Kisah-kisah Para Malaikat yang “Kecele

 

Para Malaikat as yang “kecele” ? mengapa? Padahal kita ketahui bahwa para Malaikat as itu diciptakan Allah SwT dari cahaya, memiliki sifat terus menerus beribadah, sujud dan ruku’ kepada kepada Allah tanpa menentang sedikitpun atas perintah yang diperintahkan pada mereka as. “Laa ya’shuunallaha maa amarahum wa yaf’aluuna maa yu’maruun” (QS.66 ayat 6). Ya…mereka pernah “kecele” ketika mereka bertemu dengan hamba-hamba Allah yang memiliki keterikatan dengan Allah sangat tinggi. “Kecele” di sini bukan dalam arti negatif tetapi dalam artian di luar dugaan apa yang ada dan apa yang dimiliki sosok manusia keturunan Adam as ketika mereka mendaapatkan nikmat hidayah dan tauhid yang tinggi. Dalam kasus-kasus apa saja para Malaikat as sempat “kecele”, di bawah ini ada beberapa kisah-kisah tersebut :

  1. Kisah Penciptaan Adam as

Ketika Allah akan menciptakan species makhluk baru yang bernama manusia, Allah SwT memberitakan hal tersebut kepada para penghuni langit, Malaikat as. Kisah ini terekam dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 30 hingga 38. “Dan ingatlah (Wahai Muhammad), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,”Sungguh Aku akan menciptakan manusia sebagai pengelola di muka bumi”. Para malaikat berkata (kepada Allah),”Apakah Engkau akan menciptakan yang akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi ini? Padahal kami selalu taat kepada-Mu dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu”. Allah berfirman,”Wahai malaikat…, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. Itu adalah jawaban pertama dari Allah yang membuat para malaikat as tersadar. Tetapi belum sampai di situ saja, Allah masih ingin menunjukkan kelebihan species baru ciptaan-Nya kepada para malaikat as berupa ketrampilan yang dimiliki manusia. “…lalu firman-Nya (kepada para malaikat),”Wahai malaikat…, sebutkan nama-nama benda ini kepada-Ku, jika dugaan kalian kepada manusia itu benar… . Para malaikat menjawab,”Maha Suci Engkau dari segala kekurangan…, kami tidak mengetahui apapun, kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkau benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Benar dalam memutuskan perkara”. Ya… perkara pengetahuan, ternyata manusia memiliki keunggulan pengetahuan ketimbang dari para malaikat as.

Selesai? Belum selesai. Satu perkara lagi yang diminta Allah. Allah menyuruh seluruh hamba yang ada untuk sujud kepada manusia dalam hal ini Adam as. Dan para malaikat as pun bersujud dalam bentuk penghormatan kedudukan dari Adam as (manusia). “Dan ingatlah (wahai Muhammad), ketika Kami berfirman kepada seluruh segenap malaikat dan jin,”Sujudlah (Berilah penghormatan) kalian kepada Adam”. Para malaikat pun bersujud kecuali iblis dari golongan jin tidak bersujud. Iblis benci kepada Adam as dan bersikap congkak kepada Allah. Iblis termasuk golongan kafir”.

Cukup? Ternyata Allah masih ingin memperlihatkan beberapa skenario kelebihan manusia kepada para malaikat. Saat Adam as dan istrinya tergoda akan godaan iblis la’natullah, dan menyebabkan Adam as terusir dari syurga dan dipindahkan ke bumi. Lalu apa yang terjadi? Adam as (species manusia istimewa ini) justru mendapat beberapa perintah (tauhid) dan diterima perkataan taubatnya oleh Allah Swt. “…Kami berfirman kepada mereka (Adam, istrinya dan iblis),” Wahai Adam, Hawa dan syaitan, turunlah kalian dari syurga ini. Wahai manusia (Adam) dan syaitan, kalian satu sama lainnya menjadi musuh abadi. Kalian akan tinggal di bumi untuk sementara, dan kalian mendapatkan kesenangan di dunia untuk sementara waktu. Adam kemudian menerima beberapa perintah dari Tuhannya, lalu Tuhan menerima taubatnya (Adam as beserta istrinya). Kami berfirman kepada manusia dan syaitan,”Turunlah kalian dari syurga ini. Apabila kelak datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, maka mereka tidak akan merasa takut menghadapi siksa akhirat dan tidak merasa sedih kehilangan kesenangan dunia”. Subhanallah… Allah berikan bekal kepada manusia berupa kalimat Tauhid, kalimat taubat, dan petunjuk dalam mengarungi kehidupan di dunia agar dapat kembali ke syurganya Allah dengan penuh keridhaan-Nya.

 

  1. Kisah Nabi Ayyub as

Nabi Ayyub as berasal dari keturunan Rum putra Ish putra Ishaq as putra Ibrahim as. Ia terkenal dengan serba kekayaannya yang melimpah di zamannya, disamping pula seorang yang sangat taat, sering memuliakan tamu dan banyak sedekah. Hingga sampai pada suatu waktu ia diberi ujian dari Allah atas usulan kedengkian iblis la’natullah yang sempat mendengar pujian para malaikat as terhadap beliau. Seolah dalam prasangka iblis bahwa ketaatan nabi Ayyub as dikarenakan keserba-adaannya. Allah Swt setuju untuk memberi izin kepada iblis mengganggu Ayyub as dengan berbagai musibah sesuai skenario iblis.

Di puncak-puncak ujian berupa musibah multi penderitaan, iblis bergembira dan menyangka akan habislah kisah ketaatan Ayyub as terhadap Tuhannya akibat ulah mereka. Pada saat yang bersamaan para malaikat di langit maupun yang ada di bumi sudah tidak kuat melihat penderitaan yang dialami Ayyub as. Bahkan para malaikat berbaris menawarkan diri untuk meng-amin-kan doa kesembuhan yang sekiranya Ayyub as berdoa bermohon kesembuhan kepada Allah SwT. Tapi Ayyub as hanya berdo’a dengan bahasa sindiran seorang hamba kepada Tuhannya dengan bahasa Tauhid. “Dan ingatlah tentang kisah Ayyub, ketika berdo’a kepada Tuhannya,”Wahai Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit (penyakit yang Engkau izinkan mengenai pada diriku dengan segala bentuk derita yang menyertainya dan aku ridho akan hal tersebut dan Engkau ridho terhadap diriku), dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Belas Kasih“ (QS Al Anbiya 21 ayat 83). Singkat, jelas, padat terkandung makna yang luas sekaligus menjawab tantangan iblis dan menjawab tawaran para malaikat serta sekaligus sebuah rayuan kepada Allah SwT Sang Pemberi Ujian. Nabi Ayyub as langsung merayu Allah dengan pesan singkat (doa)nya tanpa memberi jawaban langsung kepada para malaikat as atas tawaran mereka. Sebuah kekuatan Tauhid yang dapat menghimpun banyak permohonan dalam untaian singkat do’a dan langsung dijawab oleh Allah SwT. Para Malaikat as pun “kecele” dan para syaitan pun meraung-raung guling-guling menangis katot alias kalah total.

Allah menjawab,”Fastajabnaa lahuu fakasyafnaa maa bihi dhurri…”. Maka Kami perkenankan do’a Ayyub lalu Kami sembuhkan Ayyub dari penyakit yang menimpanya…

 

  1. Kisah Nabi Muhammad saw saat di Thaif

Setelah masa sepuluh tahun masa kerasulan nabi Muhammad saw, beliau keluar untuk mencari lahan baru dakwahnya. Maka terpilihlah wilayah Thaif sebagai tempat tujuannya. Thaif merupakan wilayah yang berjarak 60 mil atau lebih kurang 120 km ke arah Tenggara dari kota Makkah. Beliau bersama Zaid bin Haritsah ra berangkat dengan berjalan kaki menuju Thaif dengan harapan bahwa salah satu kabilah yang berpengaruh yaitu bani Tsaqif mau menerima dakwah Rasulullah. Beliau tinggal di sana selama 10 hari, dan selama 10 hari itu pula ternyata tidak satupun dari kabilah-kabilah yang ada termasuk kabilah Tsaqif menerima dakwah beliau. Bahkan beliau diusir dari Thaif dengan segala bentuk kekerasan yang diterima, dan hingga para anak-anak dan budak pun ikut menghina sambil melempari beliau dengan batu.

Dalam keadaan letih dan sedih, baik jasmani maupun rohani, kaki berlumuran darah, Rasulullah menghadap Tuhannya dengan menyampaikan doa untuk menambah keimanan, keyakinan dan keridhoan atas apa yang sedang beliau alami di medan dakwah ilallah. Doa tersebut adalah : “Ya Allah…, kepada-Mu aku mengadu akan kelemahan dan ketidak berdayaanku dalam berhadapan dengan manusia. Wahai Rabb yang Maha Penyayang, Engkau Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah ke jarak yang lebih jauh Engkau arahkan aku? Apakah kepada musuh Engkau serahkan urusanku? Jika Engkau tidak murka, maka aku tidak peduli… . Akan tetapi pengampunan-Mu lebih luas bagiku…, Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, urusan dunia dan akhirat menjadi baik berkat cahaya-Mu, dari murka-Mu dan kemarahan-Mu…. Engkau berhak mencela sampai Engkau ridho. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah“.

Do’a Rasulullah saw menembus hingga langit ke tujuh bahkan ke Arsy nya Allah. Allah mengabulkan permohonan Rasulullah saw dengan mengutus Jibril as yang datang bersama malaikat-malaikat penjaga gunung.  Lalu Jibril as berkata,”Wahai Rasulullah…, maukah engkau jika aku jatuhkan dua gunung kepada mereka? Jika engkau mau maka aku akan lakukan“ . Sebuah tawaran yang ditawarkan Jibril as bersama malaikat penjaga gunung, yang atas perintah Allah untuk memberikan pertolongan kepada Rasulullah saw.

Apa jawaban Rasulullah saw diluar dugaan Jibril as dan malaikat penjaga gunung. Jawaban beliau menunjukkan akhlak, keluhuran dan kasih sayang serta kelembutan hati beliau. Beliau menjawab,”Aku justru berharap kepada Allah akan mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka (penduduk Thaif) generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…”.  Sebuah jawaban yang singkat tapi amat sangat dalam tujuannya dan amat sangat jauh cita-citanya. Jawaban inilah yang membuat malaikat Jibril as dan malaikat penjaga gunung “kecele” walaupun mereka telah diperintah Allah untuk menolong manusia mulia di jagad ini.

 

Wallahu a’lam bis shawwab

(GoesPrie, 07022017)

Advertisements