Ketika Akal Ditantang tentang Kebenaran

Manusia dengan kesempurnaan yang dimilikinya karena hasil dari penciptaan Sang Maha Pencipta dengan tersurat langsung dalam Al Qur’an pada QS.At Tin (95) ayat 4 tetapi Ia-pun menjelaskan akan dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) pada ayat 5 nya. Mengapa? Karena potensi akal yang luar biasa potensinya yang diberikan, manusia terkadang lupa akan keberadaannya. Justru dengan potensi luarbiasa ini maka ada pagar yang membatasinya. Banyak kisah-kisah dalam Al Qur’an, manusia terjerumus karena mengandalkan akal semata, yang apalagi tergantung oleh input device (indera) yang sangat-sangat terbatas kemampuannya. Allah dengan memberikan bukti-bukti kauniyahnya justru untuk menyadarkan akal manusia dari kebebasan dan kebablasannya.

Contoh-contoh tersebut adalah : Dalam ilmu fisika, api merupakan sesuatu yang mengandung panas dimanapun dan kapanpun. Inilah yang diyakini akal selama ini. Tetapi karena kesombongan akal, fakta ini dibalik oleh Allah SwT menjadi sesuatu yang ‘dingin’ dan ‘tidak membakar/menyelamatkan bila terkenanya’. Peristiwa ini terjadi ketika Ibrahim as muda dihukum oleh seorang raja yang pongah, karena merasa keberadaan kekuasaannya terganggu. Ibrahim as pun dihukum bakar. Pada kenyataannya, saat api berkobar dan berkobar, kemudian padam, nampaklah Ibrahim as tetap dalam kondisi sehat wal afiat. Hal ini karena Allah SwT membalik kauniyahnya ketika api itu ‘panas’ dan ‘menghancurkan’ menjadi ‘dingin’ dan ‘menyelamatkan’ sebagaimana terekam sejarah tersebut dalam Al Qur’an surat Al Anbiya (21) ayat 68 – 69, yang artinya, “Mereka (para pembesar Namrud la’natullah) berkata: “Bakarlah dia (Ibrahim as) dan bantulah tuhan-tuhan (patung-patung yang dihancurkan Ibrahim as) kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami (Allah SwT) berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”.

Fakta kedua, air merupakan benda cair yang memiliki sifat mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah dan bila mengalir ke atas maka ia harus berubah bentuk menjadi uap air. Kalaupun dapat mengalir ke atas melawan grafitasi, ia dibantu dengan pompa air tetapi ia tetap jatuh ke bumi kembali karena grafitasi bumi. Akal menerima demikian, tetapi Allah ingin menunjukkan sesuatu tentang keberadaanNya dan kebohongan keberadaan sekutu-sekutu yang dibuat para pengingkarNya. Kalau Ibrahim as dengan indera kulit, maka pada kasus ini Musa as dengan indera mata. Laut merah dibelah dan air terus mengalir ke atas membentuk dinding, sehingga Musa as beserta kaumnya bisa selamat dari kejaran Fir’aun La’natullah. Sebagaimana kisah ini direkam pula dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (2) ayat 50, “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu (Musa as beserta kaumnya), lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”.

Demikian pula para ahli sihirnya Fir’aun La’natullah yang diuji indera matanya dengan sebuah kebenaran yang datang dari Allah. Adalah hal mustahil sesuatu yang berubah menelan sesuatu lainnya kemudian sesuatu yang menelan tadi kembali ke semula tanpa meninggalkan sesuatu yang ditelannya tadi. Kalaupun ia masih meninggalkan sesuatu yang ditelannya setelah sesuatu yang menelan tadi berubah kembali ke wujud asalnya pasti itu adalah sebuah sihir. Ketika para penyihir melempar tali dan berubah wujud menjadi ular kecil, maka Musa as melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular besar dan menelan ular-ular kecil tadi. Setelah ular besar tadi berubah kembali menjadi tongkat tidak meninggalkan sedikitpun ular-ular kecil atau dalam bentuk semula yaitu tali-tali. Logika akal tukang sihir Fir’aun La’natullah diuji. Ternyata mereka tersadarkan, berbeda dengan penguasa mereka Fir’aun La’natullah yang buta hatinya tertutup oleh akal yang kebablasan. Peristiwa inipun direkam dalam Al Qur’an surat Thaha (20) ayat 61 – 70 ,”Berkata Musa kepada mereka (para tukang sihir Fir’aun La’natullah): “Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah (yaitu adanya tuhan lain selain Allah SwT), maka Dia membinasakan kamu dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan, Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka (muncul keraguan di antara tukang sihir dan pengikutnya berkenaan statement Musa as) dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini (Musa as dan Harun as) adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama. Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris. dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini (sumpah mereka). (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”. Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka (berubah menjadi ular-ular), terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami (Allah) berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud (setelah melihat kenyataan jelmaan tongkat Musa as menelan semua yang ada dari mereka dan kembali ke wujud semula tanpa meninggalkan bekas), seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”. Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia (Musa as) adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir (juga) kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku (Fir’aun La’natullah)  akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya“.

Kisah lain, adalah Nuh as, dimana ia membuat sesuatu yang berbeda dari kebiasaan umum masyarakatnya yaitu membuat kapal di atas gunung/bukit. Kebiasaan umum pasti membuat kapal atau sejenisnya di pinggir sungai atau laut, tetapi Nuh as justru membuatnya di atas gunung. Maka timbullah kehebohan dengan mengatakan bahwa Nuh as telah menjadi gila, atau terganggu akalnya, apalagi pada masa itu telah berkembang teknik pertukangan yang maju. Tujuan Nuh as tersebut atas perintah Allah SwT menguji akal masyarakatnya tentang kebenaran dari Allah yang akan diturunkan kepada mereka ketika mereka menyeleweng. Kisah tersebut diabadikan dalam QS. Al Qamar (54) ayat 9 – 17 ,”Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”.

Contoh di atas merupakan sebagian kecil ketika akal manusia ditantang dengan fenomena kauniyah Allah SwT, ternyata sebagian besar manusia tetaplah menolak akan kebenaran yang datang dari-Nya. Fenomena lain terkadang lebih dahsyat, seperti proses kelahiran Isa as, beberapa Nabi as dapat menghidupkan yang mati atas izin Allah dan bulan terbelah ketika membenarkan kesaksian terhadap kerasulan Muhammad SAW. Masih saja manusia dengan akalnya malahan memilih minta bukti dan dikirim utusan yang berasal dari jenis malaikat yang jelas bukan sejenis dari manusia itu sendiri, sebagaimana keinginan mereka sebagai bentuk penyangkalan terhadap kebenaran dari Allah SwT yang Allah rekam dalam kitab-Nya pada QS.Al Furqon (25) ayat 21, “Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman“. Atau pada QS Al Furqon (25) ayat 7,”Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?”. Atau pada QS Al Hijr (15) ayat 7, “Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?“.

Padahal, ketika mereka didatangi oleh jenis malaikatpun mereka tidak sadar dengan akal mereka dan tidak bisa menerima,sebagaimana saat para malaikat Allah diutus bertemu langsung kepada kaum Luth as dan Ibrahim as. Mereka tetap menolak bahkan Ibrahim as dan Luth as sendiri sempat terkejut ketika kedatangan mereka berwujud manusia, ini tergambar dalam QS. Hud (11) ayat 77,” Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”.

Demikianlah ketika akal ditantang tentang kebenaran dari Sang Pencipta sesuai dengan keberadaan dan kondisi kaum pada masing-masing masanya. Ketika akal terlepas dari tuntunan wahyu maka akan melanglang buana tanpa batas menerabas kebenaran hakiki. Saat mencari di luar kemampuan akal, sementara yang ada dihadapannya sendiri terlupa.

Ya Rabb, tuntunlah akalku ini selalu mencari kebenaran dan dibimbing dengan kebenaran yang berasal dari-Mu.

(GoesPrie, 22 – 5 – 12)