RAMALAN NASIBKU…

Seseorang bila diramal bahwa ia memiliki sebuah keberuntungan, maka ia merasakan dunia ini menjadi luas, dan ia merasakan hidupnya bermakna. Tetapi ketika ramalan untuk dirinya berisikan ketidak beruntungan-ke’sial’an, maka ia merasakan dunia ini menjadi sempit, sesempit hatinya menerima ramalan tersebut, dan so pasti ia merasakan hidupnya tidak bermakna… .Ada apa gerangan terhadap dirinya? Apa yang salah terhadap nasib hidupnya? Apakah ia harus membuang sesuatu ke’sial’annya agar nasib dirinya menjadi bermakna?

Sebuah pengalaman pribadi, ketika itu (masih guobluok-guobluoke) masih sangat percaya akan ramalan-ramalan nasib. Setiap minggu, menyempatkan diri untuk mencari informasi di majalah atau koran sekisar ramalan nasib, apakah itu horoskop, atau hitungan hari kelahiran. Mencari saat-saat yang penuh keberuntungan dan selalu menghindar saat-saat yang penuh ke’sial’an diri. Termasuk di antaranya hari ‘sial’. Hingga berapa kali ketemu hari sial dan tidak bisa menghindari, selalu ketemu ke’sial’an hari tersebut. Ya…ada saja musibah, terjatuh, diserempet motor, melukai seseorang sehingga diri ini harus bertanggungjawab terhadap kelakuan itu, dan…muacem-muacem pokoke. Dan sebaliknya, bila mendapatkan sesuatu keberuntungan di hari keberuntungan, menambah sebuah keyakinan akan kebenaran ramalan-ramalan tersebut (tambah kacau dah…).

Akhirnya…dari sebuah pencarian makna ditemukan bahwa persangkaan-persangkaan selama ini adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar. Sebuah pemikiran sederhana saja, masak sih semua makhluk yang namanya manusia ini hanya ditentukan oleh ramalan-ramalan, hatta kiamat duniapun ikut dalam ramalan-ramalan. Memang sejak zaman azali (alam ruh) manusia sudah ditetapkan takdir-takdir baik dan buruknya, rezeki-rezekinya, bahkan ajalnya dan manusia diberi kebebasan memilih melalui ikhtiyarnya, dengan pilihan yang bertanggungjawab dan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Seolah manusia masuk ke dalam dimensi takdir Allah yang hanya dibatasi oleh ajalnya. Takdir baik dan buruk ini layaknya jaring-jaring yang luas dan rumit, satu dengan lainnya saling berhubungan, sehingga manusia memilih posisi keberadaan dirinya dalam jaring ini. Ia dibekali oleh ilmu dan akal untuk memilih serta panduan sebuah tuntunan dari Sang Pencipta. Sehingga akibat pilihannya, ia tidak bisa menyalahkan orang lain bahkan Allah. Sedangkan hal-hal baik buruk yang terjadi merupakan bagian dari instrumen ujian yang diberikan kepada manusia dalam menentukan keberlanjutan pilihannya. Apapun pilihan, kejadian, maupun efeknya yang jelas telah tercatat keseluruhannya dalam catatanNya.

Demikian pula dengan rezki yang diperuntukan untuk manusia, telah ditetapkan kadarnya, termasuk nilai baik-buruknya, halal-haramnya, proses mendapatkannya, alur sebab akibatnya, manfaat-mudharatnya. Manusia dengan kebebasan memilih untuk mendapatkan kadar pada masing-masing moment kehidupannya, jalan-jalan menuju keberadaan rizki tersebut dan nilai manfaat darinya. Dengan adanya demikian, maka manusia akan muncul rasa optimisme bukan pesimisme, ikhtiyar yang sungguh-sungguh bukan seperti menunggu emas jatuh dari langit. Bahkan terkadang bertemu dengan kejutan-kejutan dari Allah sebagai bonus usaha ikhtiyar dari hambaNya. Selalu dan selalu berprasangka baik terhadap diri dan kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla.

Ketika seseorang berada dalam jaring-jaring takdir Allah, ia pun memiliki irisan-irisan dengan jaring-jaring takdir orang lain. Di sinilah menjadi bagian nilai kemanfaatan irisan jaringan takdir Allah dari seseorang terhadap orang lain. Maka dalam ajaran Islam, dituntun umatnya untuk memiliki nilai manfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain. Nilai manfaat bagi orang lain ini akan menjadi nilai tambah bagi dirinya, yang ia dapatkan juga hasilnya kelak.

Optimisme, ikhtiyar, dan manfaat inilah menjadi kunci dalam perubahan dalam kehidupan. Ketika seseorang berpikir demikian, maka ia tidak akan serta merta menyalahkan takdir (nasib) diri, orang lain yang lebih beruntung. Juga tidak hanyut dalam ramalan-ramalan diri yang dikaitkan pada bintang-bintang, hitung-hitung hari kelahiran, keberadaan hari baik dan buruk, tanda bawaan kelahiran (tahi lalat), suara-suara hewan tertentu, bahkan hanya sekedar kedutan anggota badan…. Ingat : bahwa Allah bersama dengan persangkaan hambaNya. (wallahu a’lam bis shawwaab)

(GoesPrie, 3-4-12)