Bila Seorang Muslim malu akan Kemuslimannya

Ada sebuah cerita dari negeri Fashion dunia, Paris. Seorang muslimah berpakaian purdah (salah satu jenis pakaian muslimah yang menggunakan penutup wajah) masuk ke sebuah toko swalayan untuk membeli keperluan sehari-harinya. Ia mengambil barang yang dibutuhkan di rak pajangan barang-barang. Selama ia melakukan aktivitas itu banyak mata yang selalu melirik kepadanya. Setelah selesai mengambil barang yang dibeli, ia langsung ke kasir untuk melakukan pembayaran. Ternyata, sesampai di kasir ia dicuekin sang kasir, muslimah ini tetap dalam kondisi sabar dan meletakkan keranjang belanjaan di atas meja kasir. Kemudian sang kasir mulai membuat ulah lain dengan mengambil barang dan memasukan ke kantung pesanan secara kasar.  Sang muslimah tetap menanggapi dengan ramah atas perlakuan sang kasir. Barangkali dengan balasan yang lemah lembut membuat sang kasir naik pitam dan melontarkan kata-kata pedas, “Hai…Anda! bukan Anda saja yang muslimah, saya pun seorang muslimah, (ternyata sang kasir seorang muslimah hanya tidak menggunakan hijab sedikitpun) tapi saya tidak menjual agama dan tradisi di negeri orang (maksudnya Perancis). Kalau Anda ingin melaksanakan agama dan tradisi Anda pulang saja ke negeri Anda sana, dan Anda bebas melakukan apa saja sesuai dengan agama dan tradisi Anda!”. Kata-kata pedas itupun disambut dengan anggukan halus dari muslimah yang memakai hijab (baca : cadar)  ini dan sambil membuka hijabnya, nampak wajah khas orang bule (putih) dan mata birunya, sambil berkata halus kepada wanita kasir tadi,”maafkan saya, saya memang membeli agama Anda dan tradisi (syariat) agama Anda di negeri saya sendiri, bukan seperti Anda yang menjual agama dan tradisi (syariat) agama Anda sendiri di negeri orang…”. Sang kasir hanya terpana melihat dan mendengar apa yang dikatakan muslimah berhijab tadi…

Yah itu hanya segelintir contoh…, seorang muslim di zaman sekarang terkepung oleh dua peradaban atau budaya yang sama-sama eksis dalam kehidupan pribadinya, sementara tuntunan dan tuntutan dari Islam adalah bagaimana Islam dapat diterapkan secara kaffah (sempurna).  Ketika dihadapkan dengan kondisi ini maka dimungkinkan seorang muslim menunjukkan sikap yang menyesuaikan diri terhadap peradaban dan atau budaya tersebut, minimal malu untuk menunjukkan kekaffahannya dalam menjalankan ajaran Islam.  Ketika masuk dalam komunitas budaya tradisi-tradisi (nenek moyang), minimal ia tidak dianggap menentang atau menghargai keberadaan tradisi dan budaya tersebut walaupun sebenarnya ada banyak yang bertentangan dengan ajaran agama. Demikian pula ketika memasuki lingkungan yang berkembang (menganggap) sebagai kelompok modern dalam sisi pergaulan, dimana muncul fenomena kebebasan (baca : kebablasan) dalam beraktivitas yang menghilangkan aturan-aturan tabu. Padahal Islam sendiri tidak menentang hal-hal yang bersifat tradisi atau budaya dan juga modernitas ‘selama’ hal itu tidak bertentangan dengan aqidah dan syariat yang berlaku.

Sebagai contoh tradisi dan budaya yang dianggap perlu dilestarikan karena keunikannya (bahasa wartawan media), budaya atau tradisi jamasan pusaka atau sering disebut pencucian barang-barang peninggalan nenek moyang, apakah itu keris, kebo, kereta kencana, alat musik tradisional, senjata para pendekar (baca: pahlawan) pejuang yang dianggap ‘sakti’, peringatan-peringatan yang berhubungan dengan kehidupan manusia, dan sebagainya. Bagi orang tradisonis, ini semacam ritual yang mau tidak mau,  tidak bisa ditinggalkan dan dianggap celaka bila dilanggar (tidak dilaksanakan). Dan lebih parah lagi karena ‘kegilaan’ terhadap tradisi ini, sebagian orang yang menyatakan dirinya seorang muslim mengambil air sisa cucian dari barang atau benda-benda yang dianggap keramat, kata mereka “mendapatkan berkah”, ????…. (bukan keberkahan itu hanya milik Allah?).

Kemudian di lingkungan kebudayaan yang mengusung modernitas dan mengusung asas ideologi kebebasan, persamaan dan kemerdekaan. Seorang muslim membatasi diri untuk menampakan keislamannya. Contoh sederhana, berapa persenkah para muslimah mengenakan pakaian hijabnya dikarenakan tuntunan syariat Islam? Pasti sangatlah kecil kecuali ia kenakan karena tuntutan formalitas sebuah lembaga atau organisasi formal atau karena tuntutan komunitas sosial seperti sekolah, majlis taklim, tempat kerja; hanya sekedar mengikuti model modis yang tetap menunjukkan kefeminimannya yang sesuai dengan tuntutan pasar. Seberapa banggakah seorang muslim mengikuti majlis-majlis taklim? Atau karena keterpaksaan sosial. Bahkan seorang muslim agar disebut modern juga memaksa diri umtuk ikut kegiatan sosial atau pekerjaan  yang menggiring kekufuran dalam bentuk pesta pora dengan sajian nyanyian penuh erotisme dan minum-minum. Ada juga yang ketika terjun ke dunia entertaiment dengan alasan ini hanya tuntuntan profesionalisme sebuah profesi seni. Dan ketahuilah bahwa mereka bangga akan hal demikian. Ya…tuntunan menjadi tontonan dan tontonan menjadi tuntunan (Naudzubillahi min dzalika…).

Padahal untuk menunjukkan kepada kejayaan sebuah syariat maka dibutuhkan sosok-sosok muslim yang bangga akan keberadaan syariatnya, dan mendakwahkannya sebagai buah kenikmatan dari keimanan serta mempertahankannya bagaikan kekhawatirannya kehilangan harta yang paling berharga di dunia. Sebagaimana gambaran seseorang tersebut ketika mendapatkan nikmat keimanan dan menjadikannya cinta terhadap keimanan seperti dalam Qur’an Surah 47 ayat 7 yang artinya “…tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”.

Sifat malu memang merupakan sebagain dari keimanan seseorang (al haya’ minal iman – al hadits), tetapi ketika malu terhadap keimanan dan menunjukkan keimanannya maka tidak termasuk bagian dari iman itu sendiri, justru ia termasuk orang mudzabdzabin (alias orang yang takut dan tidak memiliki pendirian) dan dianggap peragu dalam menjalankan dan membela ajaran Allah, sebagai mana disindir Allah dalam Al Qur’an An Nisa’ ayat 143 yang artinya “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya”.

Memang ketika seorang Muslim yang menjalankan ajaran syariat sesuai tuntunan agama Allah, dinul Islam tidak lepas dari gangguan, minimal lecehan perkataan (seperti cerita di awal tulisan ini) maupun perlakuan, dan maksimal mereka menghadapi perbuatan yang mengakibatkan sebuah kecederaan fisik hingga kematian.

Pilihlah pilihan Anda, malu akan keislaman Anda atau bangga akan keislaman Anda. Wallahu a’lam bishshawwab.

(GoesPrie, 3 – 12 – 12)