Mintalah Selalu Petunjuk itu

Sebagai seorang Muslim (yaitu orang yang berserah diri kepada ketentuan dan ketaatannya kepada Sang Pencipta dirinya melalui kalimat syahadat),  ia akan selalu dan selalu berusaha untuk tetap dalam keadaan muslim, dan selalu berusaha menjaga dari hal-hal yang merusak ikrar-janji dan sumpahnya (kata lain untuk syahadat). Usaha tersebut terlihat dalam bentuk ucapannya di dalam lantunan doa-doanya dan shalatnya. Salah satunya adalah saat ia membaca Suratul Fatihah. Sebuah surat yang selalu yang wajib ia baca minimal 17 (tujuh belas) kali sehari semalam dalam keadaan normal, yaitu sama dengan jumlah rakaat shalat wajib. Adakah seseorang meminta sesuatu pada seseorang lain, lalu ketika orang lain itu memberikan sesuai dengan apa yang diminta bahkan lebih dari yang diminta oleh seorang yang meminta tadi, tetapi kemudian pemberian itu tidak diambil bahkan ditolak oleh yang meminta? Sungguh amat banyak yang demikian. Siapakah mereka?

Perlu diketahui, ayat yang berisikan permohonan itu adalah ayat ‘permohonan petunjuk’ kepada Al Hadi Sang Maha Pemberi Petunjuk, ‘Ihdinash Shirothol Mustaqim’ (QS.1:6). Petunjuk yang diminta adalah petunjuk keselamatan mengarungi kehidupan di dunia sesuai dengan aturan dan harapan Sang Pemberi Petunjuk Al Hadi. Aturan-aturan hidup dan kehidupan tersebut telah dikirim dan dipaket oleh Sang Pencipta Kehidupan ini melalui seorang utusan yang mulia bernama Muhammad ibnul ‘Abdillah SAW, berupa Al Qur’an dan As Sunnah. Harapan seorang muslim bermohon tiga permohonan adalah:
1.Minta petunjuk sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang pilihan.
2.Terhindar dari sebagaimana orang yang memilih kemurkaan Allah Al Khaliq.
3.Dan juga terhindar dari sebagaimana orang yang memilih kesesatan dari petunjuk Allah Al Hadi.

Perlu diketahui, apa ciri-ciri ketiga golongan yang kita minta agar permintaan petunjuk tersebut sesuai dengan harapan?

1.Orang-orang pilihan yang telah diberi petunjuk

Petunjuk adalah sebuah kenikmatan yang tidak tergantikan dalam kehidupan ini. Orang-orang yang telah diberi kenikmatan terbesar itu adalah para Nabi, para Shiddiqqin, para Syuhada’ dan orang-orang yang sholeh, sebagaimana yang tercantum dalam Qur’an Surat An Nisa ayat 69. Atau juga sebagaimana dalam QS. Maryam (19) ayat 58 yang memiliki ciri-ciri selalu sujud dan menangis dikarenakan dibacakannya ayat-ayat Allah (baik ayat Qauliyah maupun Kauniyah-Nya/alam semesta).

Para Shiddiqqin adalah orang yang jujur dalam keimanannya, baik dalam hatinya, lisannya maupun perbuatannya. Ia percaya penuh akan ayat-ayat Allah baik yang tertulis dalam kitab-Nya, terpapar dan terlukis dalam semesta-Nya. Memahami makna ikrar-janji dan sumpahnya dalam sebuah kalimat syahadat. Tidak sedikitpun terbersit pengkhianatan diri terhadap perjanjian itu.

Para Shuhada’ adalah orang-orang yang teruji kesaksian akan keimanannya, ikrar-janji dan sumpahnya dalam kalimat syahadat, hingga kematian menjemput diri mereka. Para syuhada’ ini pun berjuang di jalan Allah dengan sepenuh hati, hingga dalam bentuk perjuangan di medan perang sekalipun. Pernyataan ini tertulis dalam ketiga kitab-Nya baik Taurat, Injil maupun Al Qur’an sebagaimana dalam QS. At Taubah (9) ayat 111, hingga Allah membeli diri dan jiwanya, kemudian ditukar dengan Al Jannah An Na’im,”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

Para Shalihin adalah orang yang selama hidupnya fokus akan keimanan dan amal kebajikan sesuai tuntunan keimanan yang pegangnya, selalu mendatangkan kemanfaatan dari apa yang dilakukannya untuk diri-orang lain dan lingkungan, dan selalu membersihkan diri dari amal-amal yang merusak diri. Amal yang selalu diridhoi oleh Sang Pencipta diri, hingga ia mencapai pada tingkatan para Syuhada’ dan Shiddiqqin.

2.Orang-orang yang memilih kemurkaan Allah Al Khaliq

Mengapa Allah murka? Karena Hak Allah sebagai Rabb (Pencipta, Pengatur, Pemberi Rizki, Pemilik Aturan), sebagai Ilah (Satu-satunya sesembahan) dan Kesucian pemilik Nama dan Sifat yang Agung dan Mulia, diganggu gugat. Perbuatan-perbuatan ini sering dilakukan oleh orang-orang yang akal dan dirinya dikuasai oleh nafsu. Perbuatan-perbuatan itu antara lain:
a.Mengganggu eksistensi atau keberadaan dirinya baik dengan mengambil seteru atau sekutu bagi diri-Nya berupa berasal dari makhluk ciptaan-Nya, apalagi mengambil tuhan lain selain diri-Nya. (antara lain: QS.7:152; 21:26; 5:73)
b.Orang-orang yang lari dari medan perjuangan dalam menegakkan kebenaran dan tauhid baik dalam medan perang maupun tidak (QS.8:16).
c.Menjual diri kepada kekafiran atau perbuatan kekafiran (QS.2:90).
d.Berkolaborasi dalam menegakkan kekufuran, kekafiran dan kemusyrikan (QS.5:80).
e.Mendebatkan ayat-ayat Allah baik di Al Qur’an maupun dan Sunnah-sunnah NabiNya seolah sudah tidak sesuai dengan zaman dengan mengatasnamakan kebebasan-persamaan-kemerdekaan hak azazi manusia (QS.40:35).
f.Mendustakan para utusan-Nya yang memperbaiki sistem kehidupan melalui aturan yang diwahyukan kepada mereka, bahkan membunuh mereka tanpa alasan logis (QS.67:18;2:61,91;3:21,112).
g.Durhaka dan mendustakan atas segala maupun sebagian perintah-perintahNya dan melampaui batas (QS.3:112).
h.Gonta-ganti status iman – kafir dalam kehidupannya (QS.16:106).
i.Menikmati akan sifat-sifat kemunafikan agar merasa aman ketika berada di dalam lingkungan kekufuran dan kemusyrikan (QS.20:86).
j.Melampaui batas berkenaan dengan rizki yang telah dilimpahkan kepada-Nya (QS.20:81).
k.Berbuat kefasikan (kerusakan-kerusakan) yang merusak tatanan hidup dan kehidupan di dunia (QS.30:41).
l.Menjual belikan ayat-ayat Allah, menukar, menyembunyikan sebagian maupun seluruh dari ayat-ayat Allah, dengan alasan keduniaan (QS.5:44;2:159,174;) , dan lain-lain.

Dari sekian banyak apa yang diurakan di atas, ternyata banyak dilakukan oleh kaum Yahudi, mereka selalu berkonsfirasi dalam melakukan perbuatan mereka, membuat makar-makar terhadap Allah, Nabi dan Kebenaran hakiki yang berasal dari Allah. Dengan makar-makar tersebut, mereka berharap dapat menguasai dunia dengan hawa nafsu mereka, seluruh dunia tunduk di bawah kaki mereka, dan merasa menguasai seluruh kehidupan makhluk. Mereka berbuat makar tetapi Allah menjawab makar mereka dengan makar Allah, strategi Allah melalui tangan-tangan orang beriman yang kuat (QS.27:50-51;14:46-47). Mereka bertindak mengatasnamakan agama, padahal jauh dari yang mereka sebutkan dan sangkakan. Mereka diberi ilmu, tetapi dengan ilmunya mereka pilah dan pilih untuk kepentingan pribadi. Menyembunyikan sebagaian ilmu atau perintah Allah bila sekiranya tidak menguntungan mereka, atau mereka ganti dengan bahasa dalil mereka. Mereka lebih mengimani Talmud ketimbang Taurat dan Injil yang diturunkan melalui para Nabi dari golongan mereka.

3.Orang-orang yang memilih kesesatan daripada petunjuk Allah

Secara sederhana diumpamakan, bila seorang melakukan perjalanan di sebuah rimba yang penuh dengan halang rintangan dan bahaya, yang siap menerkam keselamatan bagi siapa jaga yang lewat. Maka seseorang tersebut butuh guiding atau petunjuk perjalanan, baik berupa peta, kompas, GPS, trik-trik menghadapi bahaya dalam hutan, dan bekal-bekal keperluan perjalanan lainnya. Bila seseorang tersebut tidak menggunakan petunjuk perjalanan dalam hutan tersebut dan justru ia membuat petunjuk sendiri atau bahkan mengambil petunjuk lain, dipastikan orang tersebut akan celaka. Dan bila orang tersebut masih tetap nekad, berarti ia akan mengalami celaka, kematian atau minimal tersesat.

Perumpamaan itu pula berlaku pada manusia yang mengarungi hidup dan kehidupan di dunia ini, yang butuh guiding atau petunjuk Sang Penguasa hidup dan kehidupan yaitu Allah. Petunjuk selamat dalam hubungan dengan Sang Penguasa hidupnya yaitu Allah, dan selamat dalam hubungannya dengan manusia lain, lingkungan dan alam semesta ini. Guiding atau petunjuk tersebut dirancang dan dibuat Allah sesuai dengan kebutuhan zaman dimana manusia hidup pada zamannya. Sangat diherankan justru mereka mengambil petunjuk selain petunjuk dari Al Hadi Allah Rabbul Jalal, seperti dari orang-orang yang dikuasai nafsu yang menguasai mereka dan mengatasnamakan pemuka-pemuka agama dan adat, serta dari para leluhur dan nenek moyang mereka sekalipun mereka semua tidak pernah mendapatkan petunjuk dari Allah. Hal tersebut sebenarnya telah diingatkan oleh Allah SwT seperti dalam QS. Al Baqarah (2) ayat 170 yang artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. Atau pada QS. Al Kahfi (18) ayat 5,”Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu (hal tentang Allah memiliki anak/keturunan di bumi ini), begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta”. Dan pada QS. Al Maidah (5) ayat 104,”Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak (leluhur/nenek moyang) kami  mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”.

Maka Allah-pun mengingatkan orang-orang yang beriman dengan jangan sekali-kali mengikuti langkah-langkah  tersebut karena semua itu tidak sedikitpun akan mendatangkan manfaat maupun mudharat bagi hidup dan kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana Allah katakan dalam QS.Al Maidah (5) ayat 104,”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat (apalagi manfaat) kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk (dari Allah dan dari para Utusan-Nya). Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Sebagai tambahan pula semoga pula kita terhindar dari kelompok yang ragu-ragu dari kebenaran yang dikhawatirkan muncul dalam diri orang-orang beriman. Keraguan yang muncul ini diakibatkan karena ‘merasa’ ada sesuatu yang tidak didapatkannya ketika berada di dunia. Allah memperingatkan sikap ragu-ragu terhadap kebenaran dari Nya, sebagaimana yang tercantum dalam QS.Al Baqarah (2) ayat 147,” Kebenaran itu (mengenai utusan Allah, Muhammad SAW dan apa yang dirisalahkan melaluinya) adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” dan Ali Imron (3) ayat 60,”(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar (proses penciptaan Isa as), yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”. Demikian pula sikap ragu-ragu akibat provokasi orang-orang munafik (orang yang tidak memiliki pendirian terhadap keimanan dan kebenaran dari Allah)  dan orang kafir, sebagaimana pada QS. An Nisa (4) ayat 143,”Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir) maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya”.

Semoga kita termasuk ke dalam orang=orang yang meminta dan mendapatkan petunjuk dari Allah SwT. Amin. Wallahu a’lam bis shawwab.

(GoesPrie, 6 – 6 – 12)