Menurut definisi Bullying adalah suatu bentuk perilaku agresif diwujudkan dengan penggunaan kekerasan atau paksaan untuk mempengaruhi orang lain, khususnya pada perilaku, kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan atau pergaulan. Hal ini dapat mencakup pelecehan verbal, kekerasan fisik atau pemaksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. “Ketidakseimbangan kekuatan” mungkin kekuatan sosial dan / atau kekuatan fisik. Korban bullying kadang-kadang disebut sebagai “target“. Bullying ini terjadi dimana saja dalam suatu pergaulan sosial masyarakat, kantor maupun sekolah, dan yang sering banyak muncul dipermukaan atau terekspose adalah kejadian bullying yang terjadi di dunia pendidikan.

Bullying terdiri dari tiga tipe dasar penyalahgunaan yaitu secara emosional perilaku, verbal, dan fisik. Ini biasanya melibatkan metode pemaksaan halus seperti intimidasi. Kasus bullying yang terjadi di dunia pendidikan dapat dibedakan berdasarkan hubungan individu dan bentuknya. Untuk hubungan individu, bullying dapat terjadi antara guru senior terhadap guru yunior, guru terhadap siswa dan antar siswa.

Yang terjadi antara guru senior terhadap guru yunior hanya sebatas emosional perilaku tidak sampai pada bullying verbal dan fisik, yang sering disebut dengan “peloncoan”. Sikap bossy terkadang kerap terjadi dengan alasan pembelajaran terhadap pembiasaan atau kebiasaan di sebuah institusi. Guru yunior diberi beban tugas di luar tugas yang tercantum dalam surat tugas dalam bentuk mengerjakan pekerjaan guru seniornya yang seharusnya dikerjakan mereka sendiri.

Bullying guru terhadap siswa ada tiga bentuk menyangkut hal emosional perilaku, verbal dan fisik. Bullying ini terjadi bila sang guru sedang mengalami gangguan secara emosional yang sedang dialami atau dibawa baik berasal dari rumah dan atau di kantor, ketidak tercapaian target proses pembelajaran pada siswa-siswa tertentu, “pilih kasih” antara siswa tertentu baik berasal dari kemampuan dan hubungan dengan orangtua siswa. Contoh-contoh bullying yang dilakukan guru terhadap siswa baik menyangkut hal emiosional perilaku, verbal maupun fisik, yaitu antara lain :

  1. Memberikan label julukan tertentu kepada siswa menyangkut fisik, rupa dan kemampuan yang dimiliki siswa.
  2. Kata-kata cacian atau kata-kata kasar (sarkasme) ketika emosi yang sedang meluap-luap.
  3. Kata-kata sindiran kepada siswa yang menyangkut kekurangan yang dimilikinya.
  4. Membanding-bandingkan siswa satu dengan yang lain dihadapan yang bersangkutan, bahkan dihadapan siswa lainnya dalam bentuk kata-kata tertentu.
  5. Pandangan mata yang mengandung makna ketidaksukaan, kebencian, atau kemarahan terhadap siswa.
  6. Memperlakukan sikap yang berbeda terhadap antara siswa dikarenakan hubungan tertentu dikarenakan hubungan baik (kebaikan tertentu) yang diterima oleh guru dari orangtua siswa atau siswa yang bersangkutan (grafikasi di dunia pendidikan).
  7. Cara penyambutan terhadap siswa yang berbeda.
  8. Kekerasan fisik dalam kontek hukuman, seperti cubitan, pukulan, tamparan dan tendangan.

Sementara bullying yang dilakukan antar siswa biasanya berhubungan dengan permasalahan perbedaan kondisi ekonomi orangtua mereka, kemampuan akademik, fisik besar/kuat terhadap fisik yang kecil/lemah, bentuk fisik tertentu, gender, etnik tertentu, perbedaan hobi dan kecenderungan, perbedaan selera fesyen dan gadget, level kelas, status kelas/sekolah (khusus atau reguler) dan banyak lagi. Bentuk bullying level terendah dalam kasus antar siswa sebatas bullying dalam bentuk verbal seperti kata-kata olok-olok, penyepelean dan kata-kata sindiran. Meningkat ke level selanjutnya terkadang dalam bentuk pengucilan atau penindasan dalam bentuk kompensasi agar siswa tertentu diakui dan tidak mendapat perlakuan berbeda lagi dari kelompok siswa tertentu lainnya. Level berikutnya adalah level kekerasan yang bersifat dua arah, baik yang merasa di-bully maupun yang melakukan bullying, dan munculah perselisihan atau perkelahian antara mereka.

Efek dari bullying terhadap siswa banyak ragam, sebagai reaksi dari sebuah aksi yang diterimanya, seperti :

  1. Motivasi belajar turun dan akhirnya prestasi pun turun.
  2. Kurang respek terhadap guru, mata pelajaran bahkan kelasnya.
  3. Menumbuhkan sifat malu, rendah diri dan mencari pelarian yang negatif.
  4. Hilang kepercayaan diri bahkan jati diri.
  5. Tumbuhnya benih dendam yang akhirnya akan muncul tindak balas dendam.
  6. Muncul sikap agresifitas yang berlebih akibat akumulasi emosi yang tidak dapat tersalur ke aktifitas positif.
  7. Mencari atau membentuk kelompok yang sejenis alias kelompok korban bully dan memisahkan diri dari komunitas umumnya.
  8. Menjadi pribadi-pribadi tertutup atau bahkan muncul gejala multi pribadi.

Sebagai bentuk antisipasi agar tidak terjadinya tindakan bullying, pihak sekolah memang harus dengan ketat menerapkan suatu budaya atau kebiasaan yang menumbuhkan karakter positif di antara individunya. Peran seluruh guru sebagai pendidik karakter, pendidik agama dan sebagai konseling yang bersifat terpadu perlu ditumbuhkan. Karena terkadang seorang guru bila telah sebagai guru mata pelajaran, sedikit sekali kesadarannya juga merangkap fungsinya sebagai guru agama dan konseling. Peran ini bukan berarti mengambil alih tugas dari guru agama dan konseling tetapi sebagai memiliki peran dalam hal tersebut. Dalam Islam juga bahwa peran dan fungsi guru terhadap siswa-siswanya adalah sama sebagaimana peran dan fungsi seorang nabi dan rasul. Karena guru merupakan sosok pewaris nabi dan rasul juga dalam hal membentuk dan mencetak sebuah generasi generasi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 151, yang artinya :

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.

Wallahu a’lam bish Shawwab.

(GusPri)