“Berpuasalah Kamu agar Sehat”

“Shumu tashihuw” kata Rasulullah SAW, telah 15 abad yang lalu menyampaikan perintah ini bersamaan dengan adanya perintah puasa dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183. Selain sebagai perintah, Allah pun memberikan sesuatu dibalik puasa bagi manusia secara umum. Mengapa Allah menyerukan perintah puasa bagi orang-orang yang berserah diri (Islam) dengan panggilan keimanan, tetapi dikabarkan juga bahwa sebelumnya pada umat-umat terdahulu diperintahkan untuk berpuasa? Dan kita ketahui pada umat-umat terdahulu memang ada perintah puasa sebagai bagian dari peraturan ilahiyah, sebagai contoh nabi Isa as, ada puasa 40 hari; nabi Musa as, ada puasa hari Shabat; nabi Dawud as, puasa sehari dan berbuka sehari; nabi Ibrahim as, ada puasa senin dan kamis; Rasulullah SAW, sebelum perintah puasa di bulan Ramadhan ada puasa ayyamul bith atau puasa di tengah bulan atau tanggal 13-15 di bulan hijriyah.

Bagaimana kita memandang puasa selain sebagai bentuk perintah, Allah Yang Maha Perancang juga merancang bentuk lain dengan puasa ini pada setiap makhluk ciptaannya dengan masing-masing tujuan. Kalau perintah puasa pada ayat 183 dari surat Al Baqarah merupakan bentuk perintah berdasarkan fungsi Allah sebagai Al Ilah – Sesembahan, atau tauhid Uluhiyah, atau fungsi ketaatan hamba terhadap Allah. Ada hikmah dibalik perintah puasa sebagaimana pada ayat 184 nya, “dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Perlu diingatkan bahwa Allah Sang Pencipta Alam dan seluruh makhluk, Maha Tahu akan karakteristik ciptaanNya. Makhluk hidup, termasuk manusia memiliki khususan ciri, yaitu ia membutuhkan sesuatu untuk dapat bertahan hidup. Sesuatu tersebut bisa berupa asupan maupun perlakuan. Asupan dapat berupa makanan dan minuman serta udara, sementara perlakuan adalah suatu tindakan terhadap makhluk hidup tersebut agar terjaga keberadaan kerja fisiknya. Seperti halnya sebuah mesin yang dibuat, butuh bahan bakar dan perlakuan. Perlakuan pada mesin adalah cara pengoperasiannya dan cara perawatannya. Demikian pula pada makhluk hidup, perlakuan tersebut adalah aktivitas gerak dan aktivitas perawatan kesehatan internal. Allah merancang bentuk puasa sebagai salah satu bentuk perawatan kesehatan internal seperti halnya service pada mesin. Pada tumbuhan tertentu terkadang ada yang melakukan bentuk puasa dengan cara menggugurkan sebagian atau seluruh dedaunannya untuk mengurangi proses pembuatan makanan (fotosintesa) dalam rangka meningkatkan kualitas dari batang dan pertumbuhan batang atau untuk menghasilkan sesuatu yang indah darinya. Contoh pohon jati menjadi semakin bagus kualitas kayunya setelah melakukan pengguguran daun-daunnya, pohon sakura muncul bunga yang indah setelah dedaunannya berguguran, terkadang untuk buah-buah tertentu dibantu oleh makhluk lain untuk menggugurkan daun-daunnya agar mendapatkan kualitas dan kuantitas buah yang dipanen.

Demikian pula halnya pada hewan, seperti proses wujud kepompong sebelum berubah menjadi kupu-kupu, proses hibernasi hewan tertentu di musim dingin untuk meregenerasi sel dalam tubuh, pada ular untuk merubah dirinya semakin panjang dan besar setelah pelepasan kulit lamanya pasca puasa, untuk jenis hewan lain menghilangkan racun dalam tubuhnya dengan jalan berpuasa dan kemudian memakan tanaman tertentu setelah puasanya, dan banyak lagi.

Pada manusia pun demikian, selain sebagai sebuah ketaatan atas panggilan keimanan, puasa juga merupakan bagian dari fitrah manusia sebagai bentuk instrumen yang Allah jadikan padanya untuk menjaga kesehatan dan kestabilan fungsi dalam tubuh manusia. Dengan puasa, racun dalam tubuh manusia keluar melalui proses pembuangan hasil metabolisme secara sempurna, peremajaan sel-sel dalam tubuh manusia, penguatan organ tubuh, mengoptimalkan proses dan organ ekskresi maupun sekresi, menstabilkan tekanan darah sekaligus pembersihan darah dari berbagai macam toksin (racun), mengoptimalkan fungsi organ reproduksi manusia, proses cleaning pada saluran pencernaan serta masih banyak lagi. Subhanallah.

(GoesPrie, 24 Juli 2012)