Orangtua Instan

Apa beda antara mie instan dengan orangtua instan? Sebuah pertanyaan yang muncul dalam sebuah perbincangan. Teman menjawab perbedanya sangat tipis, karena sama-sama instan, sama-sama ingin cepat saji. Lanjutnya, kalau mie instan produk makanan siap saji dalam waktu kurang dari 10 menit ‘tanpa susah dan bingung’, sementara orangtua instan ingin dalam satu tahun anaknya banyak mengalami perubahan tapi ‘dengan susah dan penuh kebingungan’.

Bayangkan saja ketika anak terlambat untuk dapat berbicara padahal umur sudah tiga tahun, mereka sibuk dan bingung mencari orang yang dapat memberikan terapi bicara atau orang ‘pintar’ alias ‘paranormal’ alias dukun untuk melihat gangguan apa yang menyerang anaknya. Belum lagi kalau lambat jalan, lambat bersosialisasi, lambat berhitung, lambat membaca, lambat menulis, lambat sekolah. Pokoknya super bingung dan mbingungin sendiri. Pertanyaannya, mengapa?

Sebagai orangtua adalah sebuah kewajaran bila buah hati mereka menampakan sebuah kewajaran dan kenormalan dalam perkembangan psikis maupun fisik. Dan menjadi tanda tanya mereka bila sang buah hati menunjukan ketidakwajaran dan ketidaknormalan secara umum untuk perkembangan psikis maupun fisiknya. Hanya bagaimana pensikapan terhadap hal yang demikian. Seringkalinya karena kepanikan, orangtua cenderung mencari penyebab terjadinya ketidakwajaran atau ketidaknormalan perkembangan anaknya ke sekolah tempat mendidik anak mereka. Perlu diketahui pola pendidikan di rumah cenderung lebih dominan menyumbang terhadap perkembangan anak karena kurang memahami masalah psikologi perkembangan anak dan tumbuh kembang anak. Pokoknya, orangtua merasa puas bila sudah melimpahkan tanggungjawab penyebab gangguan perkembangan anak mereka.

Ada beberapa hal yang menyebabkan perkembangan psikis dan fisik anak terhambat, antara lain :

1.Perlakuan yang cenderung otoriter dan impresif terhadap anak, sehingga anak merasa tertekan. Padahal mereka membutuhkan sosok sahabat ketimbang sosok orangtua ketika di awal-awal perkembangan umurnya. Dengan menggunakan bahasa anak dan pola pikir anak.

2.Terlalu banyak tuntutan terhadap anak, harus bisa ini, harus bisa itu tetapi tanpa bimbingan bahkan dalam penyampaiannya cenderung memaksa.

3.Terlalu banyak membebani dengan bentuk les-les atau kursus-kursus di luar jam sekolah mereka sehingga muncul bentuk kebosanan dalam belajar, padahal apa yang didapat anak belum tentu sesuai dengan minat dan bakatnya.

4.Terlalu membeda-bedakan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya dalam keluarga, sehingga menyebabkan kecemburuan antara saudara.

5.Sedikit memberikan treatment-treatment belajar di rumah, reward-rewad, pujian-pujian, dan motivasi-motivasi, yang ada justru paksaan dan punishment berupa kata-kata bahkan fisik.

6.Terlalu banyak berinteraksi dengan media televisi dalam bentuk tontonan-tontonan yang tidak mendidik dan cenderung bermuatan pola pikir orang dewasa ketimbang anak-anak.

7.Cenderung menciptakan kondisi lingkungan asosial di rumah, mengurangi interaksi sosial, membatasi pergaulan dengan anak sebaya, dan cenderung dipercayakan kepada baby sitter.

8.Memberi asupan-asupan model fastfood, junkfood, makanan yang terlalu banyak zat aditif (penyedap, pewarna dan pemanis buatan) yang berlebihan, dan membiarkan anak menyukai minuman-minuman berkarbonasi atau berzat aditif minuman lainnya.

Apa yang harus dilakukan sebagai orangtua? Ada klik-klik yang harus dipahami sebagai orangtua, yaitu :
1.Menyadari bahwa Anda sudah menjadi orangtua bagi anak-anak bukan sekedar orangtua bagi anak dewasa, sehingga pola pikirnya adalah apa yang ‘dibutuhkan’ anak bukan sekedar apa yang ‘diinginkan’ anak. Hal ini karena orangtua sering sekali memenuhi segala keinginan anak yang belum tentu itu merupakan kebutuhan anak.
2.Menyadari bahwa Anda sedang dibutuhkan anak kita sebagai seorang yang membuat nyaman bagi kehidupannya bukan sekedar Anda sedang membutuhkan kehadirannya semata di sisi Anda di dunia ini.
3.Menyadari bahwa Anda tetap masih perlu ‘belajar’ menjadi orangtua bagi anak-anak Anda, bisa Anda dapat secara keilmuan dari berbagai buku maupun diskusi sesuai dengan kajian ilmiah maupun ajaran agama dan keyakinan Anda.
4.Jangan lupa…doa yang tulus bagi anak Anda dan jagalah kehalalan apapun yang akan dipakai dan apapun yang akan masuk ke tubuhnya.

Selamat…

(GoesPrie, 11-9-12)