Keimanan, Ketika Akal dan Perasaan Diuji

Dalam diri manusia ada dua hal yang sering mendominasi dan ditunjukkan dalam bentuk sikap dan perbuatan. Warna-warni kehidupan manusia di dunia inipun diwarnai oleh keduanya. Keduanya itu adalah kekuatan akal dan perasaan, yang selalu ada pada setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan dengan komposisi yang berbeda. Pada sosok laki-laki, maka akallah (baca : logika) yang lebih mendominasi ketimbang perasaannya, bukan berarti para laki-laki tidak punya perasaan. Banyak dalam sejarah, bagaimana para sahabat ra dan para salafus shalih, mereka mudah tergugah dan halus perasaannya. Mereka terkadang lebih banyak dan mudah menangis ketimbang kebanyakan orang. Dan sebaliknya pada perempuan, justru peran perasaanlah yang lebih dominan ketimbang akalnya, bukan berarti para wanita itu kurang cerdas. Banyak pula para shahabiyah ra dan salafus shalihah yang cerdas-cerdas dan kritis. Dari tangan mereka muncul dan terlahir orang-orang hebat di masing-masing zaman.

Akal dan perasaan ini dibantu oleh indera untuk berinteraksi dan memperoleh pesan dari luar dirinya dengan segala keterbatasannya, yaitu pendengaran dan penglihatan, sebagai indera yang lebih dominan disamping indera lainnya. Kedua indera ini nanti di akhirat diminta pertanggungjawaban tentang apa-apa yang diaksesnya guna keperluan pengolahan oleh akal dan perasaan. “Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan” (QS.Fushsilat 41 : 22). “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isra’ 17 : 36). Sehingga kita disuruh menjaga dari kedua indera ini agar akal dan perasaan tidak salah memroses masukan dari keduanya.

Bagi orang-orang beriman, mereka sangat meyakini bahwa Allah sebagai pencipta mereka, mereka juga yakin bahwa Allah telah menetapkan apa-apa berupa aturan, tuntunan dan syariat bagi mereka. Mereka dengan panggilan keimanannya menyambut semua itu dengan jawaban kami dengar dan kami taat (beriman), kemudian mereka tanpa keraguan sedikitpun. “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu)”. (QS. Al Maidah 5 : 7). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al Hujurat 49 : 15).

Banyak kisah-kisah dan hikmah tentang ujian keimanan yang berhubungan dengan akal dan perasaan. Karena banyak juga hal-hal yang berhubungan dengan keimanan tidak perlu ditimbang-timbang atau diuji secara empiris dengan menggunakan akal dan perasaan. Ketika dipaksakan maka akan muncul dalam diri manusia, prasangka buruk terhadap aturan, tuntunan dan syariat yang Allah tetapkan. Seolah-olah Allah lupa, Allah kurang bijak, Allah pilih kasih, Allah kejam, Allah salah menetapkan dan sebagainya. Padahal sifat-sifat itu mustahil bagi Allah. Terakhir yang terjadi adalah pengingkaran dan mengolok-olok terhadap apa yang telah ditetapkan Allah, serta menjadi bahan canda-tawaan. Ada beberapa contoh kisah dan hikmah di dalam ujian-ujian keimanan yang tertuju pada akal dan perasaan, antara lain :

  1. Kisah tidak diakuinya Kan’an anak Nabi Nuh as sebagai keluarganya oleh Allah. “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku (Kan’an) termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia (Kan’an) bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya ia melakukan perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”. (QS Huud 11 : 45 – 47).
  2. Dialog antara Nabi Ibrahim dengan Allah, berkenaan dengan bagaimana Allah menghidupkan makhluk hidup yang sudah dimatikan. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Baqarah 2 : 260).
  3. Ujian ketika perasaan cinta terhadap apa-apa yang ada di kehidupan dunia yang merupakan hal-hal yang dekat dengan kehidupan dirinya dibandingkan dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dalam membela agama-Nya. (QS At Taubah 9 : 24).
  4. Ketika Bani Israil disuruh nabi Musa as untuk menyembelih seekor sapi betina untuk diambil bagian tertentu tubuh sapi itu sebagai bentuk sarana pembuktian dalam kasus pembunuhan yang terjadi saat itu. Ternyata kaum bani Israil justru mempertanyakan perintah itu. Bahkan mereka mempersulit diri mereka sendiri akibat terlalu banyaknya pertanyaan berkenaan dengan perintah itu. (QS. Al Baqarah 2 : 67 – 73)
  5. Bagaimana cara makhluk lain selain manusia seperti hewan-hewan, tumbuhan, gunung-gunung, petir dan lainnya bertasbih kepada Allah. (QS. An Anbiya 21 : 79; Al Hadid 57 : 1; Al Hasyr 59 : 1; Al Isra 17 : 44), dan Allah mengetahui hakekat apa-apa yang mereka lakukan (QS An Nur 24 : 41). Sementara manusia tidak dapat menyentuh hakekat tasbih mereka melalui panca indera yang dapat diterima melalui akal.
  6. Perintah berhijab, menerapkan hukum waris, qishosh, syariat poligami, menghidupkan sunnah fitriyah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad dan banyak lagi yang menjadi ujian bagi umat Muhammad saw di akhir zaman. Semua itu terkadang dianggap terlalu primordial, tidak kekinian, kaku, melanggar hak azazi manusia dan segudang alasan yang dipaksakan tidak sesuai dengan akal dan perasaan manusia.

Dari beberapa kisah dan hikmah di atas, sudah selayaknya sebagai seorang yang menyatakan diri sebagai seorang muslim yang beriman, ketika ada aturan, tuntunan atau syariat apapun yang terdapat di dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya, hanya ada “saya dengar dan saya taat (beriman)”. Dan mencoba menghidupkannya di masa dimana orang-orang banyak mempertanyakannya, meninggalkannya, menjadikannya tontonan dan atau bahkan melecehkannya. Bahkan disambut dengan keraguan dan pertimbangan akal dan perasaan.

Wa qaaluu sami’naa wa atha’naa, ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir.

Wallahu a’lam bis shawwab.

 

(Goesprie, Awal 11 2015)