BERPRASANGKA BURUKLAH KAMU … MAKA ….

Sebelum membahas maksud  judul di atas, ada baiknya kita mengetahui makna atau arti dari “prasangka buruk”. Prasangka buruk atau yang sering kita dengar dalam bahasa agama adalah su’uzh zhan, yang terdiri dari dua kata, su’ yang berati jelek atau buruk dan zhan yang berarti prasangka, lawan dari husnuz zhan (atau prasangka baik). Prasangka buruk ini merupakan sebuah penyakit yang muncul dalam hati manusia, terkena pada siapa saja tanpa mengenal waktu, status dan strata sosial. Prasangka buruk ini muncul bila seseorang merasa ada sesuatu yang dirasakan sebagai yang “sesuatu yang merugikan” baginya secara fisik maupun non fisik, secara rasa (perasaan) maupun akal (rasional), yang terlihat mata maupun yang terdengar telinga. Sesuatu ini dapat datang berasal dari dirinya sendiri, sesama manusia, alam lingkungan sekitar, maupun (bahkan) dari Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Baiklah kita kupas sedikit …

Dari dirinya sendiri, sebagai contoh seseorang yang ternyata diberikan sebuah kekurangan secara fisik/lahiriyah, walaupun ia menerima secara takdiriyah hanya ia merasa tidak mampu menjalankan aktivitas akibat kekurangan tersebut. Ia buta secara lahiriyah, ia merasa gelap dan sepi, ia mulai berprasangka buruk ketidakmampuannya untuk menjelajah kehidupan. Padahal banyak juga orang yang demikian, dapat mengoptimalkan berlipat ganda kemampuan fisik lainnya sebagai pengganti kebutaannya. Sebagai contoh, Erik Weihenmayer pada tahun 2001 ia berusia 33 tahun dan dengan kebutaannya, ia merupakan penakluk “buta” gunung Everest pertama dan pada tahun 2008 ia lakukan hal yang sama pada puncak Carstensz Eropa (sumber : http://www.andriewongso.com/articles/details/…/Orang-Buta-Penakluk-Everest‎). Dalam sebuah studi, manusia yang mengalami kebutaan memiliki kemampuan pendengaran berlipat bahkan memiliki kemampuan echolocation (kemampuan sensor lokasi yang dilakukan oleh telinganya), dan memiliki indera perasa yang luar biasa pula yang dapat mencitrakan sesuatu melalui sentuhan tangannya.

Kemudian, adapula orang yang tidak dikaruniai dengan pendengaran yang normal sejak kecil sehingga mengakibatkan juga ketidaknormalan dalam berbicara, ia berprasangka bahwa ia tidak akan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain. Dalam kenyataan, banyak orang yang demikian ternyata memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa dan bisa menembus bahasa segala manusia di dunia ini melalui bahasa isyarat universal… . Ada yang orang sebagai pelari hebat dan juara dunia, padahal ia seorang yang diberikan kekurangan fisik pada kakinya. Ada pelukis hebat, penulis handal, arsitek dan desainer habat, walaupun ia memiliki kekurangan pada lengan atau tangannya. Bahkan ada yang sebagai ilmuwan luarbiasa yang menjadi rujukan ilmuwan dunia atas buah pikiran, padahal ia lumpuh total yang bekerja adalah otaknya sebagaimana yang dialami oleh Stephen Hawkin (pencetus teori Big Bang). Apa lagi?
Bersangka buruklah kamu… maka … .

Adapun yang tidak berwujud yang datang dari diri sendiri, adalah berupa perasaan-perasaan akibat apa yang ia lakukan, seperti sebuah kegagalan-kegagalan dalam melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu. Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan sekali, dua kali atau berkali-kali. Perasaan dalam diri inipun sering berprasangka buruk terhadap yang terjadi yang diakibatkan “ketidak mampuan diri” menyelesaikan usaha-usaha itu. Ia memvonis diri “bodoh” akibat ketidakmampuan dalam persoalan ujian sekolah atau kuliah, persahabatan, bisnis, atau karir, dan ia memvonis bahwa ia adalah sebagaimana apa yang terjadi pada dirinya, titik!. Ia tidak perlu berubah atau bangkit kembali untuk mencoba kembali dari kegagalan yang dialaminya.

Lihatlah, Harland David “Colonel” Sanders seorang pencetus resep 11 bumbu memasak ayam yang sekarang kita kenal pada warung waralabanya Kentucky Fried Chicken (KFC). Ia telah menawarkan resep bumbu rahasianya terhadap 1008 restoran dan berhasil pada restoran ke 1008. Seandainya ia berhenti pada langkah ke 1007, maka kita tidak dapat menikmati renyahnya ayam KFC (bukan promo ya…, dan saya tidak dibayar untuk ini) dan yang jelas Sanders tidak menikmati hasil usahanya.

Lihatlah, Thomas Alfa Edison sang penemu bolam listrik yang dengan kalimatnya “Saya tidak gagal sebanyak ribuan kali tapi saya berhasil menemukan cara agar lampu tidak menyalah ribuan kali.” –(Thomas Alfa Edison). Sebanyak 9.998 kali percobaannya gagal untuk mencoba sebuah bolam listrik dan akhirnya percobaan ke 9.999 ia berhasil. Bayangkan kalau ia berhenti pada kali ke 9.998, ia tidak akan pernah memberikan pada dunia bolam listrik yang baik, apalagi berhenti ketika pada kegagalan ke 2 atau ke 3… . Iapun memiliki 1.098 paten atas penemuan-penemuannya, yang ia lalui juga dengan kegagalan-kegagalan sebelumnya.

Bagi seorang muslim, pasti kenal dengan Thoriq bin Ziyad. Orang inilah yang yang merupakan pembuka benua Eropa dalam salah satu penyebaran islam dunia. Sosok pekerja keras yang tidak kenal kata gagal dan dalam mencoba memegang sebuah amanah. Thoriq bin Ziyad ra, dikenal dengan kata-kata yang memotivasi pasukannya dalam menyeberang ke Eropa melalui selat Gibraltar (Arab : Jabal Thariq), Spanyol (Andalus). Kata-kata itu adalah : “Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran”, dan kata-kata itu diikuti dengan pembakaran kapal-kapal yang mereka tumpangi sebelumnya yang ada di pantai. Thoriq bin Ziyad berhasil menaklukkan Eropa melalui Andalus Spanyol dan menyebarkan Islam serta perdamaian. Kata-kata itu pulalah yang ditiru oleh Hernando Cortez sang penakluk dari Spanyol dalam menghadapi suku Indian di Amerika dengan tujuan yang sangat berbeda. Bayangkan, ketika sosok Thoriq bin Ziyad ragu akan kemampuan yang dimilikinya dalam memotivasi diri dan pasukannya, maka bisa dipastikan Eropa tetap dalam masa kegelapannya.
Berprasangka buruklah kamu … maka … .

Dari sesama manusia, manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan sesamanya dalam menjalani kehidupan. Ketika berinteraksi pasti ada hubungan sebab akibat yang terjadi dalam menciptakan hubungan dalam kehidupan. Hubungan sebab akibat itupun ada yang menyenangkan hati dan apa yang menyesakan dada. Ketika menyenangkan hati menambah kegairahan dalam berinteraksi, sementara yang menyesakan dada cenderung menumbuhkan kegalauan, kekurang senangan, kebencian, kecemburuan bahkan kemarahan. Sebagai bentuk pelampiasannya ada tiga perlakuan yang muncul yaitu membicarakannya (ngrumpi alias ghibah), mengungkit-ungkit  dan menyamarkan dengan sesuatu yang lebih dari apa yang dibenci berupa fitnah. Prasangka buruk terhadap orang lain ini yang dalam bahasa agama, akan memakan dan membakar amal kebaikan kita. Hal ini dapat mengakibatkan sebuah kerugian besar pada masa pasca kehidupan di dunia, baik di alam barzakh maupun di alam akhirat.
Berprasangka buruklah kamu … maka … .

Dari alam lingkungan sekitar, ketika suasana hati gembira dalam menyambut cerahnya hari dengan berbagai rencana, tiba-tiba terhambat oleh sesuatu yang terjadi pada alam. Hujan…, ah…sial, hari hujan! Kata inilah yang terkadang terdengar. Dalam pikiran negatif langsung berfisi dan bercabang menterjemahkan akibat-akibat hujan tanpa melihat apa yang terjadi di balik hujan, atau sebab-sebab hujan, atau kebaikan-kebaikan yang ditimbulkan hujan. Itu baru hujan, belum panasnya hari, debu-debu yang beterbangan, keringnya lahan pertanian, terjalnya sebuah perjalanan, layunya tanaman, kurusnya hewan ternak, banjir yang menghempas, ombak yang bergulung, gunung yang bergolak dan sebagainya. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Rum 30 ayat 41). “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya” (QS. Ar Rum 30 ayat 24). “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat (tangguh) dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul (para pemberi peringatan) mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri” (QS. Ar Rum 30 ayat 9).
Nah…, Berprasangka buruklah kamu … maka … .

Sesuatu dari Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla, ketiga hal di atas tidak lepas dari campur tangan Allah yang pengatur kehidupan ini. Manusia sering terbersit prasangka buruk kepada Sang Pencipta alam ini, dengan mengatakan tidak sayang… . ”Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya (apa saja yang menyangkut hajat hidup manusia) maka dia berkata: “Tuhanku (sedang) menghinakanku”  (QS. Al Fajr 89 ayat 16). Atau kata-kata yang keluar lainnya adalah “apa dosa saya…”, “apa dosa kami…”, “inilah takdirku”, “Tuhan sedang membenciku”, “Tuhan sudah tidak sayang lagi”, “Tuhan tidak adil pada ku…” dan lainnya. Padahal di sisi lain, sebenarnya Allah akan sedang memberikan sesuatu yang besar baginya sesudah sesuatu yang menimpa pada diri (mereka)nya. Perlu waktu, pencernaan akal sehat dan hati yang bersih dalam menangkap hakekat yang terjadi. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, …, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (QS. Al Insyirah 94 ayat 5-6, 8). “Kemudahan” itu dapat berupa rizki yang banyak dan lapang, kesembuhan dari penyakit, kabaikan-kebaikan, pengampunan akan dosa dan kesalahan, pengganti bala’, dan masih banyak luasnya yang akan diberikan Sang Penggatur kehidupan ini karena Allah Al Wasi’.
Sekali lagi…Berprasangka buruklah kamu… maka… .

Wallahu a’lam bish Shawwab

(gOEsprIE, 7 – 2 – 14)