Nama Rasulullah SAW dalam Kitab Terdahulu

Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW memberikan arahan berkenaan isi dari kitab-kitab terdahulu ketika ditanya oleh shahabat adalah jangan membenarkan seluruhnya dan juga jangan mendustakan seluruhnya. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dalam kitab Bukhori, Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Dahulu, Ahli Kitab membaca Kitab Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya ke dalam bahasa Arab untuk kaum Muslimin. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian benarkan perkataan Ahli Kitab dan jangan pula kalian dustakan mereka, akan tetapi katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami’.” (HR Bukhari [4485]). Mengapa demikian? Dikarenakan dalam kitab-kitab terdahulu yang sekarangpun beredar masih tersimpan sebagian kebenaran yang ada, sementara kebenaran lainnya disembunyikan atau diganti oleh mereka yang disesuaikan dengan kepentingan mereka. Sebagai contoh tentang kebenaran tentang Nubuwah kehadiran Rasulullah SAW, ternyata masih tercantum dan tersimpan rapi dalam bahasa asli kitab mereka, walaupun dalam terjamahan kemudian banyak dilakukan penggeseran makna dan arti.

Sebagai seorang mukmin, harus percaya bahwa apa yang diwahyukan Allah SWT melalui Rasulullah SAW adalah benar berkenaan informasi kedatangan Rasul akhir zaman yang bernama Muhammad bin Abdullah SAW yang benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu. Di antaranya adalah :

  1. Dalam QS Al A’raf (7) ayat 157 yang artinya : “(yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka”. Bahwa dalam ayat ini menjelaskan kepada kita, Muhammad SAW, namanya memang tercantum dalam kitab mereka (kitab-kitab terdahulu), dan merekapun sebenarnya sangat mengenal bagaikan mengenal anak-anak mereka sendiri, sebagaimana Allah jelaskan dalam QS Al Baqarah (2) ayat 147 yang artinya : “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. Dan dalam QS Al An’am (6) ayat 20 yang artinya : “Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).”
  2. Adalah mustahil bila para Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah SAW berdusta, karena merekapun diminta perjanjian yang kuat oleh Allah SWT berkenaan yang demikian, sebagaimana Allah tulis dalam QS Ali Imron (3) ayat 81, yang artinya : “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian (perjanjian yang kuat) dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul (yaitu Rasulullah SAW) yang membenarkan apa yang ada padamu (para Nabi yang sedang diambil perjanjiannya), niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka (para Anbiya sebelum Rasulullah SAW) menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku (Allah SWT) menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Nah, berkenaan dengan nubuwwah kehadiran Rasul terakhir inipun tercantum dibeberapa manuskrip kitab-kitab kuno agama-agama lainnya dengan berbagai istilah atau nama. Dan mustahil pula nama secara bahasa tercantum sama pada bahasa lainnya, sebagaimana yang akan diuraikan dalam corat-coret ringan ini.

Selanjutnya, di bawah ini ada beberapa bukti berita tentang pengutusan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir dan tidak adan Nabi dan Rasul sesudah Muhammad SAW.

  1. Dalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama)
    Sebelumnya kita harus tahu dulu apa itu Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Lama adalah bagian pertama dalam Alkitab Kristen yang dibagi dalam dua bagian. Bagian keduanya disebut Perjanjian Baru. Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab itu dapat dibagi dalam kategori hukum, sejarah, puisi dan nubuatan. Semua kitab tersebut ditulis sebelum kelahiran Yesus, dimana 97% isinya ditulis dalam Bahasa Ibrani dan sisanya dalam Bahasa Aram. Isi Perjanjian Lama identik dengan kanon Alkitab Ibrani, yaitu kitab suci Yahudi yang juga disebut Tanakh (Taurat), tetapi dengan urutan yang berbeda. Susunan urutan kanon Tanakh berakhir dengan Kitab Tawarikh, sedangkan Perjanjian Lama berakhir dengan Kitab Maleakhi.
    Dalam kitab Perjanjian Lama, Deuteuronomy (Ulangan) 18 : 15 – 18, yang menceritakan khabar dari Nabi Musa as kepada umatnya Bani Israil bahwa akan lahir nabi dari keturunan saudara Bani Israil, yaitu Bani Ismail. Pernyataan tersebut adalah sebagai berikut dalam bentuk terjemah : “Tuhan akan mendatangkan kepadanya seorang Nabi yang berasal dari antara saudara kamu juga, yang dilahirkan sebagaimana aku (pen : lahir dengan perantara ibu dan ayah, tidak seperti Isa as yang hanya perantara ibu), dimana kepadanya kamu harus beriman juga. Sesuai dengan kehendak Tuhan pada hari dimana umat manusia dikumpulkan, berkatalah kamu semua, biarkanlah kami tidak mendengarkan lagi suara Tuhanku, dan tidak juga melihat api yang besar serta tidak pula aku ingin mati. Dan berkatalah Tuhan kepadaku, mereka akan menemukan apa yang telah mereka katakan. Aku akan datangkan kepada mereka seorang Nabi yang berasal dari tengah-tengah mereka, sebagaimana kamu, dan Aku letakkan kata-kataku pada mulutnya, dan dia akan berkata kepada mereka apa yang Aku perintahkan kepadanya untuk berkaata demikian”

Cuplikan teks asli bahasa Hebrew :

Deuteronomy

Dalam ayat lain, juga pada Deuteuronomy 34 : 10, menjelaskan “tidak akan didatangkan lagi seorang Nabi dari antara bangsa Israil seperti Nabi Musa as.

Pada bagian lain, dijelaskan sebagian ciri Nabi Muhammad SAW seperti tercantum dalam Isaiah 21 : 7 yang terjamahannya : “Dia melihat dua pengendara, satu di antaranya adalah pengendara keledai, sedangkan lainnya adalah pengendara unta, dia mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian”. Perhatikan siapa yang dimaksud pengendara keledai dan siapa yang dimaksud pengendara unta. Keledai adalah kebanyakan hewan yang dikendarai di wilayah Palestin tempat kelahiran Nabi Isa as, dan Unta adalah kebanyakan hewan yang dikendarai di wilayah Arabia tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan ciri lain adalah Muhammad adalah sosok komunikator ulung dengan sebagai bentuk ia merupakan sosok pendengar yang baik bagi orang yang berkomunikasi dengannya. Cuplikan teks asli bahasa Hebrew :

Isaiah 21 7

Sumber pelengkap lain bisa diakses juga di : http://indonesiaindonesia.com/f/47086-muhammad-kitab-perjanjian-lamanasrani-liat/

  1. Dalam Perjanjian Baru
    Perlu diketahui, bahwa Kitab Perjanjian Baru adalah bagian dari Alkitab Kristen yang ditulis setelah kelahiran Yesus Kristus. Kata “Perjanjian Baru” merupakan terjemahan dari bahasa Latin, Novum Testamentum, yang merupakan terjemahan Yunani: ΗΚαινη Διαθηκη, I Keni Diathiki. Umat Kristen awal berpendapat bahwa kitab ini merupakan penggenapan isi nubuat yang ada di Alkitab yang sudah ada dan kemudian diberi nama Perjanjian Lama. Perjanjian Baru kadang-kadang disebut sebagai Kitab Yunani Kristen karena ditulis dalam bahasa Yunani oleh para pengikut Yesus yang belakangan dikenal sebagai Kristen. Teks asli Perjanjian Baru ditulis oleh beberapa orang penulis sekitar setelah tahun 45 M, kemungkinan besar dalam Bahasa Yunani Koine (menurut primasi Yunani), lingua franca Kekaisaran Romawi bagian timur.

Dalam Yahya 14 : 15 – 16 dan 25 – 26 dijelaskan pula, yang terjamahannya : “Jika kamu mencintai-Ku (pen : Yesus), niscaya kamu akan mentaati perintah yang sudah Aku (pen : Yesus) sampaikan kepadamu. Dan Aku akan bersembahyang kepada Bapa (pen : Allah), dan Dia (pen : Allah) akan memberimu Pemberi Kabar Gembira yang lain (pen : Nabi Pembawa Kabar Gembira), yang mungkin bersamamu untuk selamanya. Sesuatu yang telah Aku (pen : Yesus) sampaikan kepadamu ini akan tetap tetap kekal bersamamu. Tetapi Pemberi Kabar Gembira yang merupakan pembawa semangat kebenaran yang akan dikirim Bapa (pen : Allah), dia (Sang Pembawa Kabar Gembira) akan memberimu pelajaran tentang segala sesuatu dan membawa segala sesuatu seluruh ingatanmu (pen : nubuwah yang telah disampaikan para utusan sebelumnya untuk diimani), demikianlah apa yang kukatakan kepadamu”.

Kemudian dalam Yahya 16 : 7 – 8, 12 – 13 dijelaskan pula yang dalam terjamahannya, “Sekalipun demikian, Aku (pen : Yesus) katakan kepadamu tentang kebenaran. Adalah kebijakan untukmu, jika Aku pergi, atau jika Aku tidak pergi, Pembawa Kabar Gembira tidaklah akan datang kepadamu…dan dia, bilamana telah datang, akan memberi hukum di dunia berlandaskan dosa dan kebenaran serta kebijaksanaan. Aku belum begitu banyak berkata kepadamu, tapi kalian tidak bisa menahan sekarang. Walaupun begitu, apabila dia, Pembawa Semangat Kebenaran datang, dia akan membimbingmu ke arah keimanan dimana ia tidak akan bicara atas kemauannya sendiri, melainkan apa yang ia dengar (dari Tuhan), ia akan katakan, dan ia akan menyatakannya kepada kalian, segala sesuatu yang akan datang.

Teks asli bahasa Yunani :

Yahya 14 15 16 Yahya 14 25 26

 

Coba kita perhatikan dan simak perkataan Yesus, Isa as, Nabi terakhir dari keturunan bani Israil yang menjelaskan sosok Pembawa Kabar Gembira atau sosok Pembawa Semangat Kebenaran. “Pemberi Kabar Gembira yang merupakan pembawa semangat kebenaran yang akan dikirim Bapa (pen : Allah), dia (Sang Pembawa Kabar Gembira) akan memberimu pelajaran tentang segala sesuatu dan membawa segala sesuatu seluruh ingatanmu (pen : nubuwah yang telah disampaikan para utusan sebelumnya untuk diimani), demikianlah apa yang ku (pen : Yesus) katakan kepadamu”, Bandingkan dengan sosok Muhammad SAW, yang ia menjelaskan segala sesuatu tentang kehidupan, aturan kehidupan mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, interaksi antar ciptaan, bahkan tentang kehidupan akhirat. Dan Muhammad SAW, menjelaskan pula bagaimana keimanan yang wajib dijalani berkenaan dengan nabi dan rasul sebelumnya, mengimani kitab-kitab sebelum Al Qur’an, dan bagian-bagian apa yang telah disampaikan oleh para utusan (nabi dan rasul) sebelumnya.

Kemudian “dan dia, bilamana telah datang, akan memberi hukum di dunia berlandaskan dosa dan kebenaran serta kebijaksanaan”, Muhammad SAW menegakkan hukum sesuai dengan kebenaran yang harus ditegakkan, penetapkan hukum berdasarkan dosa dan kesalahan yang dilakukan (keadilan hukum Islam), dan dilakukan secara bijaksana, maka Muhammad SAW dikenal sebagai Al Amin, Penyantun yang tidak hanya kepada kaum muslimin melainkan juga orang-orang di luar Islam, Pemaaf yang luar biasa dan bukan pendendam.

Dan ciri lainnya seperti pada kalimat “apabila dia, Pembawa Semangat Kebenaran datang, dia akan membimbingmu ke arah keimanan dimana ia tidak akan bicara atas kemauannya sendiri, melainkan apa yang ia dengar (dari Tuhan), ia akan katakan, dan ia akan menyatakannya kepada kalian, segala sesuatu yang akan datang”. Apa yang ia sampaikan adalah wahyu dan bukan sama sekali berdasarkan perkataannya sendiri apalagi nafsunya, hal ini selaras dengan pernyataan Al Qur’an dalam QS An Najm ayat 1 – 6 , yang terjamahannya “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya dari Allah SWT), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli”. Dan Muhammad SAW menyampaikan nubuwwah berkenaan ciri-ciri masa depan (menjelang hari akhir). Subhanallah, selaras dan tidak ada celah, kesamaan kitab terdahulu dengan Al Qur’an berkenaan dengan Muhammad SAW.

  1. Dalam Kitab agama Budha
    Agama Buddha adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak benua India dan meliputi beragam tradisi kepercayaan, dan praktik yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran yang dikaitkan dengan Sidhartha Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang Buddha (berarti “yang telah sadar” dalam bahasa Sanskerta dan Pali). Sang Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu antara abad ke-6 sampai ke-4 SM. Beliau dikenal oleh para umat Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avidyā), kehausan/napsu rendah (taṇhā), dan penderitaan (dukkha), dengan menyadari sebab musabab saling bergantungan dan sunyatam dan mencapai Nirvana (Pali: Nibbana). Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi).

Dalam kitab suci agama Budha, yaitu Tripitaka ada sebuah dialog antara sang murid dengan Yang Dimuliakan Sang Budha,  dalam Chakkavatti Sinhnad Suttanta D.111, 76,  yang terjamahannya sebagai berikut :

“Ananda berkata kepada Yang Dimuliakan: “Siapakah yang akan memberi pelajaran kepada kami jika tuan sudah pergi?”

Yang Dimuliakan menjawab: “Aku ini bukanlah satu-satunya Budha yang akan datang ke dunia, juga bukanlah aku yang terakhir, Nanti pada saatnya akan datang Budha yang lain ke dunia ini, yang suci, yang unggul dan cemerlang, yang menampakkan kebijaksanaan dalam tingkah lakunya, yang memberikan harapan, yang tahu tentang alam, seorang yang tiada bandingannya dalam memimpin, seorang yang memiliki sifat-sifat malaikat dan yang mesti mati. Dia akan menyelamatkan kamu yang sama kekal sebagaimana apa yang telah kuajarkan kepadamu, dia akan berkhutbah tentang agamanya, yang mulia pada awalnya yang mulia pada puncaknya, dan mulia dalam tujuannya. Dia akan menyatakan tentang agama kehidupan, yang kesemuanya asli dan sempurna, sebagaimana yang baru saja saya nyatakan. Pengikutnya akan sebanyak jutaan, sedangkan pengikutku hanya ratusan ribu”

Ananda berkata, “Bagaimana kami bisa mengetahui dia?”.

Yang Dimuliakan menjawab, “Dia dikenal sebagai Maitreya…”. (Maitreya artinya seorang yang pengasih dan yang dimuliakan atau terpuji, bandingkan dengan julukan Muhammad SAW sejak kecil dengan Al Amin…, yang memiliki sifat kasih sayang yang luar biasa bahkan terhadap lawan atau yang memusuhinya). Catatan bahwa dalam bahasa Sankrit : Maitreya, bahasa Pali : Metteyya, bahasa Inggris : Mercy,  bahasa Arab : Rahmah,Rahmat. Terjamahan sederhana ini sesuai dengan ayat dalam al Qur’an surat Al Anbiya (21) ayat 107 yang terjemahannya : “Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi RAHMAH bagi semesta alam”.

Mengikut Kitab Agama Buddha yang di tulis oleh Carus, muka surat 214 : “Buddha pernah berkata: “Terdapat dua peristiwa di mana rupa Tathagata (Buddha) akan jadi amat cerah. Peristiwa yang pertama ialah di waktu malam bilamana beliau sudah sampai ke tahap yang paling tinggi dari segi rohani (Nirvana). Peristiwa yang kedua ialah pada malam Buddha meninggalkan dunia yang fana ini (dia mati)”. Dari keterangan ini, bandingkan saat Muhammad SAW menjalani peristiwa Isra’ dan mi’raj hingga tempat yang tertinggi pada malam penuh keberkahan, dan saat kematian beliau layaknya seorang manusia biasa (natural) di malam hari dengan penuh ketenangan. Subhanallah.

Ciri lain yang diramalkan oleh Sang Budha Gautama yang mencirikan agama yang dibawa Maitreya atau sang Budha Agung yang ditunggu-tunggu adalah sebagaimana tercantum dalam muka surat 36 Mara-Parinibbana Sutta bab 2 ayat 32 , cuplikan dari buku Sacred Books of the East jilid 11, yaitu : “Budha menyebutkan,”Saya sudah menyampaikan keseluruhan agama saya yang benar kepada seluruh lapisan masyarakat. Wahai ananda (murid-murid Budha), seorang Tathagata tidak menyembunyikan sesuatu kebenaran tetapi ia (Sang Maitreya) akan sebarkan dan mengajarkan keseluruhan agama itu (ajarannya tanpa disembunyikan satupun). Coba bandingkan apa yang dilakukan oleh Muhammad SAW, ia menyampaikan risalah dari Rabb-nya samapi tuntas sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Al Qur’an surat al Maidah (5) ayat 3, yaang terjemahannya yaitu : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Allahu Akbar, Subhanallah.

  1. Dalam Kitab agama Hindu

Agama Hindu (Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म “Kebenaran Abadi”), dan Vaidika-Dharma (“Pengetahuan Kebenaran”) adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk. Ajaran agama dalam Hindu didasarkan pada kitab suci atau susastra suci keagamaan yang disusun dalam masa yang amat panjang dan berabad-abad, yang mana di dalamnya memuat nilai-nilai spiritual keagamaan berikut dengan tuntunan dalam kehidupan di jalan dharma. Di antara susastra suci tersebut, Weda merupakan yang paling tua dan lengkap, yang diikuti dengan Upanishad sebagai susastra dasar yang sangat penting dalam mempelajari filsafat Hindu. Sastra lainnya yang menjadi landasan penting dalam ajaran Hindu adalah Tantra, Agama dan Purana serta kedua Itihasa (epos), yaitu Ramayana dan Mahabharata. Bhagawadgita adalah ajaran yang dimuat dalam Mahabharata, merupakan susastra yang dipelajari secara luas, yang sering disebut sebagai ringkasan dari Weda. Hindu meliputi banyak aspek keagamaan, tradisi, tuntunan hidup, serta aliran/sekte. Umat Hindu meyakini akan kekuasaan Yang Maha Esa, yang disebut dengan Brahman dan memuja Brahma, Wisnu atau Siwa sebagai perwujudan Brahman dalam menjalankan fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta.

Seorang Profesor bahasa beragama Hindu Bahmana dari Bengali, India bernama Pundit Vedaprakash Upadhyai, membedah kitab Weda, Kitab dari agama Hindu berkenaan dengan Kalki Avatar sebagai Amtim Rishi atau Avatar Terakhir atau Reshi Terakhir dengan ciri-ciri yang sangat jelas mengarah kepada Muhammad SAW. Dan bahkan nama beliau SAW jelas tercantum dalam bentuk bahasa asli kitab Weda bahasa Sankrit. Adapun manuskrip tersebut adalah sebagai berikut :

bhavishya

Pada naskah di atas, dalam Bhavishya Purana Parv 3, Khand 3, Adhya 3, Shalok 5 – 8, terdapat sebuah kata pada lima kata dari kiri ke kanan baris pertama, yang menjelaskan seorang utusan terakhir yang berasal dari sebuah wilayah yang namanya : Marussthalnivasinan, yaitu daerah padang pasir di semenanjung Arab. Terjemahan bebas tersebut (Ali Akbar, 1987:29-30) adalah “Lalu seorang yang buta huruf dengan nama kehormatan Guru, yang bernama Muhammad, setia sekali terhadap pengikutnya.Raja (bhoja dalam sebuah pemandangan), kepada siapa Dewa Besar, penduduk Arab, mensucikan diri dengan air Gangga, dan dengan lima hal dari gembala lembu menyampaikan sandal kayu dan berdoa untuknya. Oh penduduk Arabia dan Tuhan dari yang suci, kepada siapa aku memuja. Oh, kepada siapa yang telah menemukan banyak jalan dan ncara untuk mennghancurkan syaitan di muka bumi ini. Oh, yang benar-benar buta huruf dari kumpulan orang yang buta huruf. Oh, orang yang tidak berdosa, semangat keimanan dan yang sempurna kebaikannya, yang menjadi pujaanku. Terimalah aku pada telapak kakimu”.

Dan pada naskah berikut ini, dalam Atharva Veda, Khanda 20, Sukta 127, Mantra 1 – 3 :

Atharva

Terjemahannya : “Oh, orang-orang, dengarkan ini baik-baik. Orang yang terpuji akan datang di antara kamu. Kita letakkan para pendatang di tempat penampungan dari enampuluh ribu dan sembil puluh musuh yang bertekuk lutut bersama duapuluh unta yang menempatkan posisinya menyentuh surga dan sedikit di bawahnya. Dia memberi Mamah Rishi ratusan keping emas, puluhan bola putar, tigaratus kuda Arab, dan sepuluh ribu lembu”.

Pada naskah lain, dalam Bhavisa Purana –; Pratisarag Parv III, Khand 3, Adhyay 3,Shalokas 10 – 27 : “Aryadarma akan tampil di muka bumi ini. Agama kebenaran akan memimpin dunia ini. Dia diutus oleh Isyparmatma. Dan pengikutnya adalah orang yang berada di lingkungan itu, yang kepalanya tidak dikucir, mereka akan memelihara jenggot dan akan mendengarkan wahyu, mereka akan mendengarkan panggilan ibadah, mereka akan memakan apa saja kecuali daging babi, mereka tidak akan disucikan dengan tanaman semak semak/umbi-umbian tapi mereka akan suci di medan perang. Meraka akan dipanggil Musalaman (Perantara kedamaian)”.

Dalam Atharvaveda 20 Hymn 127 Shlokas 1 – 14 disebutkan tentang Kuntupsuktas yang mengisyaratkan bahwa nabi Muhammad akan terungkap kemudian, yaitu :

Mantra 1 mengatakan : ia akan disebut Narasangsa (Bahasa Sansekerta). “Nars” artinya orang, “sangsa” artinya “yang terpuji”. Jadi Narasangsa artinya : orang yang terpuji. Ia juga disebut “Kaurama” yang bisa berarti : pangeran kedamaian,dan bisa berarti : orang yg pindah (hijrah) atau pangeran kedamaian yang hijrah. Ia akan dilindungi dari musuh yang akan dikalahkannya yang berjumlah 60.090 orang. (Catatan : Jumlah itu adalah sebanyak penduduk Makkah pada masa Muhammad melakukan  Fathul Makkah yaitu sekitar 60.000 orang).

Mantra 2 mengatakan : ia adalah resi yang naik unta. Ini berarti ia bukan seorang bangsawan India, karena dikatakan dalam Mansuriti(11) : 202 mengatakan bahwa Brahma tidak boleh menaiki unta atau keledai. (Penjelasan bahwa tokoh yang dimaksud ini jelas bukan dari golongan Brahmana, tapi seorang asing di luar India).

Mantra 3 mengatakan : ia adalah “Mama Rishi” atau resi agung.

Mantra 4 mengatakan : ia adalah Washwereda atau Rebb (bahasa Sansekerta) artinya orang yang terpuji.

Dalam Atharvaveda 20 hymn 21 : 6 dinyatakan bahwa di sana disebutkan dengan istilah : “akkaru” yang artinya : “yang mendapat pujian”. Dia akan mengalahkan 10.000 musuh tanpa pertumpahan darah. (Dalam Shiroh Nabi, hal ini merujuk pada perang Ahzab dimana Nabi Muhammad mengalahkan musuh yang berjumlah 10.000 orang tanpa pertumpahan darah).

Dalam Atharvaveda 20 hymn 21 : 7 dinyatakan bahwa Abandu (Avatar ini) akan mengalahkan 20 penguasa. Abandu juga berarti seorang yatim atau seorang yang mendapat pujian. (Dalam catatan sejarah bahwa nabi Muhammad adalah seorang yatim sejak lahir dan yang akan mengalahkan kepala-suku-suku dari suku-suku di sekitar Makkah yg berjumlah sekitar 20 suku).

Dalam Rigveda 1 Hymn 53 : 9, Nabi dipanggil dengan sebutan “Suslama” yang artinya adalah : orang yang terpuji.

Dalam Samaveda Agni Mantra 64 dinyatakan bahwa ia tidak disusui oleh ibunya. (Dalam catatan sejarah bahwa Nabi Muhammad yang tidak disusui oleh ibunya tapi oleh seorang wanita bernama Halimah).

Dalam Samaveda Uttararchikav Mantra 1500 dinyatakan bahwa Amahdi akan dianugrahi undang-undang abadi. (Penjelasan, bahwa undang-undang abadi atau undang-undang akhir zaman ini adalah mengacu kepada Al Qur’anul Karim yang diturunkan melalui nabi Muhammad SAW).

Dalam Baghavata Purana Khand 12 Adhyay 2 Shloka 18-20 disebutkan dalam rumah Visnuyash akan dilahirkan Kalky Avatar yang diramalkan akan menjadi penguasa dunia, yang terkenal dengan sifat-sifatnya yang baik & menonjol. Dia akan diberi tanda-tanda. Dia akan diberi oleh malaikat sebuah kendaraan yang cepat dari Shiva (Buraq, saat peristiwa Isra’ mi’raj). Dia akan menaiki kuda putih (kuda kesayangan Rasulullah) sambil memegang pedang. Dia akan mengalahkan orang-orang jahat dan dia akan terkenal di dunia. (Penjelasan, bahwa Visnuyash dalam agama Hindu berarti Rumah Tuhan, atau dalam bahasa Arab Baitullah).

Dalam Baghavata Purana Khand 1 Adhyay 3 Shloka 25 disebutkan akan ada juru selamat di rumah Visnuyash

Dalam Kalki Purana (2) : 4 disebutkan bahwa di rumah Vishnubaghat pemimpin kampung Sambala akan lahir Kalki Avtar. (Penjelasan, Sambala dalam bahasa Sansekerta berarti tempat atau daerah aman dan damai, sama makna dengan kata Makkah Mukarromah, Makkah Darul Aman dalam ajaran Islam. Dan Vishnubaghat dalam bahasa Sansekerta berarti hamba Vishnu-nama Tuhan bagi orang Hindu, sama arti dengan nama ayahanda Rasulullah SAW yaitu Abdullah yang artinya juga hamba Allah, sebagai salah satu pemimpin di sukunya yaitu suku Quraisy).

Dalam Kalki Purana (2) : 5 disebutkan bahwa dia akan datang bersama para sahabatnya mengalahkan orang-orang jahat

Dalam Kalki Purana (2) : 7 disebutkan bahwa dia akan dijaga oleh malaikat di medan perang

Dalam Kalki Purana (2) : 11 disebutkan bahwa dalam rumah Vishnuyash dan dalam rumah Summani Kalki Autar akan lahir. (Penjelasan, Summani adalah berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti orang yang sangat setia, sama arti dengan nama ibunda Rasulullah SAW yaitu Aminah yang artinya kurang lebih sama).

Dalam Kalki Purana (2) : 15 disebutkan bahwa dia akan lahir pada tanggal 12 bulan pertama Madhop. (Penjelasan, dan apakah hanya sekedar kebetulan bahwa Muhammad SAW terlahir pada hitungan tanggal 12 Rabi’ul Awal ?).

Allahu Akbar…Subhanallah, apakah hanya kebetulan?  Keterangan dari Pundit Vedaprakash Upadhyai  telah disiarkan di BIC News pada 8 Desember 1997 yang diterjemahkan oleh Mir Abdul Majeed. Sebelumnya, pernah dimuat di The Message, edisi Oktober 1997.

  1. Dalam Kitab agama Parsi

Terakhir dalam kitab suci agama Zoroaster agama bangsa Parsi kuno, yang mana sama tua atau mungkin lebih tua dari agama Hindu. Mereka dalam praktiknya menyembah api abadi, yang kemudian api ini mati setelah terutusnya Rasulullah SAW, sebagai bentuk pengkoreksian kesalahan bentuk ibadah yang dilakukan bangsa Parsi, sebagaimana bangsa Bani Israil pada zaman nabi Musa as yang menyembah patung sapi (sekarang menjadi bagian hewan suci bagi umat Hindu).  Dalam buku Israel and the Prophecies of the Holy Qur’an (Ali Akbar, 1987:30-32) dituliskan informasi bahwa ada dua kumpulan kitab suci bagi bangsa Parsi sebagai penganut Zoroaster, yaitu Dasatir dan Zand Avestra. Di Dasatir 14, dihubungkan dengan nama Sasanll yang dihubungkan dengan nubuwwah kedatangan nabi Muhammad SAW, yang terjemahannya : “Ketika Bangsa Parsi tenggelam ke dalam suasana moral yang rendah, seorang manusia akan dilahirkan di Arabia, yang diikuti dengan runtuhnya singgasana agama dan semuanya yang ada sebelumnya. Kejayaan dan kemegahan Parsia akan diungguli. Rumahnya (maksudnya Ka’bah) berdiri dan semua pujaan yang ada akan tergeser olehnya, dan orang-orang akan bersembahyang menghadapnya (pen : Ka’bah). Pengikutnya akan menaklukkan kota Parsis dann Taus dan Balakh dann tempat-tempat besar disekitarnya. Orang-orang akan bertikai satu sama lain. Orang-orang Persia yang bijaksana dan lainnya akan bergabung dengan pengikutnya”.

Dari uraian di atas, pasti kita akan tercengang, mengapa bisa kitab-kitab kuno membicarakan tentang janji kedatangan seseorang yang ditunggu kehadirannya dengan nama-nama yang berbeda, baik itu dengan istilah Parakletos, Perikalutas, Budha Agung, Maitreya, Kalki Avtar, Narasangsa, Kaurama, Mama Rishi, Washwereda, Rebb, Akkaru, Suslama, dan lain sebutan yang kemungkinan belum terungkap. Bisa jadi suku-suku kuno yang ada di dunia ini (Aztec, Maya, Inca, dan sebagainya) memiliki istilah lain untuk menyebutkan sebuah ramalan (baca : Nubuwwah) tentang kedatangan seorang yang membawa perubahan yang mana ajarannya kekal, kitab yang di bawanya juga kekal hingga akhir zaman. Kita (seorang muslim) sering memahami bahwa nabi dan rasul Allah itu hanya sedikit, padahal dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa utusan Allah (nabi) itu sejumlah 124.000 orang sebelum diutusnya Muhammad SAW. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Allah dalam Al Qur’an surat Fathir ayat 24, yang artinya “Dan tidaklah ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan”, atau pada surat Yunus ayat 47, yang artinya “Tiap-tiap umat mempunyai rasul/utusan”, atau pada surat An Nisa’ ayat 164, yang artinya “Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu”.

Wallahu a’lam bis shawwab. Wallahul’alimul wasi’ul’ilm.

(GoesPrie, 18-1-13)