KETIKA SYARI’AT ALLAH DAN SUNNAH RASUL SAW DIBENCI DAN DITINGGALKAN

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

 “Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing.” (HR Muslim).

Telah tiba masanya sekarang ini, dimana disaat sebuah (banyak) tuntunan dalam agama ini menjadi sebuah tontonan. Ketika seorang hamba menjalankan perintah-perintah Allah Subhana wa Ta’ala dan RasulNya dianggap aneh bin ajaib. Seorang hamba yang berusaha menjalankan ketaatan dianggap nyleneh dan dianggap tidak umumnya bahkan tidak waras. Ketika berpegang teguh pada tali Allah Azza wa Jalla dianggap sebagai seorang penjahat yang harus dimusnahkan dari kehidupan masyarakat. Dan ketika membiasakan ajaran-ajaran sunnah-sunnah Nabi SAW seperti memegang bara api yang panas, sebagaimana dalam sabdanya : “Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.” (HR. Tirmidzi).

Memang Rasulullah SAW sudah menyatakan demikian di awal-awal risalahnya, bahwa Islam itu dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing di akhirnya sebagaimana awalnya. Islam datang di saat manusia masih dalam keadaan jahiliyah, tidak mengenal hakekat kemanusiaannya sendiri. Islam yang dikenalkan oleh Rasulullah tumbuh ketika di saat para menyembah berhala mendominasi, bayi perempuan dianggap aib, wanita dianggap budak belian yang bisa diwariskan. Dan saat ini telah terjadi sebagaimana awalnya. Justru Islam terasing di lingkungan umat Islam sendiri. Izzah dan muru’ah dakwah runtuh dan tertukar pada bermegah-megahan serta terinfeksi penyakit wahn. Dakwah yang meninggikan kalimatullah terinfeksi dengan rasa intertaiment. Senda gurau lebih diminati daripada dakwah yang mengingatkan akan fitnah dajjal dan pedihnya siksa akhirat. Para dai yang mengingatkan akan fitnah dajjal dan pedihnya siksa akhirat dianggap sesuatu yang menakutkan dan tidak sesuai zamannya lagi.

Mari kita coba lihat kembali, syariat-syariat Allah dan sunnah-sunnah RasulNya yang mana saja yang telah dianggap asing, aneh, dibenci bahkan ditinggalkan oleh umat Islam itu sendiri. Kita bermuhasabah, apakah dari sekian banyak syariat atau tuntunan sunnah yang ada ini justru telah hilang dari dalam diri kita, atau kita menjauhkan diri kita dari hal-hal itu, atau justru membencinya dan mencelanya… Jangan sampai di saat akhir-akhir kehidupan kita, kita digolongkan ke dalam golongan yang jauh dari kriteria umat yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bahkan digolongkan ke dalam suatu kaum yang akan digantikan oleh Allah dikarenakan telah meninggalkan atau keluar dari sendi-sendi agama ini, sebagaimana ancaman yang tertulis dalam kitabNya QS.Al Maidah ayat 54, yang artinya :”Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang keluar dari (sendi-sendi) agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

 

.Khusyu’

Khusyu adalah takut pada Allah SwT, bukan konsentrasi atau fokus. Khusyu adalah bagian dari aplikasi ihsan. Seperti yang diketahui bahwa pengertian ihsan itu sebagaimana dalam hadits yang sangat panjang, bahwa malaikat Jibril memberikan pembelajaran kepada para shahabat melalui Rasulullah SAW dengan pertanyaan “apa ihsan itu?”. Rasulullah SAW menjawab pertanyaannya dengan gamblang bahwa ihsan itu adalah kita beribadah “seakan-akan” melihat Allah, jika tidak bisa (pasti tidak) maka Allah-lah yang melihat kita. Ihsan melahirkan konsep muraqabatullah atau konsep pengawasan melekat (waskat) dari Allah. Dari konsep “waskat” inilah muncul khusyu’.

Ilmu khusyu inilah yang pertama kali diangkat oleh Allah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thabrani bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Yang pertama kali diangkat dari umatku adalah khusyu’ , sehingga engkau tidak akan melihat seseorangpun yang khusyu’”. Dan dalam riwayat lain, Hudzaifah ra berkata, “yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah khusyu’ dan terakhir kali yang hilang dari agama kalian adalah sholat”. Bila khusyu hilang dari amalan shalat maka khusyu dalam amalan lain juga akan hilang, karena sholat adalah kunci pertama untuk menghindarkan seseorang dari perbuatan fahsya’  (keji) dan kemungkaran. Sebagaimana tujuan sholat sebagai pencegah dua sifat ini, dalam QS. Al Ankabut ayat 45 yang artinya,”…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fahsya’ (keji) dan mungkar…”.

Tanda-tanda hilangnya khusyu’ dalam shalat adalah seseorang ketika dalam sholatnya terburu-buru sehingga seseorang itu disebut sebagai pencuri shalat oleh Rasulullah SAW. Abu Qatadah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sejelek-jelek pencuri adalah orang yang mencuri shalat”. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang itu dikatakan mencuri shalatnya?”. Rasulullah SAW menjawab,”Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”, atau ia (Rasulullah SAW) berkata,”tidak menegakkan tulang punggungnya ketika ruku’ dan sujud (terburu-buru)”. (HR Ahmad).

Bagaimana untuk mengembalikan khusyu’ ini? Rasulullah SAW berpesan, “Shalatlah dengan shalat orang-orang yang akan berpisah (dengan dunia – mati)”.

 

.Ilmu Waris

Ilmu waris adalah ilmu berkenaan dengan wasiat seseorang yang akan meninggal dunia kepada ahli warisnya yang harus dilaksanakan ketika ia meninggal kelak yang berhubungan dengan pembagian harta (waris). Ilmu waris ini merupakan sebuah ilmu syariat yang memang secara khusus diberikan penekanan dan diwasiatkan secara khusus pula oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana yang diriwayatkan melalui abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,”Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu Faraidh dan ajarkanlah. Karena dia (ilmu Faraidh) itu setengah dari ilmu dan banyak dilupakan orang. Dan dia (ilmu Faraidh) adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku”. (HR. Ibnu Majah, Daruquthny dan Hakim).

Orang yang “pandai” dalam ilmu agamanya di zaman sekarang memandang bahwa hukum waris (faraidh) ini sudah tertinggal zaman, tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Alasan mereka sederhana, bahwa wanita sekarang sudah banyak yang sudah memiliki penghasilan sendiri (berkarir), atau penyederhanaan pembagian waris dengan menggunakan hukum barat atau adat saja, atau cukup memanfaatkan jasa pengacara. Toh, hukum positif yang ada tentang waris dan yang banyak berlaku di masyarakat umum masih sangat “adil” dibandingkan dengan hukum syariat waris (faraidh). Ketika hukum waris model (Faraidh) seperti ini tidak diterapkan, justru timbul permusuhan dan terputusnya tali rahmat silaturahim antar anggota keluarga. Permasalahannya adalah mereka tidak melihat dari sisi sebuah ketaatan kepada hukum-hukum Allah dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

 

.Shalat berjamaah

Tolok ukur kekuatan secara jamaah dari umat ini adalah pada seberapa solid dan rutin aktivitas shalat berjamaahnya. Sejarah sudah mencatat bahwa ukhuwah islamiyah, tasamuh/toleransi, ta’awun/kerjasama dan tafa’ul/saling menanggung beban saudaranya berawal dari sebuah kekuatan shalat berjama’ah. Musuh-musuh Islam yang terdiri dari kaum musyrikin dan munafiqin ketika itu sangat takut dengan umat Islam, dan mereka berkonspirasi bagaimana caranya untuk memecah kekuatan ini.

Rasulullah SAW mengingatkan tentang keutamaan shalat berjamaah tidak hanya sekedar keutamaan berlipat gandanya pahala (duapuluh tujuh kali daripada shalat munfarid), atau hanya sekedar dinaikan/ditambah pahala dan dihapusnya dosa seiring dengan langkah-langkah kakinya, atau mendapat doa dan shalawat dari para malaikat. Tetapi ada sesuatu yang tersembunyi (seolah menjadi sebuah rahasia) yang umat Islam sendiri yang akan merasakannya sampai-sampai beliau tidak memberi uzur kepada seorang yang buta atau ancaman membakar rumah-rumah mereka yang tidak berjamaah di masjid. Banyak alasan yang menghalangi umat ini untuk dapat shalat berjamaah di masjid, khususnya adalah urusan dunia. Jadwal mandi sore, jadwal makan malam, aktivitas pertelevisian yang melenakan, susah bangun di waktu shubuh, kesibukan kerja, tempat kerja yang tidak ada tempat sholat (mushola), atau jadwal rapat yang beririsan dengan masuknya waktu shalat. Wajarlah musuh-musuh Islam membuat strategi sehalus mungkin untuk memecah kekuatan rahasia yang terkandung dalam shalat berjamaah ini, yang justru umat ini sedikit mengetahuinya.

Dan fenomena ini sudah diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Akan datang suatu zaman yang menimpa manusia, tiada tinggal dari pada Islam kecuali namanya saja. Dan tiada tinggal beri mereka Al Qur’an kecuali tulisannya saja. Masjid – masjid mereka indah akan tetapi kosong dari petunjuk Allah SWT. Ulama – ulama mereka ketika itu adalah sejahat – jahat makhluk di bawah kolong langit dari sisi mereka datangnya  fitnah dan kepada mereka pula kembalinya fitnah itu”  Hr. Baihaqi. Wallahu a’lam bis shawwab.

 

.Sholat tahajjud

Shalat tahajjud adalah shalat nawafil yang dilakukan pada malam hari selepas shalat Isya’ dan bukan shalat rawatib sesudah Isya’. Dilakukan pada separuh malam atau sepertiga malam, di awal maupun diakhir malam yang sering disebut dengan waktu sahur. Perintah shalat tahajjud ini, Allah langsung yang memerintahkan sebagaimana yang tertulis dalam kitabNya QS. Al Isra’ ayat 79, yang artinya, “Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajud-lah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. Karena Allah langsung yang memerintahkannya maka menjadi suatu yang istimewa di antara shalat-shalat nawafil lainnya. Bahkan Allah Azza wa Jalla selalu membicarakan dan memuji sosok-sosok yang melakukan sunnah ini dalam kitabNya. Maka dalam sejarahpun sering umat ini disebut sosok-sosok yang mereka ini bagai singa di waktu siang hari dan rabi (seorang abid – ahli ibadah) di waktu malam hari (melakukan kegiatan shalat ini).

Banyak keutamaan-keutamaan yang terkandung dalam shalat tahajjud ini yang tersebar dalam al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW. Walaupun banyak keutamaan yang dikhabarkan Allah tetapi sedikit yang melakukannya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Asma’ binti Yazid ra, “Bila Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir pada hari Kiamat kelak, maka datang sang penyeru lalu memanggil dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, “Hari ini semua yang berkumpul akan tahu siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan!” Kemudian penyeru itu kembali seraya berkata, “Hendaknya orang-orang yang ‘lambungnya jauh dari tempat tidur (yang mendawamkan tahajjud)’ bangkit”, lalu mereka bangkit, sedang jumlah mereka sedikit” (At Taghrib wa Tarhib – al Mundziri, I/215).

 

.Zakat

Zakat adalah salah satu bentuk kekuatan ekonomi dari umat Islam ini, semakin makmur umat ini dilihat dari seberapa banyak dan besar harta yang terkumpul melalui zakat. Perintah zakat ini selalu dilekatkan dengan perintah shalat, aaqimish shalah wa iita-i zakah. Shalat sebagai tiang agama dan pengikat kekuatan vertikal dengan Rabb Penguasa Semesta, sementara zakat adalah bagian dari tiang agama yang merupakan penguat kekuatan horizontal umat ini. Pengikat hati dari sisi kebutuhan dunia selain sebagai sebuah ketaatan. Maaf, orang lebih takut membayar pajak ketimbang zakat. Takut disebut tidak bijak ketimbang disebut sebagai pendusta agama. Padahal, di akhir zaman nanti, Allah mengutus Nabi Isa as yang dalam salah satu misinya adalah menghapus pajak di dunia ini.

Banyak kaum muslimin menganggap bahwa zakat akan mengurangi harta-harta mereka, padahal dengan zakat akan membersihkan dan melipatgandakan harta mereka. Dalam harta kita ada hak orang lain, maka harus ditunaikan hak ini melalui zakat. Allah SwT sampai memerintahkan untuk mengambil zakat dengan “perintah khusus” dengan “tujuan khusus” bagi sang pemilik harta dengan kata-kata “khudz min amwalihim” dalam QS At Taubah ayat 103. Yang hakekatnya agar pemilik harta itu mendapatkan makna thahirah, tazkiyah dan sakinah, bukan tertimpa dengan penyakit jiwa, kotoran harta dan ketidaktenangan hidup. Semakin tidak sadar seorang muslim akan kewajiban zakatnya maka akan semakin bakhil bin kikir bin pelit bin medhit orang itu. Semakin tidak tenang kahidupannya dengan ditimpakan berbagai masalah yang di luar dugaan mereka. Naudzubillahi min dzalika.

 

.Infaq dan Shadaqah

Infaq dan shadaqah adalah amalan nawafil dalam mencari keberkahan harta. Kalau zakat sudah ada ketentuannya, baik besaran maupun waktunya, sedangkan infaq shadaqah tidak ditentukan besaran dan waktunya. Diutamakan diberikan kepada karib kerabat , orang miskin dan musafir sebagai penguat tali silaturahim sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam QS. AL Baqarah ayat 215 yang artinya, “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. Balasan dari zakat sudah jelas dari sisi sebuah ketaatan, tetapi pahala infaq shadaqah ini justru diberikan pelipatgandaan mulai dari tujuh kali, sepuluh kali, seratus kali, tujuh ratus kali, hingga tak terhingga (ghairu hisab), yang diberikan baik masih ketika di dunia maupun di akhirat. Allahu akbar.

Nyatanya… hampir sama, umat Islam mulai enggan berinfaq dan bershadaqah yang berbeda dengan sebagaimana semangat para shahabat dan kaum salafus shaleh dalam berinfaq shadaqah fii sabilillah. Alasan klasik adalah akan mengurangi harta mereka, kebutuhan sehari-hari akan berkurang atau mengurangi modal usaha mereka. Atau juga sebagian umat Islam tetap melakukannya tapi dalam rangka dipakai untuk popularitas semata, minimal dijuluki dengan si Dermawan. Ingatlah para mayyit di alam kubur minta dibangkitkan lagi ke dunia ini atau manusia minta ditangguhkan kematinnya dikarenakan mereka menginginkan untuk dapat beramal sedekah sebagaimana diceritakan dalam QS.Al Munafiqun ayat 10. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… .

 

.Wajah yang penuh senyum

Wajah dengan penuh senyum… hmmm, sulit sekali dicari. Kalau bisa hanya sekedar formalitas dalam sebuah pertemuan, atau gambar pada foto-foto di baligho promosi sebuah jabatan. Kalau bisa dicari teman untuk debat kusir dan menambah jumlah lawan dalam perbedaan pendapat dengan wajah merah garang. Padahal jelas, Rasulullah SAW mengatakan bahwa senyum itu sedekah. Dengan senyum, luruhlah sebuah kebencian, terucaplah kata saling maaf, terikatlah dalam rahmat Allah dan diampuni dosa-dosanya atas sebuah keikhlasan. Kadang orang bangga dengan wajah yang garang dan seram, agar orang lain yang melihatnya bahwa ia penuh kewibawaan dan kekuatan. Rasulullah SAW murah senyum, Abu Bakar ra murah senyum, Umar bin Khaththab ra murah senyum, tetapi tidak mengurangi kewibawaan dan kekuatannya. Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i ra dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (HR. Tirmidzi). Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria (tersenyum)” (HR. Muslim).

 

.Tebarkan Salam (أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ)

Tebarkan salam atau afsyus salaam bainakum adalah salah satu amalan ringan yang menjadikan sebab masuknya seorang ke syurga Allah. Ya…hanya mengucapkan “assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakutuhu” tetapi disampaikan atau ditebarkan kepada semua orang baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Kalau ditebarkan kepada orang yang sudah sering ketemu, itu hal biasa…, tapi kepada yang belum dikenal itu yang sulit. Dalam riwayat, ada seorang shahabat yang memiliki waktu khusus hanya diperuntukan menebar salam yaitu di pasar sekitar kota Yatsrib (Madinah) dikarenakan menggapai keutamaan itu. Mengenai perintah menebarkan salam ini pun, Rasulullah SAW sampai bersumpah untuk itu. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda,”Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga, hingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian satu perbuatan yang jika kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai? Terbarkanlah salam antara kalian.” (HR. Muslim no.54 dan Abu Dawud no.5195). Mengenai adab-adab menebar salam sudah banyak kita jumpai dalam kitab-kitab Fiqih, hanya aplikasi dalam kehidupan kita yang masih jauh panggang dari api.

 

.Sikap Itsar

Itsar adalah sebuah akhlak Islam yang luar biasa, ia merupakan sebuah sikap melebihkan orang lain (saudaranya) atas dirinya sendiri. Akhlak ini adalah puncak tertinggi dari ajaran atau amalan ukhuwah islamiyah. Mengorbankan dirinya, mengutamakan orang lain, memberikan sesuatu kepada saudaranya tanpa meminta balasan imbalan di kelak kemudian hari. Kalau bukan panggilan keimanan, amatlah berat untuk dikerjakan. Apalagi ketika seseorang sedang mengejar dunia berupa harta dan jabatan. Akhlak ini adalah amalan yang sangat dicintai Allah, Rasul dan dicintai oleh setiap makhluk. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang artinya,“Orang yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan).

Pelajaran tentang itsar ini dapat kita temui di kisah para shahabat assabiqunal awwalun saat terjadi peristiwa hijrah yaitu golongan muhajirin dan anshar, sampai Allah mengabadikan dalam kitabNya sebagai pembelajaran bagi umat Islam di kemudian hari, yaitu dalam QS. Al Hasyr ayat 9, yang artinya : ”Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang  berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada memiliki keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”. Semoga kita dikaruniakan dalam hati kita sifat itsar ini dalam menggapai kecintaan Allah dan RasulNya.

 

.Thalabul ‘ilmi

Sebuah kewajiban bagi manusia apalagi yang tersemat di dadanya sebagai seorang muslim dan mukmin, adalah kewajiban menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi). Menuntut ilmu adalah sunnah para Anbiya wal Mursalin. Sejak nabi Adam as yang dimuliakan di antara makhluk ciptaan Allah lainnya yang disandangkan sebagai khalifah fil ardhi karena ilmu hingga Rasulullah SAW yang diperintahkan saat penyematan tanda kerasulannya dengan perintah “Iqra”. Rasulullah SAW pun memerintahkan kepada kita menuntut ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat, dalam pengertian sosok muslim yang beriman untuk menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat (long life learner). Ilmu yang wajib dan penting pertama yang harus dipelajari bagi seorang muslim yang beriman adalah ilmu untuk mengenal tuhannya (ma’rifatullah) dan peng-esa-an Nya (tauhid). Dengan ilmu itu seorang muslim yang beriman akan mengenal sang penciptanya, sang pengatur kehidupannya, sang penanggung rizkinya, sang penetap aturan-aturan yang harus kita jalani dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian kita tidak tersesat dalam kehidupan ini. Setelah itu akan tersambunglah segala ilmu yang ada sebagai penunjang kehidupan kita kepada muaranya yaitu tauhid. Kita akan paham darimana, mau apa dan mau kemana kita hidup ini. Hal-hal pokok yang dikuatkan sehingga ketika hal-hal cabang bisa dibahas dengan nilai-nilai keimanan dan tauhid.

Bagaimana dengan kaum muslimin saat ini? Disibukkan dengan ilmu-ilmu yang dengannya untuk mendapatkan dunianya. Sehingga beban kepala sudah terpenuhi dengan hal demikian dan sulit untuk menyisipkan sebuah perbaikan mengenal hakekat kehidupan dengan mempelajari tentang tuhannya. Kita ketahui bersama bahwa memang untuk mendapatkan dunia dengan ilmu, untuk mendapatkan akhirat dengan ilmu, dan untuk mendapatkan keduanya dengan ilmu. Hanya saja terlalaikan dengan ilmu yang pertama, tidak sadar bahwa perjalanan akhirat kekal sementara perjalanan dunia amat sangat singkat.

 

.Tadarus dan tadabbur Qur’an

Untuk masalah satu ini, ada pertanyaan sederhana yang terlontar kepada kita semua sebagai seorang muslim, 1) dalam satu tahun kita khatam al Qur’an berapa kali? 2) kalau dalam satu tahun hanya satu kali, kapan itu terjadi? 3) kalau tidak terjadi (tidak mencapai target sangat-sangat minimal satu tahun sekali) mengapa terjadi demikian? 4) kesibukan apa yang menyebabkan kita terlalaikan untuk membaca dan mengkhatamkan sebuah surat cinta dari Sang Pencipta diri kita? 5) kalau tercapai target sangat minimal (khatam satu kali setahun) mengapa di waktu lain tidak terapai? Kesibukan apa yang melalaikan kita dari hal itu? Tadarus saja tidak disempatkan apalagi mentadabburinya. Mikir….

Kita sering disibukan membaca berita KORAN dan membahasnya berhari-hari walaupun basi kalau sudah lewat hari, tetapi kita terlupakan membaca QUR’AN. Di dalamnya banyak berita masa lalu, kini dan yang akan datang bahkan berita tentang sesuatu ketika dunia ini sudah tidak ada. Isinya tidak pernah basi karena pengaruh waktu. Empat belas abad berlalu, dengan tadarus dan mentadabburinya dapat menguasai dunia, mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan dunia akhirat. Berita KORAN sering kita cari setiap pagi, sementara QUR’AN dibiarkan berada di lemari suci berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Ia akan disentuh dan disuarakan ketika ada moment-moment, selain itu kembali benar-benar menjadi barang suci tanpa tersentuh pemiliknya kecuali oleh hewan kutu buku. Apalagi mau mentadabburinya…, Mikir…

Kondisi ini memang sudah diprediksi oleh Rasulullah SAW ketika umat ini tidak mengikuti petunjuknya. Sebagaimana beliau bersabda yang artinya,”Akan datang pada manusia di kala itu islam tidak tinggal melainkan namanya dan Al-qur’an tidak tinggal melainkan tulisannya…” (HR. Al Baihaqy). Atau akan sampai pada fenomena lain yaitu tetap membaca tapi disalahgunakan, sebagaimana yang disabdakan juga, “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

.Sunnah Fitriyah

Sunnah fitriyah apa sih? Dalam kitab Shohih Fiqhus Sunnah I/97 karangan Sayid Sabiq dijelaskan bahwa sunnah fitriyah adalah suatu tradisi yang apabila dilakukan akan menjadikan pelakunya sesuai dengan tabi’at yang telah Allah tetapkan bagi para hambanya, yang telah dihimpun bagi mereka, Allah menimbulkan rasa cinta (mahabbah) terhadap hal-hal tadi di antara mereka,  dan jika hal-hal tersebut dipenuhi akan menjadikan mereka memiliki sifat yang sempurna dan penampilan yang bagus. Hal ini merupakan sunnah para Nabi terdahulu dan telah disepakati oleh syari’at-syari’at terdahulu. Maka seakan-akan hal ini menjadi perkara yang jibiliyyah (manusiawi) yang telah menjadi tabi’at bagi mereka.

Apa tujuan sunnah fitriyah ini? Ibnu Hajar rahimahullah berkata, bahwa sunnah fitrah ini akan mendatangkan faedah diniyyah dan duniawiyyah, di antaranya, akan memperindah penampilan, membersihkan badan, menjaga kesucian, menyelisihi simbol atau perilaku orang kafir (umat lain), serta melaksanakan perintah syari’at (ketaatan). (Lihat Taisirul ‘Alam, 43).

Apa saja yang termasuk dalam sunnah fitriyah itu? Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu : mencukur bulu kemaluan, berkhitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku“ (Hadits Riwayat Bukhari 5550, 5552, 5939. Muslim 257. Abu Dawud 4198. Tirmidzi 2756 dan ini lafalnya. Nasa’i10. Ibnu Majah 292)
Hadits yang lain dari Aisyah, dari jalan Zakariya bin Abu Zaidah dan Mush’ab bin Abu Syaibah dari Thalq bin Habib dari Abu Zubair dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Sepuluh perkara yang termasuk fitrah, yaitu : memotong kumis, membiarkan jenggot, bersiwak (gosok gigi), memasukkan air ke dalam hidung (ketika berwudhu-istinsyaq), memotong kuku, membasuh ruas jari (Barojim), mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan (Istihdaad) , beristinja’ (dengan menggunakan air)“ Zakaria berkata, “Mus’ab berkata, Aku lupa perkara yang kesepuluh. Kalau tidak salah adalah berkumur (Madmadhoh)” (Hadits Riwayat Ahmad VI/137. Muslim 261. Nasa’i 5040. dan Tirmidzi 2757).

Nah, sekarang bagaimana sikap seorang muslim yang ingin menjalankan sunnah fitriyah ini. Sekarang bagaimana pula sikap seorang muslim ketika ada artikel-artikel yang meragukan tentang sunnah fitriyah ini. Orang-orang yang ingin menjauhkan segala sesuatu yang berkenaan dengan syariat atau sunnah selalu mencari jalan agar sesuatu itu terjauhkan dari kaum muslimin, dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang besar. Belum lagi sunnah-sunnah kecil ketika kita akan tidur, makan, minum, buang air, mandi dan lainnya. Siapa tahu dari sunnah-sunnah yang kecil ini kita lakukan, Allah dan RasulNya ridho pada kita.

 

.Amar ma’ruf Nahi munkar

Amar ma’ruf secara umum dan sederhana berarti mengajak orang untuk berbuat baik (ma’ruf) dan nahi munkar berarti menahan atau mencegah orang untuk berbuat jahat/maksiyat (munkar). Banyaknya kemuliaan dalam perintah ini yang Allah sendiri perintahkan dalam kitabNya. Allah akan golongkan kepada orang-orang yang beruntung (dunia akhirat) (QS. Ali Imron ayat 104), menjadi umat yang terbaik dari sekalian umat/manusia (QS. Ali Imron ayat 110), digolongkan orang-orang yang shalih (satu di antara empat golongan yang mendapat nikmat yang banyak dari Allah – QS.An Nisa ayat 69) (QS.Ali Imron ayat 114), kelompok yang diberi rahmat Allah SwT (QS.At Taubah ayat 41), kelompok yang berjual beli dengan Allah dan mendapatkan kemenangan besar di akhirat (QS.At Taubah ayat 111 – 112), dan akan diteguhkan kedudukannya (kemuliaan dan kekuasaannya) di muka bumi (QS. Al Hajj ayat 41).

Orang yang melakukan amar ma’ruf banyak tetapi yang bersamaan juga melakukan nahi munkar sedikit. Alasannya adalah resiko yang ditanggung, mengajak kebajikan (amar ma’ruf) memiliki resiko yang kecil dibanding mencegah kemungkaran (nahi munkar). Padahal kedua perintah itu satu paket sebagaimana perintah shalat dengan perintah zakat atau perintah untuk beriman dengan perintah beramal beramal shaleh. Apalagi sekarang adanya fenomena dakwah amar ma’rufnya diselingan dengan gaya entertaiment atau dicampuradukkan dengan senda gurau, gelak tawa audien dakwah. Alasan lain bahwa ketika diajak kebaikan, toh perbuatan baik itu nantinya akan menghapus (dosa-dosa) pebuatan buruk (QS.Hud ayat 114). Sekali lagi, masalahnya adalah bukan dipisahkan satu dengan lainnya antara amar ma’ruf dengan nahi munkar, tetapi perintah itu adalah satu paket. Allah pun memerintahkan dengan cara bijak dalam QS. An Nahl ayat 125 yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Dan bukan pula dianjurkan dakwah pemvonis, karena hidayah itu milik Allah bukan milik para da’i. Allah pun mengingatkan kita akan dakwah ini tanpa menghakimi mad’u (audiens dakwah) ketka menolak sebagaimana dalam QS.Ali Imron ayat 20, yang artinya: ”Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi (orang-orang yang tidak paham keislamannya): “Apakah kamu (mau) masuk Islam (berislam)”. Jika mereka masuk Islam (berislam), sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. Para da’i hanya pelaku dakwah amar ma’ruf nahi munkar dengan menasehati dalam hal kebenaran (Islam), kesabaran dan kasih sayang. Wallahu a’lam bis shawwab.

 

.Poligami

Syariat ini adalah syariat nomor wahid ditakuti oleh para wanita, “dan” syariat nomor wahid “yang dirusak” pelaksanaannya oleh kaum pria yang tidak paham syariat (hanya sebagai amunisi untuk melakukannya). Belum lagi ditambah seramnya berbagai alasan penolakan dari para kaum feminisme, sekuler dan orang-orang yang membenci syariat dalam berbagai bentuk kajian, tulisan dan tayangan media termasuk juga dari kaum kafir dan munafik. Mereka menyebarkan paham anti syariat dengan jurus selembut salju seharum bunga untuk menambah kekuatan penolakan dari kaum muslimin sendiri, sehingga dapat diterima secara baik oleh akal maupun perasaan.

Allah SwT ketika menurunkan aturan, hukum dan syariat pasti memiliki tujuan dan tersimpan hikmah-hikmah besar di dalamnya. Terkadang aturan, hukum dan syariat ini “disalahartikan” bahkan “disalahlaksanakan” oleh kaum muslimin. Bagi laki-laki muslimin, syariat poligami ini menjadi dalil pemaksaan untuk dapat terlaksana baginya, sementara mereka sangat minim ilmu penerapan syariat tersebut. Bagi wanita muslimat, menolak syariat ini karena dianggap sebagai pintu awal dari sebuah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istri dan anak, bagian dari jalan cerita sebuah perselingkuhan, sebuah fragmentasi ketidaksetiaan hubungan suami istri dan ketidakadilan dalam rumah tangga. Mereka juga tidak paham akan tujuan, hikmah dan konsekuensi syariat ini bagi kaum mereka.

Sedikit menjadi dalil penolakan adalah dengan menggunakan QS.An Nisa’ ayat 129 sebagai penjelas dari QS. An Nisa ayat 3-nya. Atau dengan menggunakan hadits berkenaan tentang penolakan Rasulullah SAW terhadap permintaan izin keluarga Bani Hasyim bin Mughiroh (Abu Jahal) yang ingin menikahkan anaknya perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib, yang saat itu Ali bin Abi Thalib ra sudah beristri Fathimah putri Rasulullah, tanpa melihat asbabul wurud hadits tersebut. Padahal ada alasan lain dibalik penolakan itu yang dijelaskan dalam hadits lain, beliau bersabda yang artinya,”Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal atau mengharamkan yang halal, akan tetapi demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasul Allah dan anak perempuan musuh Allah pada seorang laki-laki selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara di balik sana, banyak kasus perzinahan sudah sangat merajalela bahkan dianggap biasa saja bagi sebagian besar orang. Bahkan zinah yang dilegalkan dengan memberikan fasilitas tempat dan pengakuan (sertifikasi) terhadap pemberi pelayanan zinah. Apalagi banyak kasus perzinahan yang dibela oleh media, seolah itu sesuatu hal yang biasa dan bagian dari perjalanan hidup dan percintaan dari insan manusia. Dan sebaliknya bagi yang benar-benar melakukan atas sebuah ketaatan kepada Allah dan RasulNya, dianggap sebagai orang-orang 53Xmania dan sampah masyarakat. Naudzubillahi min dzalika.

 

.Hukum Qishash

Hukum Qishash adalah hukum dalam syariat Islam yang berarti pembalasan dengan hukum yang setimpal/semisal yang perbuatan yang dilakukan. Dalam kasus pembunuhan, hukum ini memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta dijatuhkan hukuman mati kepada pembunuh. Kecuali keluarga korban meminta ganti berupa denda (diyat) kepada korban dan atau justru memberikan maaf. Allah Swt berfirman dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 178 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu qishash atas orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barangsiapa mendapat ma’af dari saudaranya, hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik”.

Sebenarnya hukum ini pun diterapkan pada umat-umat terdahulu, tetapi terkadang ketika mendengar kata-kata hukum Qishosh seolah-olah hanya Islam yang menerapkan. Hanya umat-umat terdahulu melanggar perjanjian dengan Allah dan membatalkan hukum-hukum Allah ini, sebagaimana dalam QS.Al Maidah ayat 45 yang artinya,” ..dan Kami telah tetapkan terhadap mereka (bani Israil) di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”. Mereka zalim terhadap diri mereka sendiri karena tidak menerapkan hukum-hukum Allah yang sudah ditetapkannya.

Sebenarnya Allah ingin memberikan pembelajaran (ibroh) pada manusia berkenaan dengan hukum qhisoh ini, yaitu satu sisi agar manusia harus menghargai manusia berkenaan dengan nyawa, pelajaran bagi manusia lain agar tidak melakukan tindakan zhalim dengan menghilangkan nyawa manusia yang bukan haknya, kalau pun terlaksana hukuman tersebut adanya keberlangsungan hidup bagi yang terhukum yaitu diterimanya taubatnya oleh Allah (QS Al Baqarah ayat 179), pemberian maaf bagi pelaku pembunuhan dari keluarga korban merupakan sebuah amalan yang tinggi di sisi Allah.

 

.Hukum Rajam dan Jilid (cambuk)

Hukum rajam dan jilid (cambuk) ini adalah hukuman yang berlaku bagi para pezina. Hukuman rajam berlaku khusus untuk para pezina dengan status muhshan atau sudah menikah, sementara hukuman jilid (cambuk) berlaku untuk para pezina yang belum menikah (ghairu muhshon) sebanyak 100 kali cambukan (QS. An Nur ayat 2). Penetapan ini tidak semudah yang dibayangkan karena ada syarat-syarat yang berlaku dan tidak sembarang orang yang melakukannya. Inilah sebuah keadilan hukum Allah, terkadang manusia memandang dari sisi hak azazi manusia yang terkadang tidak sesuai dengan Sang Pembuat Hukum yaitu Allah, yang mereka anggap tidak paham akan hak azazi manusia. Naudzubillahi min dzalika.

Adapun syarat penerapan hukum rajam atau hudud lainnya diberlakukan sangat ketat agar supaya tidak terjadi kezaliman dua kali dalam penerapan hukum tersebut. Syarat-syarat tersebut antara lain adalah 1) menghindari pemberlakuan hukuman selama ada syubhat hingga jelas letak perkara (Rasulullah SAW bersabda yang artinya,”hindarilah hukum hudud denganmasih adanya syubhat”; 2) wilayah hukumnya resmi masuk dalam wilayah hukum syariat Islam, masyarakatnya melek hukum syariat, dan mereka setuju dan ridho atas pemberlakuan hukum syariat tersebut; 3) adanya mahkamah syariah resmi yang dipimpin oleh seorang qadhi (hakim) dan beranggotakan orang-orang paham dan ahli di bidang syariah; 4) peristiwa pelanggaran hukum terjadi di dalam wilayah hukum syariah; 5) pelaku zina telah memenuhi syarat seperti muhshon (sudah menikah), islam , baligh, berakal (tidak gila), dan merdeka bukan budak (bila tidak trepenuh syarat itu maka haram hukum diberlakukan); 6) kesaksian 4 orang laki-laki, Islam, berakal, baligh, dan melihat langsung (memergoki) peristiwa perzinahan tersebut dan bukan rekaman; 7) atau atas persaksian/pengakuan sendiri. Dua syarat terakhir ini sebagai syarat masuknya perkara ke mahkamah syariat.

Dalam kasus ini, saking berat dan kehati-hatiannya serta dalam kenyataannya di zaman Rasulullah SAW hukuman rajam belum pernah terjadi karena persaksian dari oleh orang lain (saksi) melainkan atas pengakuan yang bersangkutan (pelaku zina). Itupun dilaksanakan oleh Rasulullah dalam rentang waktu lama (dua tahun lebih) dan HANYA tiga kasus. Hal ini karena kaum muslimin ketika itu tidak sembarangan mau menjadi saksi atas tuduhan berzina seseorang. Mereka sangat paham akan konsekuensi terhadap menuduh zina kepada orang lain apalagi dengan di bawah sumpah. Karena dalam QS. An Nur ayat 4 – 10, 23 – 25, dijelaskan konsekuensi bila tidak terbukti maka akan terkena hukuman balik sebanyak 80 kali jilid/cambuk, tidak diterima kesaksiannya selama-lamanya, digolongkan ke dalam orang-orang fasik (kecuali ia bertaubat), ia akan dilaknat oleh Allah dunia akhirat setelah ia bersumpah atas nama Allah sebanyak empat kali dan yang kelima bahwa tuduhan itu benar (ia tidak berdusta) ternyata tidak terbukti (kecuali ia bertaubat), serta azab yang pedih di akhirat. Naudzubillahi min dzalika. Inilah sebuah keadilan akan hukum Allah, tetapi manusia yang jahil justru mempermainkan hukum-hukum Allah ini.

 

.Hukum Potong Tangan

Hukum potong tangan, adalah salah satu jenis hudud yang berlaku bagi seorang pencuri. Hukum syariat ini memang ditetapkan Allah dalam kitabNya tetapi dianggap sesuatu yang melanggar hak azazi manusia (HAM) dan tidak berperi kemanusiaan serta menambah jumlah orang-orang cacat. Allah SwT berfirman dalam Al Quran pada surat Al Maidah ayat 38 – 39, yang artinya :” Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Atau dalam sebuah peristiwa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra, berkata : ”Bahwa Rasulullah memotong tangan seseorang yang mencuri tameng/perisai, yang nilainya sebesar tiga dirham” (Muttafaqun ‘Alaihi). Ibnu Mundzir rahimahullah dalam hal ini berkata,”Para Ulama sepakat bahwa hukum potong tangan bagi pencuri dilakukan bila ada dua orang saksi yang adil, beragama Islam dan merdeka.”. Dan ‘Abdurrahman al-Jaziriy berkata, “Hukum had atas pencurian telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan Sunnah serta kesepakatan para ulama. Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan hukumannya dalam ayat-Nya yang mulia. Dia Azza wa Jalla telah memerintahkan potong tangan atas pencuri baik laki-laki atau perempuan, budak atau merdeka, Muslim atau non Muslim guna melindungi dan menjaga harta. Hukum potong tangan ini telah diberlakukan pada zaman jahiliyah sebelum Islam. Setelah Islam datang, Allah Azza wa Jalla menetapkannya dan menambahnya dengan persyaratan yang telah diketahui”.

Kejamkah hukum potong tangan ini? Dan tidak manusiawikah hukuman ini? Mari kita berfikir sejenak, bahwa kedudukan perlindungan harta dalam Islam sama pentingnya kedudukan perlindungan jiwa. Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya, “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian, sebagaimana diharamkannya hari kalian pada saat ini, di tempat ini, dan di bulan ini “ (HR. Bukhari). Pernahkah berpikir bahwa hukuman penjara bagi pencuri, pemalak, pembegal, perampok, koruptor akan membawa kesadaran yang tuntas bagi pelakunya setelah keluar penjara? Apakah korban yang kehilangan harta dengan serta merta memaafkan mereka hanya sekedar alasan musibah bagi mereka? Pernahkah kita lihat bersamaan dengan itu pula, pencuri harta ini terkadang juga melakukan kekerasan terhadap korban bahkan menghilangkan nyawa korban? Sebenarnya inilah sebuah keadilan hukum dari Sang Maha Pembuat Hukum yaitu Allah, untuk menghindari hal-hal lain yang menyertai dari sebuah kasus pencurian dan sejenisnya.

Bagaimana bila orang miskin yang mencuri? Di sinilah fungsi dari seorang hakim yang adil yang sesuai dengan hukum Allah. Umar ra pernah memutuskan sebuah kasus demikian justru korban pencuriannya yang dihukum, karena mereka tidak memperhatikan dan peduli terhadap orang miskin. Coba bandingkan dengan kasus yang sama di negeri ini…, pedang hukum sangat tajam ke bawah tumpul ke atas. Kasus nenek Asyani usia 63 tahun ditetapkan sebagai “pencuri kayu” dan dihukum karena telah mengambil kayu dari perkebunan sebuah perusahaan dengan hukuman 3 bulan. Atau nenek Minah usia 55 tahun yang ditetapkan sebagai “pencuri kakao” di perusahaan perkebunan dan dihukum 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… Di sinilah fungsi hakim yang adil dan menegakkan hukum Allah, yang Allah jamin masuk syurga tanpa hisab karena keadilannya.

 

.Jihad

Terakhir adalah syariat jihad, adalah satu syariat dalam Islam yang paling ditakuti oleh musuh-musih Islam yang terdiri dari kaum musyrikin dan kafir, dan… juga kaum muslimin sendiri yang terkena penyakit wahn (hubbud dunya wa karohiyatul maut) atau terlalu cinta dunia dan takut mati. Orang mensalah artikan pengertian jihad dengan pengertian yang sangat sempit yaitu perang (Qital). Memang qital/perang merupakan salah satu bagian dari jihad, tetapi jihad tidak identik dengan qital/perang. Jihad arti secara bahasa adalah beasal dari kata aljahdu dan aljuhdu yang berarti kemampuan dan bersusah payah (al mufrodat hal 99, Imam Ar Ragib) atau jihad yang berarti bersusah payah (Fathul Bari 6/3, Imam Ibnu Hajar al Asqolani).

Sementara Syaikhul islam rohimahulloh memberikan pengertian jihad secara umum, yaitu:  ”Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai oleh kebenaran dan menangkal sesuatu yang dibenci oleh kebenaran.” Dan beliau juga berkata: ”Hal itu disebabkan karena hakikat jihad adalah bersungguh-sungguh mendapatkan apa-apa yang dicintai oleh Alloh dari iman dan amal sholeh serta menangkal apa-apa yang dibenci oleh Alloh dari perbuatan kufur, fasik dan juga perbuatan maksiat.” (Majmu’ fatawa 10/ 191 -193).

Allah menyuruh berjihad kepada orang-orang beriman dengan jiwa dan harta, bahkan Allah membeli jiwa raga mereka dengan balasan syurganya. Jihad dengan jiwa yang meliputi pikiran, jiwa dan semangat dalam menegakkan ketaatan kepada Allah, menegakkan syariat Allah, ketinggian dari kalimat tauhid. Kalaupun ketika melakukan sesuatu dalam rangka menegakkan ketaatan, menegakkan syariat Allah dan ketingggian dari kalimat Tauhid dihalangi dalam bentuk fisik (perang), maka umat Islam yang beriman dilarang untuk lari dari medan itu. Itulah puncak sebuah perjuangan jihad, sekaligus sebagai bentuk pertahanan terakhir umat ini dari gempuran-gempuran yang ingin menghancurkan Islam (umat Islam dan syariat Islam). Jihad dengan harta yang mendukung sebuah perjuangan jihad fisik, sebagai bentuk wujud kepasrahan demi tegaknya Islam.

Yang termasuk di dalam jihad juga ada di situ adalah dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, menuntut ilmu atau thalabul ‘ilmi, menjalankan sebuah ketaatan dan meninggalkan sebuah kemaksiyatan, memerangi hawa nafsu, menegakkan sendi-sendi Islam dalam seluruh sendi-sendi kehidupan karena Islam itu juga sebagai manhaj/sistem yang lengkap, membela kaum muslimin yang tertindas atau ditindas oleh kezaliman, membebaskan kebodohan dan kemiskinan, bakti kepada orangtua dan banyak lagi yang merupakan bagian dari ladang jihad.

Hanya…dikarenakan umat ini sudah terkena penyakit WAHN (Hubbud dunya wa karohiyat maut) atau terlalu cinta dunia dan takut mati, maka umat ini justru menjauhi dari ladang jihad secara umum apalagi yang tertingginya jihad qital. Padahal Allah sudah berjanji akan membeli diri dan harta orang-orang beriman ini dengan syurga yang abadi, mereka berjuang/berjihad/berperang hingga mereka terbunuh dalam perjuangan itu, sebagaimana dalam QS. At Taubah ayat 111. Penyebabnya ada pada sisi diri mereka sendiri yang menjadi penghalang yang sudah Allah peringatkan dalam QS. At Taubah ayat 24 yang artinya,” Katakanlah: “jika bapak-bapakmu , anak-anakmu , saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum kerabat keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”.

 

Demikian sebagian syariat Allah dan sunnah Nabi SAW yang dibenci dan ditinggalkan oleh umat yang mengaku sebagai umatnya nabi Muhammad SAW. Masih banyak syariat dan sunnah lain yang mengalami hal demikian. Dan ketika itu terjadi, umat Islam terkadang tanpa ada pembelaan (mencari aman) terhadap sebagian syariat atau sunnah yang dilecehkan, dibenci, dipermainkan dan dianggap tidak manusiawi. Rasulullah mengingatkan pula dalam sabdanya ketika kita jauh dari hukum-hukum Allah akan muncul fitnah-fitnah dan musibah yang terkena pada umat ini. Hadits-hadits peringatan itu abadi sebagai peringatan kaum muslimin, dan hadits-hadits itu antara lain :

  1. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra. ia berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lobang biawak pun kamu akan mengikuti mereka”. Sahabat bertanya. “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nashrani yang Tuan maksudkan?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Siapa lagi?” (kalau bukan mereka). (HR. Muslim)
  2. Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (benjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani).
  3. Akan ada di akhir zaman para penguasa sewenang-wenang, para pembantu (pejabat pemerintah) fasik, para hakim pengkhianat, dan para ahli hukum Islam (fuqaha’) pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pengumpul pajak, pemimpin, dan polisi.” (HR. Thabrani).
  4. Dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah SAW bersabda: ”Bila Allah Azza wa Jalla murka kepada suatu kaum (karena meninggalkan hukum-hukumNya), maka kaum itu akan ditimpa adzab. Harga-harga barang menjadi mahal, kemakmurannya menjadi surut, perdagangannya tidak mendapatkan untung, hujan sangat jarang, sungai-sungainya tidak mengalir dan penguasanya adalah orang-orang yang rusak akhlaknya”. (HR. Dailami dan Ibnu Najjar).
  5. Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang memerintah kalian dengan hukum yang tidak kalian ketahui (imani). Sebaliknya, mereka melakukan apa yang kalian ingkari. Sehingga terhadap mereka ini tidak ada kewajiban bagi kalian untuk menaatinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).
  6. Dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika ada seseorang berkata, “Orang banyak (sekarang ini) sudah rusak”, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka.” (HR. Muslim).

Wallahu a’lam bishshawwab

GoesPrie, Mei 2015