CINTA IBU
(Sebuah coretan kecil tentang cinta Ibu)

 

Hayya ‘alash sholaah…hayya ‘alash sholaah….

Hayya ‘alal falaah…hayya ‘alal falaah…

Ashsholaatu khoirum minnan nauum…

Ashsholaatu khoirum minnan nauum…

ALLAHu Akbar ALLAHu Akbar

Laa ILAAHa illaLLAH…

 

Detak jantungku berdetak keras…, dan mataku tiba-tiba membelalak…., Astaghfirullahal ‘azhim…. Aku mengulangi kata-kata istighfar itu berulang-ulang dan berusaha untuk bangkit dari tempat tidur tapi masih belum mampu. Aku berusaha pula menoleh ke kanan dan kiri dari tempat tidur dan terlihat tidak jauh di sisi tempat tidurku ada seseorang wanita tua dengan mata yang memerah bekas usapan aliran airmata duduk sambil memperhatikanku…. Suara lembutnya menyapaku, “Nak… kau sudah sadar, nak? kebetulan ibu menunggumu. Itu tadi adzan shubuh”.

Aku berpikir keras, seperti ada sebuah gejolakan bergemuruh dalam dada lalu aku memanggil nama panggilan kepada wanita tua itu dengan suara lemah,”Ibu…? ibukah itu…?”

“Iya nak… ini ibu…”

Tak terasa airmataku mengalir dari sudut mata, entah kekuatan apa yang semakin bergemuruh dalam diri ini, antara sadar dan tidak sadar aku mengucapkan kata-kata itu.

            “Alhamdulillah…nak, engkau sudah sadar…”.

            “Sadar…? Memangnya saya mengapa, bu?”.

            “Iya, engkau berbaring di rumah sakit ini sudah delapan hari sejak kecelakaan itu, ibu selalu menunggumu untuk bangun dan tersenyum”

 

Ini adalah sepenggal cerita fiksi atau bisa jadi cerita nyata bagi Anda. Ya, sosok ibu yang mengandung kita, yang melahirkan kita, yang menyusui kita, yang merawat dengan penuh kasih sayang kita…hatta, ketika kita tergolek sakit di tempat tidurpun, ia terus tersenyum untuk menyemangati hidup kita, untuk kesembuhan kita. Sosok yang luar biasa setelah seorang ayah, sebagai sosok pendidik dan motivator. Mereka tidak melihat keadaan mereka tapi mereka memiliki energi yang luar biasa untuk keberhasilan kita. Seorang pengarang lagupun menggambarkan bentuk perjuangannya dalam sebuah syairnya : //ribuan kilo jalan yang kau tempuh//lewati rintang untuk aku anakmu//ibuku sayang masih terus berjalan//walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah//seperti udara, kasih yang engkau berikan//tak mampu ku membalas…ibu…//

Sosok ibu memiliki cinta yang luar biasa kepada anak-anaknya, sampai-sampai sebuah syair lagu anak-anak karangan pak SM Muchtar menggambarkan sosok ibu bagaikan sang surya yang menyinari dunia sepanjang masa : //kasih ibu kepada beta//tak terhingga sepanjang masa//hanya memberi, tak kan kembali//bagaikan surya menyinari dunia// Berbeda dengan kita “sang anak” yang cinta ketika butuh kekuatan cintanya. Bahkan terkadang kita “sang anak” dengan teganya menukar cinta kepadanya dengan cinta yang lain, hingga cinta yang lain itu menggiring ke dalam kedurhakaan terhadapnya. Naudzubillah… . Cinta ibupun kepada Rabb-nya pun diwujudkan dalam bentuk kecintaannya kepada kita. Ada sepenggal cerita dari negeri Gaza Palestina. Seorang ibu yang ditinggal syahid anaknya dalam peperangan melawan Yahudi, ia berdoa bahwa sekiranya sang anaknya bisa dilahirkan kembali akan dimotivasi untuk syahid kembali di jalan Allah, dan akan ia lakukan berulang-ulang. Ini sebagai perumpamaan kecintaannya kepada anak agar mendapatkan kemuliaan pahala syahid secara berulang dari sang Rabbul Jalal.

Sementara bakti kita kepada ibu tak bisa dibandingkan nilainya dengan kasih sayangnya yang telah diberikan pada kita. Kalaupun diberi gambaran sebagai pembandingnya justru bagaimana kita berbakti kepada seorang ayah. Bakti kepada ibu nilainya tiga kali lipat bakti kita kepada seorang ayah, sementara bakti kepada ayah nilainya belum sebanding dengan nilai pembebasan seorang budak dari tuannya, yang mana seorang budak itu adalah ayah kita. ALLAHu Akbar… .

Minimal bertanya khabar, khabar kesehatan, khabar aktivitas yang menyenangkannya, atau sekedar bertanya masakan yang dibuatnya, apakah sudah dilakukan? Sibuk? Itulah alasan klasik yang muncul. Padahal beliau sering mencari informasi tentang kita, keadaan kita, kesehatan kita, anak-anak kita lewat apapun yang bisa ia lakukan. Bahkan terkadang ia harus menterjemahkan mimpi-mimpinya untuk hal itu. //Mother how are you today?//Here is note from your daughter (son)//With me everything is ok//Mother how are you today//Mother, don’t worry, I’m fine//… (Maywood’s song). Jangan membuat gangguan pada pikirannya tentang kita. Dan jangan lupa, selalu dan selalu mendo’akannya secara langsung maupun tidak, secara tatap muka maupun tidak agar supaya keridhoannya tetap menyertai perjalanan hidup kita hingga kita bertemu dengan Rabbul ‘Izzati bersama dengan keridhoan-Nya pula.

(GoesPrie,15.08.14)