Bidadari Syurga

                Istilah bidadari ini dalam bahasa Indonesia dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta, Jawa kuno dan Bali yang bersumber pada ajaran agama Hindu, dengan sebutan widyadari, dedari, hapsari, vidhyadhari. Arti dari bidadari itu sendiri menurut ajaran Hindu adalah gambaran sosok wanita cantik dari kayangan (syurga) yang diutus dewa untuk menguji para petapa. Berbeda dalam ajaran Islam, bahwa bidadari ini merupakan sosok wanita cantik syurga sebagai teman/istri bagi laki-laki syurga. Mereka bisa berasal dari wanita bumi yang sholihah dan bisa juga berasal dari penciptaan Allah di syurga yang diciptakan dari tetesan air embun/hujan awan yang berada di bawah ‘Arsy Allah.

                Dalam Islam, istilah bidadari disebut dengan sebutan “Huurin ‘iin” atau “Huurun ‘iin”. Abu Shuhaib al Karami mengatakan, “yang dimaksud dengan Hur adalah bentuk jamak dari Haura yang berarti wanita cantik berkulit putih bermata jeli dan bulatan mata hitamnya sangat hitam dan lebar, sedangkan ‘Ain berarti wanita yang memiliki mata jeli dan indah (yang tidak membosankan)”. Jumlah mereka banyak, dan dalam hadits disebutkan tiap laki-laki ahli syurga diberi minimal 72 bidadari syurga dan minimal 2 isteri dari keturunan bani Adam. Mereka memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri khusus yang tidak dimiliki oleh wanita di dunia. Sifat-sifat dan ciri-ciri khusus itu antara lain :

  1. Wanita yang selalu cantik, bermata jeli dan lebar (bulat, tidak terlalu sipit atau melotot) dan indah serta terpingit (di syurga), belum pernah dilihat maupun disentuh oleh siapapun baik dari golongan manusia maupun golongan jin dan selalu menundukan pandangannya (sifat malu-malu) (Huurun Maqshuuraat) – QS.37:48 ; 52:20 ; 55:56,72.
  2. Wanita yang selalu cantik dan awet muda selamanya, berumur sebaya sekitar 17 – 25 tahunan (Alamah As Sa’di menyebutnya sekitar umur 33 tahun ke bawah), montok (tidak kurus dan juga tidak gemuk) dan memiliki tinggi yang sama (Huurun Atraaban) – QS.56:37 ; 78:33.
  3. Wanita yang cantik yang selalu perawan, penuh cinta, genit dan menggairahkan (Huurun ‘Uruban wa Abkaraan) – QS.56:36-37.
  4. Wanita yang selalu perawan dan suci, tidak pernah berhadats maupun mengeluarkan najis, tidak pernah haid maupun nifas (Huurun Muthahharah) – QS.2:25.
  5. Kecantikannya laksana mutiara dan berlian (tidak membosankan bahkan semakin merindukan), akhlak yang menyenangkan bagi yang melihatnya – QS.37:49 ; 55:58,70.
  6. Mereka selalu berjejer manja di samping dan di depan para ahli syurga bagaikan mutiara yang putih bersih dan berjejer rapi, dan melayaninya – QS.56:23.
  7. Mereka selalu bernyanyi dan bershalawat untuk pemilik/pasangannya yaitu laki-laki syurga suaminya dan tidak berkata-kata sia-sia – QS.56:25-26.
  8. Fisik mereka bagaikan mutiara yang terpelihara dalam cangkangnya, putih bersih mengkilap dan tembus pandang, sebagaimana dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa kulit mereka dapat tembus pandang hingga sumsum betis mereka terlihat, bagaikan melihat kawat perak dalam permata yaqut. Atau di riwayatkan pula, andaikan suami mereka meletakkan tangannya di pundak badadari ini maka ia akan dapat melihat tangannya itu dari dada istrinya (bidadari) di balik baju daging dan kulitnya. (Sumber: An Nihayah : Fitan wa Ahwal Akhir Az Zaman – Ibnu Katsir).
  9. Memiliki aroma tubuh yang sangat harum, Rasulullah saw bersabda,”Sekiranya seorang bidadari syurga turun ke dunia, pasti ia akan menerangi langit dan bumi, dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala seorang wanita syurga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya”. (HR Muslim).
  10. Bidadari-bidadari syurga yang berasal dari keturunan bani Adam akan menjadi ratu para bidadari syurga. Dari ummu Salamah ra, ia berkata,”Saya bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih utama, wanita dunia (yang jadi bidadari) atau bidadari yang bermata jeli (yang diciptakan di syurga)?”. Beliau saw menjawab,”Wanita-wanita dunia yang lebih utama daripada bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang nampak daripada apa yang tidak nampak”. Saya bertanya lagi,”Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”. Beliau menjawab,”Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka karena Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah (sehalus) kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau (beludru), perhiasannya kekuning-kuningan (emas), sanggulnya mutiara, sisirnya dari emas. Mereka berkata,”Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi (baik di dunia maupun di akhirat), kami ridha dan tidak bersungut-sungut (cemburu). Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya”. (HR Tabrani).
  11. Hati mereka menjadi satu antara satu dengan lainnya, yaitu para istri-istri dari keturunan bani Adam dan dari bidadari syurga. Tidak ada rasa cemburu atau permusuhan satu dengan lainnya. “Bagi setiap penghuni surga dua orang istri, terlihat sum-sum betisnya dari balik dagingnya karena indahnya, tidak ada perselisihan diantara mereka serta tidak ada permusuhan (cemburu). Hati-hati mereka hati yang satu, mereka bertasbih kepada Allah pagi  dan petang” (HR Muslim no 2834). Ustadz Firanda, Lc mengatakan,”Oleh karenanya jelas bahwa yang berlaku di dunia tidak sama dengan yang berlaku di akhirat. Jika di dunia poligami menimbulkan kesedihan dan kecemburuan serta permusuhan maka tidaklah demikian tatkala di akhirat. seseorang yang masuk surga tidak akan sedih dan khawatir”. “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka (perselisihan dan kecemburuan); mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan“. – QS 7:43.

Dari uraian di atas, sungguh, ada satu hal yang perlu dipahami bahwa apa-apa yang ada di syurga itu adalah sesuatu yang belum terlihat, terdengar suaranya, terlintas gambarannya dalam hati manusia. “AKU telah mempersiapkan bagi hambaKU apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga dan tidak satu hati manusia yang dapat memahami /dirasakan”.(HR.Ibnu Majah, Ibnu Hibban).

Wahai kaum mukminah muslimah sholihah! bersegeralah kepada seruan Allah menuju apa yang akan diterima kalian di syurganya Allah, yaitu sebagai ratu-ratu para bidadari. Dengan keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah kepada kalian. Jadikan dunia ini sebagai ladang untuk mencapai hal itu, untuk mencapai keridhoanNya. Amin. Wallahu a’lam bis shawwab.

(Goesprie, 4122015)