Rahasia Dibalik Dialog

Tatkala Allah mengajak dialog dengan para Malaikat berkenaan dengan penciptaan Adam (manusia) terlintas sebuah rahasia kebesaran Allah di balik dialog tersebut yang menjadi renungan bagi manusia (keturunan Adam as). Dialog tersebut terekam dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 30 yang artinya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Apa yang terlintas dalam benak kita terhadap dialog tersebut? Bukan berarti kita dipaksakan untuk mentafsirkan ayat terjamahan. Pasti Anda akan terlintas, ada apa dengan pernyataan para Malaikat dengan yang ditanyakan kepada Allah tentang penciptaan khalifah di bumi. Artinya bahwa dalam keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh para malaikat bahwa khalifah yang hendak diciptakan itu akan membuat kerusakan dan pertumbahan darah di bumi. Darimana ilmu para malaikat tersebut? Dalam artian bahwa memang benar ada khalifah yang tinggal di bumi ini sebelum khalifah versi berikutnya yang bernama Adam (nenek moyangnya manusia) yang akan diciptakan Allah SwT.

Apa arti khalifah itu? Secara umum makna khalifah adalah penguasa, dan lebih khusus lagi adalah yang mengarap, membina,  memfungsikan, melestarikan, membangun suatu wilayah agar dapat dijadikan tempat penghidupan mereka di dalamnya. Khalifah juga diartikan sebagai wakil, khalifah fil ardh maksudnya wakil Allah di bumi agar bumi dapat hidup dengan dikelola sesuai dengan sunatullah untuk kebutuhan hidup dari wakil Allah tersebut.

Nah…, siapa khalifah sebelum Adam as (manusia)? Memang banyak tafsir yang menjelaskan bahwa bumi ini pernah dihuni oleh makhluk ciptaan Allah yang mana mereka memiliki akal, sebagaimana yang para Malaikat sampaikan, dengan akal mereka yang kebablasan mereka membuat kerusakan dan pertumpahan darah di bumi. Ada yang menafsirkan bahwa mereka adalah dari golongan jin, yaitu makhluk Allah yang diciptakan dari api, berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah, bahan dasar bumi. Golongan jin ini pulalah yang membuat kerusakan dan pertumpahan darah di antara mereka di muka bumi. Artinya mereka memiliki akal, hanya melampaui batas sehingga mereka melakukan kerusakan. Hal yang untuk menjelaskan bahwa mereka memiliki akal adalah mengacu pada ayat di Al Qur’an Surat Adz Dzariyat ayat 56, dimana makhluk jin pun memiliki tanggungjawab yang sama dengan makhluk manusia, yaitu pembebanan ibadah kepada Allah. Seperti diketahui bahwa pembebanan ibadah haruslah yang memiliki akal. Berbeda dengan makhluk Allah yang bernama Malaikat yang hanya berisikan ketaatan buta terhadap Allah, yang selalu dan selalu bertahmid (memuji) dan bertasbih (mensucikan) kepada Allah. Hal lain pembuktian bahwa jin merupakan makhluk sebagai khalifah sebelum manusia dengan peristiwa penolakan prosesi sujud (hormat)nya bangsa jin kepada bangsa manusia dalam hal ini Adam as, dengan alasan 1) mereka merasa lebih senior (lebih dulu diciptakan daripada manusia selama ribuan tahun  sebelum manusia), 2) mereka merasa lebih baik dari bahan dasar penciptaan (manusia dari tanah, jin dari api).

Dan ada pula menafsirkan, bahwa makhluk lain itu adalah dari golongan malakut (malaikat) yang berbahan dasar penciptaan dari cahaya, yang tinggal di bumi. Tapi pendapat ketiga ini lemah. Ada juga yang menyatakan jenis hewan yang berakal (ini yang sering dipakai teori evolusi manusia oleh Darwin). Bahkan ada juga yang mengatakan sejenis makhluk lain di luar golongan jin, hewan berakal, dan malaikat yang berkuasa di bumi sebelum manusia. Semua itu belum ada bukti yang menguatkan. Jejak peninggalan makhluk sebelum manusiapun belum terungkap secara jelas benderang, siapakah mereka itu, dan hanya sebatas dongeng-dongeng.

Yang jelas hingga kini, jenis species manusia memiliki banyak variasi suku dan bangsa yang dipengaruhi oleh kondisi makanan, kondisi tantangan dari alam tempat tinggal mereka dan asimilasi antar suku bangsa. Demikian pula dengan penghuni bumi sebelum manusia yaitu jin yang memiliki suku dan bangsa yang juga dipengaruhi oleh jenis makanan mereka, kondisi tantangan dari alam tempat tinggal mereka dan asimilasi antar suku bangsa mereka. Hanya keterbatasan ilmu manusia untuk mengungkap hal tersebut, dikarenakan berbeda dimensi. Walaupun demikian interaksi pengaruh sisa peninggalan dari penghuni (khalifah) bumi sebelum manusia sedikit terasa, bisa dibilang seperti fenomena misteri Bermuda Triangle, teknologi perhitungan kalender suku Maya, fenomena Benda Terbang Yang Belum Teridentifikasi (UFO, Unidentified Flying Object), atau artifak kuno yang terdapat di dalam Piramida Mesir yang menggambarkan pesawat asing atau makhluk lain, dan sebagainya. Wallahu a’lam bis shawwab.

(GoesPrie, 7 – 5 – 12)