(Selamat) TAHUN BARU

Apa yang dilakukan di tahun baru? Wah, jangan tanya deh, seabrek jawaban untuk menjelaskan apa yang dilakukan saat tahun baru, seabrek kegiatan atau acara akan menyemarakan peralihan tahun baru tersebut. Kemudian apa harapan pada tahun baru? Jawabannya hampir seragam, yaitu perubahan. Perubahan apa saja yang mengarah kebaikan dan perbaikan, pada diri, masyarakat, negara, kondisi, suasana, gaji (hehehe…), jodoh (bagi yang lajang) dan pangkat/karir. Tapi ada juga jawabannya…ah biasa saja, mau tahun lama kek, mau tahun baru kek, hidup gue begini-begini doang…. emangnye kalau berubah gue harus bilang wow githu sambil koprol (iklan lewat). Yah…secara umum penyambutan yang baru pasti dengan suka cita.

Kesukacitaan ini terkadang diujudkan berupa le’ le’ an alias begadang semalam suntuk dengan agenda acara yang didesain sebagai bentuk ujud kesukacitaan itu. Nonton wayang semalam suntuk, bakar-bakaran sate, bakar jagung, bakar mercon dan kembang api, asal tidak bakar sampah semalaman suntuk, pasti tidak merasakan suka cita karena akan dimarahi oleh para tetangga. Pada pagi harinya…, semua tempat pada berantakan, sampah berhamburan, bangun pada kesiangan, yang muslim lupa subuhan… . Dan apa yang didapat? Ya capek, jadi malas untuk beraktivitas, ngantuk-an, dan… apa bedanya dengan sebelum tahun baru. Katanya ada perubahan yang lebih baik dengan menyabut esok pagi dengan ceria, semangat, perbedaan kondisi dan lain-lain.

Ya…tahun baru baik tahun baru masehi maupun hijriyah intinya sama…tapi ada yang lupa, bahwa setiap saat kita selalu menyambut detik-detik yang baru. Denyut jantung yang baru, helaan dan hembusan nafas yang baru, langkah-langkah yang baru yang menentukan kehidupan di balik kehidupan di dunia ini. Bahkan Umar bin Khatthab mengatakan bahwa setiap saat (detik) kita itu menuju ke liang lahat, (mendekatkan diri) kepada kematian, bukan panjang umur tetapi menghabiskan jatah umur kehidupan di dunia ini. Dan beliaupun memberikan nasehat, “hisablah dirimu sebelum kamu dihisab” sebuah kalimat introspeksi diri (muhasabah) untuk kepentingan diri sendiri. Rasulullah SAW juga mengingatkan dengan lima sebelum lima, yaitu tentang kehidupan ini sebelum kematian yang menjemput, sehat sebelum sakit mendera badan, sempat sebelum kesempitan yang menjepit, kaya (tidak hanya kaya/kekayaan harta) sebelum kemiskinan yang mendesak, waktu muda (nikmat kekuatan dan kebermanfaatan potensi) sebelum tua yang mengerogoti badan. Rasulullah SAW pun mengingatkan dengan kemanfaatan waktu (hari) dengan menyebutkan beruntung bagi orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, sebuah kerugian bagi orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, bahkan sebuah kecelakaan diri bila seseorang yang hari ini keadaannya lebih buruk/jelek dari hari kemarin.

Bagi orang beriman, mau tahun baru, bulan baru, minggu baru, hari baru, hingga detik-detik baru haruslah memiliki makna nilai perbaikan dan kebaikan diri, yang menentukan keadaan dan kondisi mereka di hari dimana tidak ada jaminan lagi selain jaminan dari Sang Pencipta Alam, Allah SwT. Yang setiap saatnya pada dirinya akan diminta pertanggungjawaban oleh pencipta dirinya, Al Khaliq Rabbul Jalal. Tidak hanya “selamat tahun baru” tapi juga selamat bulan baru, hari baru, detik-detik baru, sehingga mendapatkan “selamat dunia, selamat akhirat, terbebas dari siksa neraka”.

(GoesPrie, 14 – 11 – 12 M, 29 – 12 – 33 H)