kata ucapan akad nikah yang diucapkan seorang laki-laki pilihannya. Pasti sepasang mata yang ada pada mereka akan mengalirkan airmata…airmata kebahagiaan…, menangis dengan tangisan kebahagiaan. Begitu juga para penonton sebuah suguhan lawakan atau pemain lawakan sendiri yang tidak bisa menahan tawa akibat ulah teman main lawakannya berlaku berlebihan dalam akting lawaknya, tertawa terbahak-bahak…hingga tidak terasa airmata mengalir, dan ini bukan menangis sedih (bisa jadi syaraf tangis tersenggol syaraf ketawa…’sok tahu’).

Apalagi bila seseorang disuguhkan dengan tayangan kesedihan, kepiluan, kisah perjuangan hidup dalam himpitan kemiskinan, atau berhadapan langsung dengan sesuatu yang dapat menggugah perasaan sehingga tersentuh, dan akhirnya tidak terasa mata mengeluarkan airmata…, sebuah tangisan emphati. Bayangkan bila ada tampilan demikian, tapi orang tidak tersentuh apalagi mengeluarkan beberapa tetesan airmata, dipastikan hatinya sedang sakit (bukan sakit hati).

Dan ada pula, bila seseorang merasakan sendiri sebuah kesedihan itu, ditinggalkan orang-orang terkasih, kehilangan sesuatu yang dicintainya, mata ini pastilah akan mengalir airmata dengan derasnya hingga menguncang hati dan perasaan diri sendiri atau orang lain. Tangisan ini adalah tangisan kesedihan. Bila tangis kesedihan ini berlebihan dan tidak dikendalikan maka dapat mengganggu akal, dan terkadang berlaku dan berbuat sesuatu di luar akal sehat.

Tidak ketinggalan juga bila seseorang memendam sebuah rasa kebencian, kemudian orang tersebut bertemu dengan penyebab kebencian maka dipastikan sebuah kemarahan akan memuncak hingga menyentuh syaraf tangis dan… matapun berperan dengan mengeluarkan airmata…tangis kebencian.

Satu lagi, adalah tangisan akting, yaitu tangisan yang tidak melibatkan hati, perasaan, bukan karena kesedihan, haru, kelucuan atau kebencian tapi karena sebuah skenario… Bahkan ada aktor atau aktris yang susah memerankan adegan tangis dibantu dengan bahan-bahan tertentu (aroma bawang merah, atau lainnya) agar bisa menangis, mengeluarkan airmata…airmata skenario…tangisan akting…cut……..

Memang tangisan dengan mengeluarkan airmata yang berasal dari kantung kelenjar airmata yang terletak di sekitar bola mata, cekungan bola mata sebelah luar, dapat berpengaruh pada manusia, yaitu pengaruh terhadap kesehatan fisik dan pengaruh psikologis. Pengaruh terhadap kesehatan manusia dengan mengeluarkan airmata melalui tangisan dan atau melalui rangsangan luar adalah 1) dapat membuang racun tubuh, 2) dapat mengendurkan syaraf mata, 3) membunuh bakteri yang masuk melalui mata, 4) bahkan membuat syaraf tubuh menjadi rileks dan 5) menghilangkan beberapa penyakit tubuh. Adapun pengaruh secara psikologis adalah 1) meningkatkan mood seseorang, 2) mengurangi stress, 3) melegakan perasaan, dan 4) menghilangkan ketegangan. (bisa baca dibeberapa sumber lain seperti di: http://www.google.com/url?q=http://forum.vivanews.com/psikologi/280005-inilah-6-manfaat-menangis-untuk-kesehatan-anda)

Dalam Islam kedudukan menangis memiliki tempat istimewa dan penghargaan sendiri, hal ini bila berhubungan dengan suatu nilai ibadah yang disertai aktivitas menangis. Bahkan dengan tetesan airmata ibadah ini akan menyelamatan seseorang ketika seseorang berada di hari Penghakiman (Yaumul Qiyamah), dimana tidak ada pelindung selain perlindungan dari Nya (Allah Azza wa Jalla). Tangisan yang dihubungkan dengan sebuah pengakuan akan kesalahan yang diperbuat, sebuah penyesalan akan dosa yang dilakukan, sebuah pengakuan keagungan terhadap Allah, sebuah pujian akan kesempurnaan ciptaan Allah, terbaca olehnya bukti-bukti kebenaran ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah yang ada di sekitarnya, dalam aktivitas ruku’ dan sujudnya, atas pemberian hidayah dari Allah, atas pemberian nikmat-nikmat Allah, dalam membacakan ayat-ayatNya, dalam kesendirian diri dan kesepian suasana sambil merenung (muhasabah) dan banyak lagi. Tangisan inilah yang membuat Allah semakin cinta dan sayang kepada diri kita, tangisan inilah yang membuat Allah memperlakukan kita sebagai kekasihNya, dan tangisan inilah yang membuat perlindunganNya turun pada kita.

QS.Al Isra (17) ayat 107-111 yang artinya : “Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”, dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”, dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”.

QS.Maryam (9) ayat 58 yang artinya : “mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih, apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.

Maka… MENANGISLAH KARENA ALLAH….

(GoesPrie, 5-4-12)