MEMBELI CINTA

Seseorang sangat pasti butuh apa itu namanya ‘CINTA’, cinta dari orang-orang yang terkasih, cinta dari orang-orang yang dicintai. Dengan cinta semangat hidup akan menggebu-gebu menoreh hasil optimal, meraih prestasi, dan meninggalkan prasasti. Tapi juga dengan cinta, apalagi tanpa cinta, hidup akan terasa tanpa makna, meninggalkan hasil jauh dari minimal apalagi optimal, membuat frustasi lalu mundur diri dari duniawi. Apalah arti hidup tanpa cinta, dunia ramai serasa sunyi, dunia luas tak bertepi serasa sempit menghimpit. Manusia akan tetap berusaha untuk mendapatkan apa itu ‘Cinta’ dari orang-orang yang ia harapkan ‘cinta’ itu.

Cinta seorang suami sangat diharapkan oleh istri, dan sebaliknya seorang istri sangat berharap akan cinta dari seorang suami. Cinta seorang ibu atau ayah sangat diharapkan oleh anak-anak mereka dan sebaliknya. Untuk mendapatkan ‘cinta’ itu masing-masing berusaha memberikan sesuatu agar cinta itu didapatkannya. Tetapi sang pengharap ‘cinta’ terkadang lupa bahwa cinta selamanya tidak bisa dibeli dengan benda atau sesuatu apapun yang ada di dunia ini. Kalaupun dapat, itupun sifatnya sementara, selama benda barter untuk mendapatkan cinta itu masih ada di sisi orang yang memberikan cinta. Dan terkadang bila ada orang lain yang memiliki barter yang lebih besar dari itu, cintapun tergadaikan.

Ada seorang istri bertanya kepada suami tercintanya,”Kanda…, engkau menikahiku karena apa?” atau “Kak…, cinta sama adik karena apa?”. Dipastikan sang suami akan kelabakan mencari jawaban yang hakiki. Demikian juga sang suami dengan pertanyaan yang sama…, pasti dijawab oleh sang istri dengan jawaban yang tidak memiliki kekekalan dari arti sebuah cinta. Kecantikan, kegantengan, kekayaan, anak orang gedhe, pekerjaan, kesamaan hobi, atau apa saja…, pasti akan lebur bersama dengan perjalanan waktu yang dilewatinya bersama.

Terkadang pula, kita tertipu untuk membeli cinta dari orang-orang yang kita cintai itu, dengan apapun yang dimilikinya. Padahal apapun yang dimiliki itu sama halnya dengan cinta itu sendiri, tidak kekal terhadap masa.

Lalu dengan apa agar ‘cinta’ itu tetap ada dan kekal?

Allah yang memiliki Cinta, karena Allah Maha Rahim dan memberikan kasih dan cintaNya kepada orang-orang yang dikasihi dan dicintaiNya. Menitipkan kasih dan cintaNya kepada orang-orang yang saling kasih dan cinta karena Allah, bukan karena ciptaanNya atau makhlukNya. Karena ‘cinta’ sesuatu selain Allah sifatnya fana alias tidak kekal, sebatas umur dunia, bahkan lebih pendek dari itu. Sifatnya pun spekulatif, karena akan tergadai dengan sesuatu bandingan yang lebih darinya. “Sayang…aku mencintaimu karena Allah, semoga Allah mengekalkan cinta kita…”. Yoip… bukankah Allah menjaminnya bahkan dengan memberikan garansi. Garansi itu adalah : pertama, Allah akan menjaga kesatuan hati mereka karena Allah, QS. Al Anfal (8) ayat 63 : “dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman, siapapun mereka : suami – istri, orangtua – anak, antar sahabat). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana”; kedua, Allah akan memberikan perlindungan di hari dimana tidak ada perlindungan selain perlindungan Nya, yaitu salah satunya … orang yang saling mencintai (siapapun ia : suami – istri, orangtua – anak, antar sahabat) karena Allah (sumber hadits yang membahas tujuh kelompok orang yang mendapat perlindungan di hari akhir).

Titipkankanlah ‘cinta’ itu pada Zat yang menciptakan ‘Cinta’ yaitu Allah Ar Rahim, agar tetap kekal, dunia – akhirat, karena Dia lah pula yang akan menjaga bahkan memperindah ‘cinta’ itu.

(GoesPrie, 25 – 9 – 12)