Idolaku oh Idolaku…

Anda pasti punya idola, idola dalam kehidupan, sampai-sampai diri Anda mau menduplikasi sesuatu yang ada pada sang idola. Di era tahun 50-60-an ada artis Elvis Presley, maka para idolaer (istilah para pengidola) menduplikasi diri dengan dandanan ala Elvis baik potongan rambut dan pakaiannya. Di Indonesia tahun 70an ada Roma Irama, maka para idolaerpun meniru gaya dan suara Roma dalam menyanyi. Tahun 80an, di sana ada Lupus, tokoh fiksi karangan Hilman, para idolaerpun tidak ketinggalan untuk selalu mengunyah permen karet dan dengan menyandang tas tali panjang serta dengan gaya rambut berjambul dan berekor. Dan di tahun 2012 ini, remaja Indonesia diserang K-Pop (Korea Pop), sehingga muncul grup boyband dan girlband dengan segala gaya ala Korea. Dan tidak disangka pula para dewasa dan sedikit tuapun terkena wabah K-Pop dengan munculnya grup Super Senior dan Sahita. Itulah sedikit efek samping dari sebuah wabah ‘penyakit’ idola. Tidak masalah selama sebatas ekspresi seni positip. Tak lupa pula gaya bahasa idola dengan ‘hai babee-babee’ dari sang JB yang sempat melontarkan kecewa terhadap Indonesia.

Apa ada yang salah? Bisa jadi salah bila para idolaer menelan bulat-bulat fotokopi sosok idolanya hingga dalam sisi kehidupan pribadinya dan visi misi yang diusungnya. Mengapa? Karena dikhawatirkan para idolaer akan kehilangan jatidiri dan terbayangi oleh sisi pribadi sang idola dan visi misi yang diusung. Masih ingat grup Iron Meiden dari negeri Paklik Sam yang memiliki aliran cadas dan kehidupan obat bius dan obat terlarang, banyak para idolaer terjerumus dalam kekerasan kehidupan hingga jeratan narkoba. Bahkan ada lirik lagu yang mengarah pada kebebasan untuk bunuh diri dalam menyelesaikan permasalahan, hingga memakan korban para remaja yang putus asa ketika menghadapi masalah dalam kehidupannya.

Tahukah Anda, apa makna dari Idola? Silakah deh cek di kamus bahasa Inggris atau boleh juga di Goggle Translate. Idola asal kata dari Idol yang memiliki arti pujaan, berhala dan atau dewa. Apa konsekuensi makna dan arti dari idola tersebut? Pujaan, berarti sebuah dambaan dengan harapan yang besar, kalau bahasa Arab Roja’. Atau diibaratkan pujaan tersebut sebagai kekasihnya dalam sisi lain kehidupan para idolaer dan maka sering disebut dengan pujaan hati. Bila pujaan tersebut membuat sebuah kekecewaan maka pujaan tersebut akan ditinggalkan, dibenci, dihujat, atau lebih tragis lagi, sampai ada kasus seorang idolaer membunuh idolanya akibat kekecewaan yang didapatkan, ironis.

Sementara itu untuk arti lain dari idola yaitu berhala dan atau dewa…, ini level tertinggi dari sebuah pengidolaan para idolaer. Mereka sampai menjadi sosok idola sebagai sosok dewa dan memberhalakannya. Contoh, bagaimana sosok Maradona sempat menjadi dewa baru atau nabi baru bagi pemuda Argentina ketika itu. Atau sosok Lenin, Stalin, Mao Ze Dhong, Darwin, atau tokoh-tokoh isme-isme yang ada di dunia lainnya. Buah pikiran, tindakan dan perbuatannya menjadi sebuah tuntunan yang harus dilakukan sampai ada yang menjadi harga mati dan dibela mati-matian, kalau bisa rela mati demi sang idola. Istilah untuk para idolaer adalah pengikut. Perkara mati, ada juga para idolaer yang menemui kematian secara tragis atau percuma karena untuk menghadiri pertunjukan sang idolanya, yang sebelumnya telah mengeluarkan biaya hartanya untuk membeli tiket pertunjukkan sang idola. Ditambah lagi, terkadang ia rela meninggalkan waktu shalatnya, berjam-jam untuk menanti kedatangan sang idola tampil, alasannya…shalat khan bisa dijama’….(fiqih baru kali ye…). Luar biasa pengorbanannya.

Bagaimana bila idola ditinjau dari sisi aqidah bagi seorang muslim? Apakah ada benturan terhadap konsekuensi dari syahadatnya? Sebagai seorang muslim yang telah mengucapkan syahadatnya ada beberapa konsekuensi sederhana yang harus dilakukan, antara lain 1) ia harus mengakui, bersaksi, berjanji, berikrar, dan bersumpah tidak mengambil berhala-berhala (idola) lain selain Allah sebagai satu-satunya sesembahan; 2) ia harus mengakui, bersaksi, berjanji, berikrar, dan bersumpah tidak mengambil tauladan (idola) lain selain tauladan-tauladan baik dari Muhammad saw sebagai utusan Allah, demikian pula dengan para pengikut-pengikut setianya yang selalu mentauladani beliau. Maka sederhananya bila hal ini dilanggar, ia telah mengotori pengakuannya, kesaksiannya, janjinya, ikrarnya, dan sumpahnya. Apalagi bila ia rela berkorban demi sang idola yang dengan akhlaknya bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Rela berkorban dalam pengertian ia menduplikasikan perilaku kehidupan sang idola, polah tingkahnya, gayanya, jangan-jangan sebagian dari kehidupannya. Lalu bagaimana konsekuensi ia sebagai seorang muslim, yang menjadikan Muhammad saw sebagai uswah (tauladan)?  atau minimal pengikut-pengikut beliau yang menjalankan ketauladanan beliau?. Bahasa aqidah, hati-hati dengan budaya syirik gaya baru, tidak kentara tapi menghancurkan. Menghancurkan amalan yang sudah dibangun, alias sia-sia. Ini pendapat tidak perlu didebat, selanjutnya terserah Anda… .

(Goesprie, 1 – 5 – 12)


Anda pasti punya idola, idola dalam kehidupan, sampai-sampai diri Anda mau menduplikasi sesuatu yang ada pada sang idola. Di era tahun 50-60-an ada artis Elvis Presley, maka para idolaer (istilah para pengidola) menduplikasi diri dengan dandanan ala Elvis baik potongan rambut dan pakaiannya. Di Indonesia tahun 70an ada Roma Irama, maka para idolaerpun meniru gaya dan suara Roma dalam menyanyi. Tahun 80an, di sana ada Lupus, tokoh fiksi karangan Hilman, para idolaerpun tidak ketinggalan untuk selalu mengunyah permen karet dan dengan menyandang tas tali panjang serta dengan gaya rambut berjambul dan berekor. Dan di tahun 2012 ini, remaja Indonesia diserang K-Pop (Korea Pop), sehingga muncul grup boyband dan girlband dengan segala gaya ala Korea. Dan tidak disangka pula para dewasa dan sedikit tuapun terkena wabah K-Pop dengan munculnya grup Super Senior dan Sahita. Itulah sedikit efek samping dari sebuah wabah ‘penyakit’ idola. Tidak masalah selama sebatas ekspresi seni positip. Tak lupa pula gaya bahasa idola dengan ‘hai babee-babee’ dari sang JB yang sempat melontarkan kecewa terhadap Indonesia.

Apa ada yang salah? Bisa jadi salah bila para idolaer menelan bulat-bulat fotokopi sosok idolanya hingga dalam sisi kehidupan pribadinya dan visi misi yang diusungnya. Mengapa? Karena dikhawatirkan para idolaer akan kehilangan jatidiri dan terbayangi oleh sisi pribadi sang idola dan visi misi yang diusung. Masih ingat grup Iron Meiden dari negeri Paklik Sam yang memiliki aliran cadas dan kehidupan obat bius dan obat terlarang, banyak para idolaer terjerumus dalam kekerasan kehidupan hingga jeratan narkoba. Bahkan ada lirik lagu yang mengarah pada kebebasan untuk bunuh diri dalam menyelesaikan permasalahan, hingga memakan korban para remaja yang putus asa ketika menghadapi masalah dalam kehidupannya.

Tahukah Anda, apa makna dari Idola? Silakah deh cek di kamus bahasa Inggris atau boleh juga di Goggle Translate. Idola asal kata dari Idol yang memiliki arti pujaan, berhala dan atau dewa. Apa konsekuensi makna dan arti dari idola tersebut? Pujaan, berarti sebuah dambaan dengan harapan yang besar, kalau bahasa Arab Roja’. Atau diibaratkan pujaan tersebut sebagai kekasihnya dalam sisi lain kehidupan para idolaer dan maka sering disebut dengan pujaan hati. Bila pujaan tersebut membuat sebuah kekecewaan maka pujaan tersebut akan ditinggalkan, dibenci, dihujat, atau lebih tragis lagi, sampai ada kasus seorang idolaer membunuh idolanya akibat kekecewaan yang didapatkan, ironis.

Sementara itu untuk arti lain dari idola yaitu berhala dan atau dewa…, ini level tertinggi dari sebuah pengidolaan para idolaer. Mereka sampai menjadi sosok idola sebagai sosok dewa dan memberhalakannya. Contoh, bagaimana sosok Maradona sempat menjadi dewa baru atau nabi baru bagi pemuda Argentina ketika itu. Atau sosok Lenin, Stalin, Mao Ze Dhong, Darwin, atau tokoh-tokoh isme-isme yang ada di dunia lainnya. Buah pikiran, tindakan dan perbuatannya menjadi sebuah tuntunan yang harus dilakukan sampai ada yang menjadi harga mati dan dibela mati-matian, kalau bisa rela mati demi sang idola. Istilah untuk para idolaer adalah pengikut. Perkara mati, ada juga para idolaer yang menemui kematian secara tragis atau percuma karena untuk menghadiri pertunjukan sang idolanya, yang sebelumnya telah mengeluarkan biaya hartanya untuk membeli tiket pertunjukkan sang idola. Ditambah lagi, terkadang ia rela meninggalkan waktu shalatnya, berjam-jam untuk menanti kedatangan sang idola tampil, alasannya…shalat khan bisa dijama’….(fiqih baru kali ye…). Luar biasa pengorbanannya.

Bagaimana bila idola ditinjau dari sisi aqidah bagi seorang muslim? Apakah ada benturan terhadap konsekuensi dari syahadatnya? Sebagai seorang muslim yang telah mengucapkan syahadatnya ada beberapa konsekuensi sederhana yang harus dilakukan, antara lain 1) ia harus mengakui, bersaksi, berjanji, berikrar, dan bersumpah tidak mengambil berhala-berhala (idola) lain selain Allah sebagai satu-satunya sesembahan; 2) ia harus mengakui, bersaksi, berjanji, berikrar, dan bersumpah tidak mengambil tauladan (idola) lain selain tauladan-tauladan baik dari Muhammad saw sebagai utusan Allah, demikian pula dengan para pengikut-pengikut setianya yang selalu mentauladani beliau. Maka sederhananya bila hal ini dilanggar, ia telah mengotori pengakuannya, kesaksiannya, janjinya, ikrarnya, dan sumpahnya. Apalagi bila ia rela berkorban demi sang idola yang dengan akhlaknya bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Rela berkorban dalam pengertian ia menduplikasikan perilaku kehidupan sang idola, polah tingkahnya, gayanya, jangan-jangan sebagian dari kehidupannya. Lalu bagaimana konsekuensi ia sebagai seorang muslim, yang menjadikan Muhammad saw sebagai uswah (tauladan)?  atau minimal pengikut-pengikut beliau yang menjalankan ketauladanan beliau?. Bahasa aqidah, hati-hati dengan budaya syirik gaya baru, tidak kentara tapi menghancurkan. Menghancurkan amalan yang sudah dibangun, alias sia-sia. Ini pendapat tidak perlu didebat, selanjutnya terserah Anda… .

(Goesprie, 1 – 5 – 12)