Antara “Kumaafkan” dengan “Maafkan aku”

Mana yang utama antara “minta maaf“ dengan “memberi maaf“ ? Jawabannya tergantung kebutuhan…tapi bila ditilik dari sisi syariah “memberi maaf” lebih utama daripada “minta maaf”, mengapa?

Memang dalam kehidupan sehari-hari, ketika ada sebuah perselisihan, dianggap selesai bila ada salah satu yang berselisih mendahului untuk meminta maaf, dan akhirnya keluarlah pemberian maaf. Dan ada sebuah imej bahwa kalau belum minta maaf tidak dianggap “jantan” atau “gentle” (saya bingung, kalau yang minta maafnya wanita, apakah dikatakan ‘gentle” juga ya…?). Ya…ketika ada yang meminta maaf, ada sebuah pengakuan secara tidak langsung bahwa yang bersangkutan mengakui sebuah kesalahan terhadap orang lain yang kebetulan terkena sebuah kesalahan dari sang peminta maaf. Dan sebaliknya, yang memberi maaf, adalah orang yang dianggap diakui kebenarannya, dan yang terkena dampak sebuah kesalahan.

Ada sedikit anehdot…seorang yang terinjak kakinya di dalam kendaraan umum, lalu ia menyadari kakinya terinjak dan berkata kepada yang menginjak, “maaf Pak, kaki saya terinjak kaki Bapak” atau “maaf, kaki Bapak menginjak kaki saya” atau “maaf…”, sambil menarik kakinya yang terinjak. Yang terkena dampak sebuah kesalahan yang mana dan yang harus minta maaf siapa… . Atau cara sedikit kasar…”Hai…kaki saya jangan diinjak!” , langsung yang menginjak kaki “minta maaf”. Atau cerita lain, “maaf Pak, matikan api rokoknya…” atau “maaf…saya terganggu dengan asap rokok Bapak…”, dijamin dah si perokok akan mengekspresikan sebuah ketidak sukaan terhadap larangan tersebut, kalau tidak malah diusir untuk tidak dekat-dekat dengan si perokok dengan alasan sebuah kenikmatan dan “hak azazi”

Secara psikologi (cek ile…gaya seorang psikolog…), psikologis orang yang minta maaf, biasanya minta maaf agar kesalahan orang lain yang dampaknya terkena dirinya tidak terulang atau tidak lama mengenai dirinya, alias memutus rantai kesengsaraan. Dan secara psikologis orang yang diminta kemaafannya, ada sedikit kesuperioran diri, minimal “merasa” benar. Kalaupun memang benar, ia tidak akan memulai dengan permohonan maafnya, kecuali didahului dengan permintaan maaf terhadap dirinya dan akhirnya…ia pun minta maaf. Muncullah “saling memaafkan” …kosong – kosong… .

Dalam Islam, Al Qur’an banyak berbicara mengenai “memaafkan” dan “memberi maaf” dalam konteks kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan yang didapat dari perbuatan tersebut. Di antaranya contoh : berkenaan dengan hukum Qishosh (QS.2:178) dihubungkan dengan thahfif  (keringanan) dan rahmat dari Allah, hubungan dengan shodaqoh (QS.2:263), QS.42:37 dan 39 keutamaan memberi maaf ketimbang balas dendam, QS.2:237 keterdekatan memberi maaf dengan predikat taqwa, QS.24:22 balasan ampunan Allah bagi yang memberi maaf, QS.42:40 dan 43 merupakan hal-hal yang diutamakan dan balasan pahala di sisi Rabbul Jalil, QS.3:133-136 hubungan dengan balasan Allah, ampunan Allah, syurga, sifat-sifat orang taqwa, dan banyak lagi. Hal-hal tersebut dalam rangka penyingkapan tabir Asma’ wa Sifat Allah dan pengaruhnya terhadap kehidupan, yaitu Al Afuw (pemaaf), Al Halim (Penyantun), Al Ghoffar (Pengampun), dan Ar Rahim (Penyayang).

Dalam hadits, konteksnya adalah pemberian keridhoan…, seperti dalam Bab Taubat, salah satu syaratnya adalah meminta keridhoan dari orang yang terkena dampak sebuah kesalahan dari si pelaku pembuat kesalahan (hubungan secara habluminannas), keridhoan seorang orangtua terhadap anak didahulukan sebelum kemurkaan (ridhollahi bi ridho walidaini wa sukhtullahi bi sukhtu walidaini), keridhoan seorang suami terhadap istrinya yang membangkang sambil tetap meluruskan serta memperbaiki sikap pembangkangannya ketimbang putusan thalaq, dan menasehati serta memaafkan kesalahan saudaranya daripada menghibah atau mengungkit kesalahannya (bentuk amalan salamatus shadr dalam bentuk perwujudan matinul khuluqu).

Wallahu a’lam

(GoesPrie, 5 – 9 – 12)