PROVOKATOR

Provokator, memiliki makna orang yang memprovokasi sesuatu agar melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang yang memprovokasi. Tapi perlu kita ketahui pula, dalam Bahasa Indonesia, provokasi memiliki arti pancingan, tantangan atau membangkitkan perasaan atau tindakan. Dan memiliki sinonim lain pula dalam bahasa Indonesia, agitator, penghasut dan pengasung. Dalam keseharian, kata provokasi ini cenderung bermakna negatif yaitu memanasi situasi supaya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang diprovokasi. Padahal arti provokasi ini memiliki dua sisi makna negatif atau positif tergantung pada penempatannya. Contoh kalimat dari bahasa asalnya, “His jokes provoked a lot of laughter from audiences” yang berarti leluconnya menimbulkan gelak tawa dari para penonton.

Dalam keseharian lebih sering muncul sosok provokator dalam artian negatif ketimbang positif. Lihat saja, pada masa-masa pilkadal, unjuk rasa massa atau mahasiswa, kerumunan penonton sebuah pagelaran musik,  atau suporter even olahraga, kemungkinan besar provokator akan muncul dengan dimulai dari hal-hal yang sepele. Ketika muncul maka akan dimanfaatkan situasi yang penuh aroma emosional, dipicu hingga muncul sebuah keributan dan akhirnya sebuah kekacauan massa dan permusuhan bahkan pertikaian.

Dari sisi lain, makna provokator pun memiliki sisi positif atau artian positif bila ditempatkan pada sisi positif dan memiliki kesamaan maksud dengan motivator. Motivator memberikan motivasi atau dorongan-dorongan secara kontinyu dan bersambung terhadap sebuah aktivitas positip pada orang-orang yang tidak memiliki motivasi terhadap sebuah aktivitas tersebut. Seorang motivator juga harus sangat bisa dan cakap dalam memprovokasi secara positip terhadap orang yang masih kurang greget terhadap aktivitas yang sedang dimotivasikan. Bentuk-bentuk provokasi positip ini harus beriring dangan pemotivasian agar terasa kekuatan dalam menggerakkan orang. Bentuk provokasi positip ini banyak bentuknya, sebagai contoh :

  1. Merendahkan atau meremehkan orang yang dimotivasi agar tergerak. Misal : “Masak… Anda yang memiliki kemampuan untuk bersedekah, tidak mampu sedikitpun untuk bersedekah. Dimana letak kehebatan Anda itu”, “Ah…seperti itu saja tidak mampu, Anda kalah dengan si Fulan yang kemampuannya di bawah Anda tapi Fulan mampu melakukannya”, “Apa hebatnya Anda kalau tidak bisa berbuat apa-apa untuk negeri ini…”.
  2. Membandingkan dengan orang lain yang sudah termotivasi sehingga orang yang belum termotivasi. Misal : “Kemampuan Anda sama dengan si Fulan, tapi Anda jauh tertinggal dengan si Fulan”, “Orang lain saja yang lebih banyak dosanya mampu bertaubat dan berbuat baik sebagai ganti perbuatannya buruknya, seharusnya Anda bisa seperti itu”, “Kualitas otak kita semua sebenar sama, hanya Anda masih belum mengoptimalkan”.
  3. Memberi contoh langsung di hadapan orang yang bersangkutan, umpama ada seorang kaya di datangi anak peminta-minta tapi tidak memberikan respon baik, Anda berada di sebelahnya dengan biasa-biasa kemudian memberikan uang sepuluh ribu ke anak pengemis tersebut (Subhanallah…), cucu Rasulullah SAW ketika memprovokasi seseorang laki-laki tua yang berwudhunya tidak sempurna, kisah usaha tiga orang yang terkurung dalam gua kemudian salah satu dari mereka mengajak untuk berdo’a dengan berwasilahkan amal ikhlas mereka agar terselamatkan dari kurungan dalam gua.
  4. Memunculkan bentuk persaingan positip secara langsung, umpama kisah Umar bin Khatthab ra bershadaqah kepada perjuangan dengan separuh hartanya, kemudian Abu Bakar ra datang dengan membawa semua harta untuk di shadaqahkan dan Umar merasa masih kalah dan ingin lebih dari itu lagi, Kisah Rasulullah SAW yang menunjukkan seseorang yang hadir di majlisnya merupakan seorang ahli syurga dengan keutamaan amalannya dihadapan shahabat lainnya yang sudah jelas memiliki keutamaan masing-masing, Pujian Rasulullah SAW pada masing-masing shahabat dengan masing-masing kekhasan keutamaan amalannya seperti ‘Ali bin Abi Thali ra dengan istilah Babul ‘Ilm, Abu Bakar ra dengan julukan As Shiddiq, ‘Umar bin Khatthab ra dengan julukan al Faruq, Khalid bin Walid ra dengan Saifullah, dan sebagainya.

Provokasi-provokasi positip inilah sebagai penguat dari motivasi-motivasi untuk berbuat perbuatan baik, baik untuk diri sendiri maupun bermanfaat bagi orang banyak. Negeri inipun sudah terlalu banyak dengan para provokator-provokator negatif sehingga terjadi kepurukan, misalnya seseorang bisa korupsi satu milyar maka mengapa tidak orang lain muncul bisa lebih dari satu milyar, pejabat yang masuk penjara nyaman maka mengapa tidak pejabat lain yang bermasalah masuk penjara bisa lebih nyaman lagi di dalamnya, orang yang terjerat hukum besar masih bisa berlenggang kangkung jalan-jalan ke mana ia suka karena sudah ada contohnya dan banyak, banyak kasus narkoba terjadi karena banyak kasus yang sama tidak mendapat hukuman yang keras, banyaknya kekerasan di daerah-daerah karena sudah dicontohkan di daerah lain tanpa ada penyelesaian yang pasti…banyak lagi….

Negeri ini sudah banyak para motivator tapi masih sedikit motivator yang provokator, ingat pula kisah Bung Karno berpidato di hadapan ribuan orang dengan berapi-api beliau memotivasi sambil memprovokasi yang hadir dengan sebuah tantangan agar ia diberi sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia dengan kebaikan-kebaikan perjuangan dan perubahan. Atau sosok Thariq bin Ziyad setelah mendarat di daratan Spanyol dengan membakar perahu-perahu pasukannya dan memberikan dua pilihan pahit yang salah satu harus dipilih, dan menjadi inspirasi seorang pelaut Portugis atau Spanyol ketika mendarat pertama kali di benua Amerika untuk tujuan menguasai benua tersebut. Atau sosok Andy F Noya dalam sebuah acara di TV swasta dengan menampilkan orang-orang yang luar biasa di hadapan penonton/pemirsa dan beliau menanggapi dengan celetukan-celetukan ringan tapi menggerakan bagi yang memperhatikan dan dapat menjadi gelombang tsunami perubahan.

Kita dan negeri ini masih butuh para motivator lagi provokator atau MOTIVOKATOR.

(GoesPrie, 11-9-12)