Ketika Muslimah Menganggap Pakaian Hanya Sekedar Mode

Di antara kita pasti ada yang masuk ke suatu korp atau kesatuan atau lembaga yang memiliki sebuah aturan-aturan yang mengikat yang dituliskan di dalam aturan korp atau kesatuan atau lembaga tersebut. Siapapun yang masuk, bergabung dan menyatakan dirinya menjadi bagian dari korp atau kesatuan atau lembaga tersebut akan dengan pasti mengikuti aturan yang dimilikinya. Seandainya ada yang melanggar, lembaga tersebutpun memiliki aturan berkenaan dengan sanksi terhadap pelanggaran, mulai dari yang teringan hingga terberat. Aturan-aturan tersebut menyangkut kedisiplinan, kinerja, prestasi, standar prosedur operasional hingga perkara uniform/seragam.

Demikian juga dengan Islam, yang sebagai sebuah ajaran, ideologi, dan doktrin. Orang-orang di luar Islam sering memiliki pandangan yang stereotipe tentang Islam bahkan phobia berkenaan dengan ajaran, ideologi maupun doktrin yang terdapat di dalamnya. Terkhusus untuk ajaran yang dianggap mengganggu pola pikir, kebiasaan, propaganda dari kelompok atau organisasi di luar Islam. Di antara perkara dari sekian banyak perkara dalam Islam yang sering menjadi persinggungan itu adalah ajaran atau doktrin tentang pakaian bagi perempuan. Bagi yang di luar Islam, pakaian ada yang menganggap sebuah hak azazi manusia bagi wanita yang tidak bisa diganggu gugat. Sebuah ajaran kebebasan inilah yang menjadi tolok ukur perbedaan tersebut. Sementara dalam prespektif Islam, bahwa semua aktivitas dalam kehidupan bagi pemeluknya merupakan bagian dari ibadah. Berarti diakui bahwa semua aktivitas kehidupan bagi pemeluk Islam ada aturannya, sederhananya mulai dari nongol ke dunia hingga masuk kuburpun ada aturannya, mulai dari memejamkan mata (tidur) hingga tidur lagi pun ada aturannya, ada nilai ibadah di dalamnya, ada nilai kemanfaatan.

Di luar Islam, menganggap bahwa banyak ajaran dalam Islam terlalu mengekang kebebasan wanita, melecehkan kehidupan wanita, bahkan menindas hak azazi wanita. Ketahuilah bahwa Islam memperbaiki kedudukan dan kehormatan wanita , ketika dibelahan dunia lain menganggap wanita sebagai makhluk kasta bawah di bawah hewan kesayangan penguasa, sebagai budak yang layak diperjualbelikan, dibunuh karena kehadirannya di dunia ini, tempat pelampiasan nafsu laki-laki ditempat-tempat p314cur4n di hampir pelosok dunia  bahkan dianggap sebagai biang keladi keluarnya Adam dari syurga. Kehormatannya adalah seluruh apa yang ada pada diri wanita, maka Islam mengatur untuk menjaga kehormatannya tersebut, di antaranya masalah pakaian.

Perintah perkara pakaian dalam Islam dicantumkan dalam Qur’an:

1.Surat Al A’raf ayat 26 yang artinya, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan asesoris indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.

2.Surat An Nur ayat 31 yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

3.Surat Al Ahzab ayat 59 yang artinya, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Rambu-rambu sederhana lain dari Rasulullah saw berkenaan dengan pakaian wanita:

1.Tidak transparan (Kasiyatun ‘ariyatun).
2.Tidak ketat sehingga membentuk lekuk tubuh (Kasiyatun ‘ariyatun).
3.Tidak menyerupai laki-laki maupun kaum lain (Tasyabuh), sebagai pembeda dan penegas identitas.
4.Menutup keseluruh tubuh kecuali muka dan tangan.

Menurut Ibnul Jauziy (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031), Al Munawi (Faidul Qodir, 4/275),  Imam An Nawawi (Syarah Muslim, 9/240) mengatakan bahwa wanita tipe Kasiyatun ‘Ariyatun adalah tipe wanita yang berpakaian tapi pada hakekatnya telanjang, dengan kriteria berpakaian tipis, ketat, dan atau menampakan sebagian kecil atau sebagian besar auratnya, kalau keseluruhan benar-benar sudah ter…la…lu.

Ada tanggapan…ah Islam tidak sejalan dengan budaya, atau ah Islam tidak kenal mode, okelah budaya yang seperti apa dan mode seperti apa. Kalau budaya dan mode mengumbar aurat jelas tidak sejalan. Tapi kalau modifikasi, sebagai ekspresi seni mode pakaian…? Selama memenuhi syarat syariat dari Al Qur’an dan Sunnah seperti di atas silahkan saja, ditambah lagi tidak berlebihan (kemubaziran). Ah sulit amat…ribet. Ya…silahkan saja, seperti perumpamaan di atas, seorang muslimah itu masuk dalam sebuah korp atau kesatuan Islam, dengan bentuk ikrar-janji dan sumpahnya yang sering disebut dengan syahadat. Ketika sudah masuk ke dalam sebuah korp atau kesatuan maka ada aturan yang mengikat anggotanya sebagai sebuah konsekuensi anggota korp atau kesatuan. Bila tidak bisa mengikuti dari sebuah konsekuensi berarti ia sudah melanggar ikrar-janji dan sumpahnya sebagai anggota korp atau kesatuannya dalam hal ini sebagai seorang muslimah (orang wanita yang berserah diri kepada Allah dengan segala aturan yang ada). Ada sanksinya, antara lain masuk dalam beberapa kategori mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu : a) zalim terhadap dirinya sendiri, b) fasik terhadap sebuah aturan, c) kufur terhadap nikmat (Islam sebagai sebuah nikmat berupa hidayah dari Sang Pencipta), dan d) disersi alias murtad (keluar dari konsekuensi ketentuan aturan korp sekaligus keluar dari korp/kesatuan itu sendiri, dalam hal ini Islam). Naudzubillahi min dzalika.

Ada perumpamaan nih, ada 2 ice cream, satu masih dalam kemasan menarik dan lux, dan yang satu sebagai sample yang boleh dicicipi oleh siapapun dengan cara dicolet kelembutan teksturnya, dicium harumnya, dijilat rasanya, dan hanya ditempatkan di sebuah wadah terbuka. Mana yang Anda pilih bila disuruh membeli? Ice cream yang ada dikemasan menarik dan lux… atau ice cream yang ada di wadah sample? Pasti Anda pilih yang ada dalam kemasan…semakin penasaran untuk menikmati ice creamnya.

Tulisan ini hanya sebagai perenungan, silahkan Anda wahai muslimah untuk mengambil keputusan. Keputusan yang diambil menentukan status Anda di sisi Allah SwT. Semoga hidayah selalu Allah tunjukkan pada kita semua. Amin.

(GoesPrie, 4 – 5 – 12)