Pilih Penjara atau Neraka?

Bila seseorang diberi pilihan yangmana tidak boleh pilih keduanya dengan pilihan Penjara atau Neraka, maka dijamin seseorang tersebut akan : 1.stres, 2.tidak memilih keduanya dan 3.milih neraka….Lho kok bisa… Suka-suka buat tulisan. Coba deh kita baca dulu.

Stres

Seseorang ketika memang benar-benar melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan maka wajar bila mendapatkan sanksi atau hukuman sebagai bentuk konsekuensi dari sebuah pelanggaran. Kalau sanksinya ringan atau dimaafkan maka kemungkinan besar pula pelaku akan tuman (jawa : mengulang lagi) alias tobat sambel. Nah bila sanksinya berat, sang pelaku akan mencoba beberapa usaha agar sanksi yang dikenakan padanya menjadi ringan atau batal dengan cara tinjau ulang kesalahan, mencari saksi yang meringankan pelaku kesalahan, atau mencari backing orang gede (bukan orang Bali), atau orang yang memiliki power yang dapat merubah bentuk sanksi (superman, batman, tarman, giman, dll). Nah kalau tidak mendapatkan demikian, akan mengakibatkan stres se stres-stresnya. Apalagi bila pilihan tujuan hukuman dan lamanya hukuman sudah jelas, misalnya masuk penjara sekian tahun….dijamin terdakwa hanya bisa diam dan menangis menangisi nasib diri sendiri (padahal ketika melakukan kejahatannya tidak memikirkan nasib orang lain yang dirugikan). Bayangkan suatu pengadilan di hari akhir, tidak ada pilihan lagi, seseorang divonis masuk ke neraka selama-lamanya…bukan stress lagi tapi hidupnya Laa yamuutu fiha walaa yahyaa. Hal ini disebabkan tidak ada lagi backing orang gede maupun orang yang mempunyai power, kecuali Allah SwT. Berbahagialah orang-orang yang terjaga dari keburukan.

Tidak memilih kedua-duanya

Ini merupakan pilihan aman, tapi penuh konsekuensi. Konsekuensi perbuatan agar selalu memiliki kemanfaatan, tidak merugikan orang lain, tidak mengorbankan orang lain, bisa dinikmati faedahnya bagi orang lain dalam hal kebaikan-kebaikan. Orang yang memiliki pilihan ini pasti orang yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam kehidupannya, visi misi ketika di dunia maupun visi misi dalam rangka menuju akhirat. Ia membuat pilihan lain dari kedua pilihan sebelumnya yang tidak merugikan dan mensengsarakan siapapun termasuk dirinya. Ia penuh kecerdasan diri, kata Rasulullah bahwa orang yang cerdas adalah orang selalu ingat dengan kematian (dan urutannya setelah kematian). Dalam pengertian bahwa orang ini melihat sebab akibat dari sebuah perbuatan, dan selalu ada rambu-rambu buat dirinya.

Milih neraka

Memang aneh, tanpa membuat suatu jawaban yang jelas, tapi dilihat dari perbuatannya justru pilihannya adalah neraka (baik neraka dunia maupun neraka akhirat). Buktinya, ketika ia mendapat suatu hukuman dari hukum dunia akibat kesalahan yang dibuatnya, ia akan berbuat lagi setelah selesai menjalani hukuman itu. Mumpung masih hidup di dunia, alasannya. Dan urusan tobat, nanti, masih ada waktu. Orang yang demikian adalah orang yang tidak memiliki visi misi dalam kehidupannya, dan termasuk orang yang tertipu, dan hanya mengejar kesenangan dunia yang sesaat. Tidak aneh bila ada koruptor (yang muslim) naik haji, dengan alasan, ke ka’bah mau tobat, sebagai bentuk kesamaan dengan pengakuan dosa bagi ajaran lain. Atau seorang perampok besar, tapi menyumbangkan hartanya untuk kepentingan sosial. Atau bandar obat terlarang yang selalu melakukan kegiatan sosial. Atau ketika sudah ketahuan kelakuan kejahatannya, ya …. buat skenario…sakit, agar orang iba terhadap dirinya. Mereka membuat skenario agar orang lain iba terhadap diri yang terhukum, dalam kondisi (men) sakit (kan diri). Mereka lakukan bukan untuk perlindungan dirinya di akhirat melainkan perlindungan diri mereka di dunia dari hukum positif yang berlaku di dunia. Itulah pilihan mereka.

Dari ketiga pilihan tadi memang terkadang pilihan kedua dianggap tidak memiliki pendirian, tapi hakekatnya merekalah yang cerdas, memiliki pendirian yang kreatif dan positif, serta memiliki visi misi kehidupan yang jelas. Ayo..pilih penjara atau neraka?

(Goespri, 2 – 5 – 12)