Musim Kampanye = Musim Kotor-kotor (sepanjang waktu)

Berlebihan sekali judul di atas … . Kampanye pilkadal maupun kampanye legislatif, dengan menggunakan bahasa iklan bahwa ketika akan mempromosikan sesuatu maka sesuatu tersebut dibuat lebih dari yang ada alias diada-adakan atau boleh juga dengan istilah mengada-ngada, alias bohongpun boleh. Mulai dari photo, dipastikan akan muncul sosok yang berkampanye akan men-setting tampilan agar tampak lebih cerah ceria dan muda sekaligus berwibawa, yang wanita tampil anggun cantik dengan aktivitas yang simpatik. Kalau bisa membuat program agar bisa diliput oleh media cetak maupun elektronik tentang aktivitas yang bersangkutan, kalau bisa mulai dari melek hingga melek lagi, dan jadwal keluyuranpun terliput. Bila perlu melihat rating maka dibutuhkan lembaga survey profesional untuk memantau (kalau bisa) dalam hitungan minggu, dengan istilah nilai jual untuk maju dalam pergulatan pemilu (elektabilitas). Istilah ini muncul sejak lembaga survey bersaing dalam survey-surveynya untuk balon-balon kada, legislatif, maupun presiden. Iseng-iseng otak atik kata, elektabilitas (jelas berbeda dengan bahasa jawa) ada fonetik jawa yaitu elek tha, dalam bahasa Inggris barangkali ugly dan kalau kemampuan untuk ber ugly menjadi uglibility dalam bahasa Indonesia menjadi uglibilitas (hehehe…radha ngawur dikit). Walaupun elektabilitas kemungkinan berasal dari gabungan kata eleksi (election) dan kapabel (capable) sehingga memiliki makna mampu untuk ikut (diikutkan) sebagai peserta dalam proses demokrasi atau pemilu.  Atau dimampu-mampukan dengan dukungan banyak orang, sesuai dengan skenario untuk tampil dalam pemilu.

Kembali, ke laptop eh pembahasan, sesudah tampilan dan penampilan, kemudian pendanaan. Bagaimanapun… kalau bisa ada dana untuk mendukung kelancaran kampanye dengan berbagai cara dan strategi. Maaf ya bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, kalau saya keliru. Mulai dari urunan (dukungan solidaritas dana), sampai dengan pencucianpun dilibatkan untuk mendapatkan dana ini. Bahkan konon ada yang melibatkan “siluman” (maaf ya Sil, saya melibatkan anda), ada donatur dana tapi tanpa ada sosok yang pasti yang mengakui pemilik dana tersebut. Ibaratnya istilah Ayu Ting Ting (waduh… melibatkan artis), salah alamat karena alamatnya alamat palsu. Bohong lagi….dah.

Kemudian dukungan Te…Ka…Pe… eh KaTePe dan tanda tangan. Banyak juga bermunculan manusia-manusia ajaib (ajib-ajib), yang bayi atau kanak-kanak jadi dewasa, yang sudah dikubur bangkit lagi, yang sudah pindah disuruh migrasi paksa ‘nama’nya, yang ada diluar wilayah dipaksa eksodus sementara dengan ‘fasilitas’ tukar guling tertentu atau sukarela. Cape’ deh….

Manipulasi tampilan, manipulasi rating, manipulasi donatur dan dana, manipulasi pendukung, dan terakhir korbannya adalah lingkungan. Mengapa lingkungan? Coba tengok deh ketika masa kampanye, ada apa dan apa yang terjadi di lingkungan sekitar atau sepanjang jalan kenangan? Terpampang mulai dari baligho hingga poster besar maupun kecil, ditempel, diikat maupun dipaku di sembarang tempat dan pastinya mengganggu keindahan dan pemandangan serta kebersihan lingkungan. Capek deh, dengan aplikasi visi-misi kota dan motto kota yang melibatkan “keberpihakan” terhadap lingkungan ternyata dikotori dengan hal-hal dengan demikian. Belum lagi banyak pohon-pohon yang bersedih, ketika tubuhnya menjadi cacat dan tetanus akibat paku-paku yang menancap tanpa ada yang mencabut kembali.  Berapa banyak dana (baca:uang rakyat) untuk memperbaiki atau memperbarui lingkungan yang demikian? Itu belum lagi dengan gesekan yang terjadi antar tim sukses dan juga masyarakat (baca:yang juga sama-sama ‘atas nama rakyat’).

Masa-masa kampanye adalah masa-masa ketegangan hubungan antar elemen masyarakat karena ego-ego para tim sukses dan balon-balon. Muncul isu-isu SARA yang diseret untuk terlibat dalam pertarungan tersebut. Maka…seberapa efektifkah proses ini (pemilu) dengan mengatasnamakan demokrasi? Padahal, katanya dengan terjunnya dalam dunia demokrasi yang sudah mengeforia di dunia ini bertentangan dengan ‘pandangan filsafat’ negeri ini yaitu Pancasila sila ke 4 dan 5, penghambur-hamburan ‘uang rakyat’ yang sekarang ini negeri kita masih terlilit hutang yang terbebani pula pada bayi-bayi yang baru lahir (tangisan bayi yang baru lahir itu, karena kaget karena sudah mendapat tagihan hutang yang harus dibayar).

Ya…sebuah drama pada musim kampanye sepanjang waktu. Kebohongan demi kebohongan bergulir yang melahirkan sosok-sosok halusinasi tokoh dengan segala ambisi. Cita-cita yang pada awalnya mencari kesejukan dalam musyawarah/mufakat berganti dari ”kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” menjadi “kerakyatan yang dipimpin oleh nikmat demokrasi dalam kesemuan permusyawaratan/perwakilan” (maaf saya membuat plesetan). Karena telah diisi oleh orang-orang ambisi dengan kesemuan tujuan yang “mengatasnamakan rakyat”. Keti mencari “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang didapat “Ke-tidak adil-an sosial bagi rakyat kecil di Indonesia”. BERSAMBUNG.

(Catatan kecil melihat tayangan demokrasi negeri ini)

(GoesPrie, 19-10-12)